Now Reading
Ibu Bekerja, Stop Merasa Bersalah!

Ibu Bekerja, Stop Merasa Bersalah!

nenglita

 

IMG_1222-edit

Hadir di saat yang tepat

Mengorbankan jatah cuti yang harusnya bisa dipakai untuk liburan karena harus ambil rapor anak? Memotong durasi business trip karena ada pertemuan orangtua di sekolah anak? Menyerahkan jadwal business trip ke kolega karena si kecil masih ASI eksklusif? Saya pernah melakukan hal tersebut.

Menyesal? Ya nggak lah. Saya memiliki prioritas yang sudah saya tentukan sendiri. Rapor perkembangan anak di sekolah, saya harus hadir. Tidak bisa ditawar-tawar. Pentas seni, saya nggak mau melewatinya. Secara latihannya saja sebulan lebih, dengan kehadiran saya setidaknya saya menunjukkan bahwa saya menghargai latihan-latihannya sebulan kemarin. Mengenai ASI? Ah, ini sudah tidak bisa ditawar, kebetulan dulu bos saya sangat pengertian. Mommies tetap harus business trip padahal masih menyusui? Baca artikel ini.

Pulang kerja, waktunya dengan anak. Tinggalkan handphone di dalam tas atau biarkan mati. Manfaatkan waktu yang mungkin hanya 1-2 jam sebelum si kecil tidur secara maksimal. Email dari klien, Whatsapp Group, dan sebagainya rasanya bisa menunggu, ya. Jadi, yuk letakkan gadget saat di rumah!

Berdamai dengan diri sendiri

Banyaknya tudingan terhadap ibu bekerja, kadang makin membuat kita merasa berasa bersalah, ya? Ketahuilah, anak tidak pernah meminta kita untuk menjadi ibu yang sempurna. Menurut saya, yang anak butuhkan adalah kasih sayang tanpa syarat.

“Saya memisahkan keluarga dan pekerjaan”,  mungkin ada yang berkata seperti itu, kalau saya beda. Baca deh, di halaman berikutnya!

Pages: 1 2 3 4
View Comments (9)
  • Really love this article!! Seperti dapet support lagi! heheh…. makasih nenglita buat artikelnya… Saya sendiri adalah ibu pekerja, dari 2 anak, Abe, 8 tahun kelas 3sd, dan Grace, 4 tahun, masuk TK. Pernah juga merasa bersalah, pas mau berangkat kerja, Grace nangis ga mau ditinggal…. Tapi mau ga mau tetep berangkat kerja sambil merasa bersalah, dan cuma bisa bilang dalam hati,”maafin mama ya nduk….”.
    Pernah..seorang sahabat bilang ke saya,” kamu kan belum pernah ngerasain jadi ibu rumah tangga 24 jam….”, sediiiiih…karena dia membandingkan posisinya sebagai IRT yang bisa mengurus anak,suami selama 24 jam dan saya yg ibu pekerja yang cuma punya waktu bbrp jam aja bersama keluarga. Tapi saya sendiri yakin, tiap orang punya passion-nya sendiri2,punya panggilan hidupnya sendiri2. Dan apapun pekerjaan kita saat ini, selama kita melakukannya dengan segenap hati, pasti deh ada berkahnya. Yang penting gimana kita bisa menghabiskan waktu bersama dengan anak2 kita dengan hal2 yang berkualitas.

    • Nah, itu udah ada jawabannya, yang penting saat kita bersama anak, ya habiskan waktu dengan anak :)

      Setiap manusia ada perannya masing2 kok, kalo memang peran kita sebagai ibu bekerja, ya jalani saja peran tersebut secara maksimal :)

  • saya ibu rumah tangga, bukan pilihan saya. tp krn emang kalo saya bekerja diluar, suami merasa pasti lbh banyak jeleknya drpd manfaatnya..
    tapi ibu saya working mom, dan saya salut sm ibu2 yg bekerja. pulang kerja, capek2 tp msh dikuat2in utk nemenin anak main/belajar. ngurusin makan suami. dsb dsb. apalagi yg punya bayi, msh harus nyusuin atau pumping tengah malem.. salut deh..

  • lit… jangankan ibu bekerja yang full diluar rumah. gw pribadi yang suka sibuk beberes rumah, masak dan nyuekkin anak bentar karena “di depan laptop” pun kadang merasa bersalah saat fokus dengan pekerjaan gw. beneran deh, misalnya saat lagi fokus motong sayuran, anak gw berusaha menarik atensi gw tapi gw “tolak” karena gw sedang fokus masak. dan gw setuju sama lu “yang penting pas ada waktunya sama anak, maksimalkan!”

    semangat ya mommies!!!

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top