Ketakutan Saya Jadi Orangtua (Anak SD)

familytalking*Gambar dari sini

Lumayan berat memang praktiknya. Orangtua harus siap dengan konsekuensi anak makannya sedikit atau lamaaaa kalau nggak disuapi, makanan berantakan, perangkat sekolah ketinggalan, kaos kaki terbalik, tali/kunci sepatu longgar/miring, baju (terutama pergi) nggak matching, dapur berantakan, olesan roti ketebalan atau wadah selai/meises nggak ditutup lagi, dan sederet lainnya. Saya bisa sebutkan seratus lagi. Mau taruhan? :D Tapi semua terbayar saat melihat Dendra (2 tahun) sudah bisa makan potongan pisang sendiri pakai sendok. Darris dan Dellynn (9 dan 7 tahun) sudah bisa masak makanan instan dan telur sendiri. Devan (5 tahun) sudah pakai seragam berkancing dan kaos kaki sendiri. Masih sangat panjang jalan menuju kemandirian. Tapi kalau nggak dimulai sekarang, kapan lagi?

  • Menjaga Komunikasi

Ah, soal ini, sih, sudah sering dibahas di artikel-artikel parenting, ya. Tiap baca saya merasa #jleb karena masih (sangat) sering mata menghadap gadget saat anak mengajak bicara atau bercerita. Pas anak mau cerita saya memelototi gadget; pas saya yang pancing cerita, anak main game atau nonton tv *keluh*. Ya, sudahlah, ya, anggap aja impas :D #mamabengal. Tapi dalam sehari saya pasti usahakan membangun obrolan membahas sesuatu.

Di sini saya terbantu oleh grup chatting ibu-ibu sekolah yang selalu update dan cross check keadaan anak-anak. Seperti kemarin, tiba-tiba Darris minta uang patungan untuk makan-makan usai ujian semester, saya tanyakan pada ibu-ibu lain yang ternyata juga kaget, kok, ada pengumpulan uang tanpa sepengetahuan orangtua. Setelah jelas duduk perkaranya, saya dan Darris jadi bisa berdiskusi enaknya bagaimana.

Pernah juga saat ada tayangan kurang mendidik di televisi, malah saya jadikan bahan diskusi ketimbang melarang anak nonton atau mensterilkan anak dari tontonan. Percaya, deh, mendingan mendampingi anak dan mengobrol tentang tontonan ketimbang tidak menonton sama sekali. Kita bisa melarang nonton di rumah, tapi anak bisa menonton tayangan tersebut di tempat lain, dan tidak ada kita disana menjelaskan tentang tontonan tersebut. Nah, saya tidak mau ini terjadi. Saya memilih menonton bersama anak.

Baru sampai di sini ketakutan saya dengan anak tertua masih akan masuk usia pra-remaja. Mommies yang punya anak sudah remaja atau malah sudah kuliah, kira-kira masih sama atau sudah berbeda, ya, yang dikhawatirkan? Ada yang bisa berbagi cerita?


4 Comments - Write a Comment

  1. Beruntung gue anak kedua, jadi masalah haid bisa nyontek sama kakak gue, hehe. Nyokap juga seinget gue nggak pernah ngenalin tentang ini ya. Tapi lagi-lagi, gue beruntung dulu pas zaman SD pulang sekolah gue ikut sekolah madrasah *hihi* di mana di sana ada kelas pendidikan seks. Jadi nggak buta-buta amat :)

    Dan dengan list elo ini, bikin gue jadi mikir, anak gue bentar lagi SD boook :D

  2. anak gw balita sih mak. tapi udah ngerti emaknya haid, hahahaha… nah, pe er gw supaya dia lebih mandiri. urusan cebok sendiri, masih susah nih. buang air kecil tanpa menanggalkan celana aja dia masih kesulitan *hela nafas…

    tapi, nyokap gw banget deh pas bagian “nonton hal yang ngga baik dan didiskusikan bersama”. he eh, nyokap gw ga pernah melarang anak-anaknya nonton tivi meski ceritanya kadang bikin istighfar. tapi ya gitu, nyokap ikut nonton sambil buka diskusi *jadi kangen nyokap

Post Comment