Dilarang Memperhatikan Piring Orang Lain

Kids*Gambar dari sini

Rasa iri tidak hanya menjadi masalah pada orang dewasa, tapi juga pada anak-anak. Anak-anak juga bisa memiliki rasa iri itu sendiri. Dalam tulisan oleh Sherri Gordon, 5 Ways to Help Kids Overcome Envy and Avoid Bullying, terdapat suatu korelasi antara ENVY dengan BULLYING, di mana dalam beberapa kasus, anak-anak melakukan bully terhadap anak lain karena rasa iri.

Sebagai orangtua, tentunya kita ingin anak kita sehat secara emosional. Kita tentunya tidak ingin anak kita hidup dalam perasaan iri maupun minder atau tidak dapat menghargai pilihan atau hidup dia sendiri.

Sherri Gordon memberikan masukan jika suatu saat kita mendapati bahwa anak kita sedang berjuang dengan rasa iri, meskipun rasa iri merupakan suatu emosi yang normal, namun sebagai orangtua kita bisa mengarahkan menjadi hal yang positif. Cara-cara yang dianjurkan Sherri Gordon adalah sebagai berikut:

1. Stop Comparisons

Membandingkan anak dengan anak lain akan membuat mereka tidak nyaman terhadap diri mereka sendiri. Ingatkan anak bahwa yang dilihat dalam media sosial hanya bagian luarnya saja, bukan seeing the full picture. Dorong anak agar lebih fokus pada hal-hal atau bakat yang dimiliki daripada jengkel terhadap hal-hal yang tidak dia miliki. Tujuannya adalah mengurangi kebutuhan si anak untuk mengukur dirinya berdasarkan kehidupan orang lain, sehingga dia dapat menghargai dirinya sendiri.

2. Cultivate Self-Esteem

Masalah kepercayaan diri kadang menjadi akar rasa iri.  Jika anak kita terlihat rendah diri atau terlalu keras terhadap dirinya sendiri, bisa jadi rasa iri adalah topeng untuk menutupi kekurangan rasa percaya diri anak. Untuk memotivasi anak, sebagai orangtua kita dapat menunjukkan bahwa kita percaya atas kemampuan sang anak dan kasih sayang kita akan membentuk rasa percaya diri anak.

Anak yang percaya diri tidak akan terlalu terganggu terhadap apa yang dilakukan orang lain karena mereka merasa tidak terancam terhadap kesuksesan orang lain maupun tidak mengurangi niat mereka untuk dapat berprestasi juga.

3. Take Positive Steps

Sebagai orangtua, jika kita mengetahui anak kita sedang jengkel atau sedih atas apa yang tidak dia dapatkan atau peroleh, maka kita bisa mendorong anak kita untuk berfokus kepada hal-hal yang positif. Yang terpenting jangan sampai rasa iri menguasai anak. Di saat dia merasakan sedih atau kehilangan, sebagai orangtua kita dapat mengarahkan anak untuk cepat “move on”.

4. Teach Gratitude

Salah cara untuk mengurangi rasa iri adalah mengajarkan untuk bersyukur.

Iri menyebabkan orang berfokus kepada apa yang tidak dimilikinya. Jika sebagai orangtua kita dapat mendorong anak untuk berfokus kepada apa yang dimilikinya daripada yang tidak dimilikinya, maka dia akan lebih cepat megatasi rasa irinya lebih cepat.

5. Celebrate Hard Work

Pada dasarnya rasa iri adalah kebutuhan untuk menjadi sempurna. Jika anak mulai merasakan bahwa dirinya tidak sebanding dengan teman-temannya atau merasa harus menjadi yang terbaik, maka kita harus membantunya untuk menyesuaikan prioritasnya.

Dorong anak kita untuk mengerti pentingnya dari kerja keras, ketekunan dan bertahan. Yakinkan anak bahwa sikap, etos kerja dan karakter adalah jauh lebih baik daripada hanye menjadi yang terbaik. Jangan lupa sebagai orang tua kita perlu menghargai kerja keras anak baik ketika dia menang maupun kalah.

Selanjutnya: Si Piring dan Mengolah Rasa Iri


7 Comments - Write a Comment

  1. Bagus banget! belum ada nih yang bahas social media envy. mau alam sadar kita bilang gak bakal iri, pengen, dll, tapi tetep alam bawah sadar kita merasa seperti itu. salah satu alasan juga kenapa saya ga lagi buka facebook, selain emang gak suka kepo, and they’re just….TMI!

  2. Thanks @ketupatkartini, gue juga sengaja dapat hasil penelitiannya pas lagi mencari ttg Envy dan anak-anak.
    Toss lah, FB pun jarang gue tengok. But I must admit, dari tujuan ber-FB utk menjaga tali silahturahmi dg teman2x sekolah, pernah ada suatu masa gue rela membuka int’l roaming HP gue demi updates keberadaan (liburan) gue. I threw TMI to my friends and it must be annoying kali ya :).

  3. Haha, iya banget nih Tyas!
    Walaupun nggak keluar suaranya, tapi dalam hati pasti ada ngebatin “Ih, enak banget hidupnya jalan-jalan mulu” atau “ya ampun, beli tas lagi? Asik banget..”, eh kalo dalam hati kadang suka lebih dari itu sih, hahaha!

  4. Artikelnya bagus sekaliii :-)
    Saya sebenarnya belum jadi mommy, tapi tertarik baca artikel ini ketika lagi browsing forum fd.
    Baca artikel ini serasa ditampar. Saya cukup sering merasa bete dan down setiap kali melihat update teman-teman di sosial media (misalnya instagram). Rasanya iri sekali melihat mereka bisa liburan atau jalan-jalan ke tempat-tempat yang saya belum bisa datangi. Atau ketika mereka posting foto-foto barang-barang lucu yang saya suka banget tp belum bisa saya dapatkan. Lama-lama saya capek sendiri, rasanya seperti menumpuk negative energy dlm diri saya gara-gara iri. Akhirnya one time saya menghapus search history instagram2 beauty blogger yg biasanya suka saya kepoin (hehehehe :p) gara-gara koleksi makeupnya lucu-lucu dan kemudian sign out selama beberapa waktu. hasilnya, I feel so much better. Terdengar lebay ya, tp beneran deh.

    Maaf jadi curhat panjang hehe, I’ll bookmark this article as a self-reminder.

    1. Hai @annisawp, hasil penelitian dg mahasiswa Jerman pun sama, banyak yang merasa terbebani dengan membaca status orang di socmed. Kalau gue pribadi, lebih baik gue matikan notifikasi otomatis dari account socmed gue, baik Path, Twitter, IG atau FB, dan hanya gue tengok di kala memang ada waktu luang dan lagi gak bete.
      Thanks ya @annisawp sudah melipir ke sini :).

Post Comment