Dilarang Memperhatikan Piring Orang Lain

socmed-plate*Gambar dari sini

Jika saat ini diandaikan media sosial sebagai sebuah piring makanan, yang dapat dilihat siapa saja, maka sama halnya ketika kita berada di suatu tempat makan baru di mana kita bingung mau makan apa maka secara tidak sadar kita juga akan menyontek santapan pengunjung lain.

Sama seperti halnya dengan dampak adanya media sosial, jika mendapat informasi yang bagus maka kita akan mengikuti apa yang dilakukan dalam status friends atau isi akun media sosial yang kita ikuti, apalagi kalau kita dalam posisi keuangan, sosial dan situasi yang sama dengan orang yang kita ikuti.

“Eh kayaknya si Mawar habis liburan ke Paris Disneyland tuh, sama anak-anaknya. Asik nie Yah, tahun depan habis bonus kita ajak anak-anak yuk.”

“Si Dahlia kemarin habis bawa anaknya ke dokter  di rumah sakit XXX, katanya di sana RUM dan pro ASI. Besok vaksinasi si Adik di sana saja ah.”

Namun jika kita berada dalam posisi yang berbeda jauh dengan teman tersebut yang timbul adalah rasa ENVY, keinginan untuk menjadi seperti orang yang kita lihat.

Envy: the feeling of wanting to have what someone else has (Merriam-Webster).

Setiap hari kita terekspos oleh status-status media sosial baik teman atau selebriti yang sekarang bertebaran. Jangankan media social, saat ini mau LINE, Whatsapp bahkan BBM saja bisa berstatus.

Ada satu penelitian yang saya dapatkan dari Parenting.com dalam artikel Do You Ever Experience ‘Facebook Envy’? disebutkan bahwa dalam penelitian tersebut terkait dengan Envy on Facebook: A Hidden Threat to Users’ Life Satisfaction?, sekitar 36,9% responden yang terdiri dari mahasiwa Jerman menyebutkan bahwa mereka mendapatkan perasaan negatif setelah membuka Facebook, dalam hal ini termasuk perasaan Envy (1,2%), meskipun 43,8% responden mendapatkan perasaan positif antara lain merasa terhibur ataupun mendapatkan informasi yang tepat.

 ‘Facebook Envy’ is another affliction that can be caused by constant exposure to the numerous status updates about grand vacations, stellar jobs and perfect children. 

Dalam penelitian tersebut ternyata memang terdapat suatu korelasi antara Social Networking Sites (SNSs) dengan life satisfaction. Para peneliti menyebutkan bahwa constant comparison that people tend to do when scrolling through all these status updates can lead to feelings of envy and dissatisfaction with their own lives. Intensity of passive following is likely to reduce users’ life satisfaction in the long-run, as it triggers upward social comparison and invidious emotions.

Setelah membaca tulisan di atas, saya mengakui memang awal tahun ini termasuk tahun terberat bagi saya untuk memandangi status sosial teman-teman yang sedang berlibur ke luar negeri sedangkan saat bersamaan saya sedang mengetatkan pengeluaran saya setelah awal tahun ini membayar biaya pendidikan Lil’Miss Koala yang tahun ini akan masuk Sekolah Dasar. Padahal sih kalau mau dihitung dari jumlah yang dikeluarkan, mungkin biaya masuk sekolah dasar bisa lebih daripada dana buat liburan tapi ya rasanya sepertinya: “Kok mereka hidupnya enak banget ya, gak perlu mikir apa-apa sudah bisa liburan”. Padahal belum tentu dalam dunia nyata kehidupan teman-teman saya seperti itu.

Dalam tulisan di TODAY Mom, ‘Pinterest Stress’ Afflicts Nearly Half of Moms, Survey Says menyebutkan bahwa dengan terus-terusan berhadapan dengan media sosial maka “It tricks you into thinking that everyone is baking their own bread,” dan pada akhirnya “we have a hard time enjoying our own experiences because we feel it’s not worthy of this invisible judge. It’s so easy to get depressed. You start to feel like your entire life has to be like a magazine all the time.” 

Selanjutnya: Iri dan Anak-Anak >>


7 Comments - Write a Comment

  1. Bagus banget! belum ada nih yang bahas social media envy. mau alam sadar kita bilang gak bakal iri, pengen, dll, tapi tetep alam bawah sadar kita merasa seperti itu. salah satu alasan juga kenapa saya ga lagi buka facebook, selain emang gak suka kepo, and they’re just….TMI!

  2. Thanks @ketupatkartini, gue juga sengaja dapat hasil penelitiannya pas lagi mencari ttg Envy dan anak-anak.
    Toss lah, FB pun jarang gue tengok. But I must admit, dari tujuan ber-FB utk menjaga tali silahturahmi dg teman2x sekolah, pernah ada suatu masa gue rela membuka int’l roaming HP gue demi updates keberadaan (liburan) gue. I threw TMI to my friends and it must be annoying kali ya :).

  3. Haha, iya banget nih Tyas!
    Walaupun nggak keluar suaranya, tapi dalam hati pasti ada ngebatin “Ih, enak banget hidupnya jalan-jalan mulu” atau “ya ampun, beli tas lagi? Asik banget..”, eh kalo dalam hati kadang suka lebih dari itu sih, hahaha!

  4. Artikelnya bagus sekaliii :-)
    Saya sebenarnya belum jadi mommy, tapi tertarik baca artikel ini ketika lagi browsing forum fd.
    Baca artikel ini serasa ditampar. Saya cukup sering merasa bete dan down setiap kali melihat update teman-teman di sosial media (misalnya instagram). Rasanya iri sekali melihat mereka bisa liburan atau jalan-jalan ke tempat-tempat yang saya belum bisa datangi. Atau ketika mereka posting foto-foto barang-barang lucu yang saya suka banget tp belum bisa saya dapatkan. Lama-lama saya capek sendiri, rasanya seperti menumpuk negative energy dlm diri saya gara-gara iri. Akhirnya one time saya menghapus search history instagram2 beauty blogger yg biasanya suka saya kepoin (hehehehe :p) gara-gara koleksi makeupnya lucu-lucu dan kemudian sign out selama beberapa waktu. hasilnya, I feel so much better. Terdengar lebay ya, tp beneran deh.

    Maaf jadi curhat panjang hehe, I’ll bookmark this article as a self-reminder.

    1. Hai @annisawp, hasil penelitian dg mahasiswa Jerman pun sama, banyak yang merasa terbebani dengan membaca status orang di socmed. Kalau gue pribadi, lebih baik gue matikan notifikasi otomatis dari account socmed gue, baik Path, Twitter, IG atau FB, dan hanya gue tengok di kala memang ada waktu luang dan lagi gak bete.
      Thanks ya @annisawp sudah melipir ke sini :).

Post Comment