Motherhood Monday: Laila Munaf, Antara Sana Studio Dan Keluarga

Yummy Mommies

nenglita・14 Apr 2014

detail-thumb

Ada Mommies yang pernah mencoba olahraga di Sana Studio? Lebih dari setahun yang lalu, Sana Studio terkenal dengan Zumba-nya. Pemilik Sana Studio, Laila Munaf, memang salah satu orang yang memperkenalkan Zumba di Jakarta. Awalnya, Laila mengenal Zumba secara tidak sengaja saat ia masih tinggal di Amerika. Bahkan, saat ia pulang ke Jakarta pun, belum ada pikiran bahwa Zumba bisa jadi mata pencariannya!

Suatu sore itu, saya bertandang ke Sana Studio untuk ngobrol-ngobrol dengan Laila. Seru banget deh, dengar cerita Laila!

"Iya, jadi pas balik ke Indonesia, aku nggak ada uang sama sekali. Lalu dikasih 500 ribu sama mama, buat apaan ya? Sedangkan teman-temanku di sini sering ajak ketemuan, ngopi atau apa. Sekali ketemu aja udah berapa tuh. Dari situ aku pikir, “Maybe I should start introduce Zumba”.

Jadi, mulainya karena butuh uang ya...?

I need money to produce my batik kan.. Eh ternyata yang awalnya hanya untuk tabungan, it became so big in Jakarta. Awalnya hanya dari teman-teman aja.. semua aku telepon mereka, “loe mau coba zumba nggak, gratis deh!”. I'm not good with girls, aku suka kikuk sama perempuan, i'm not a girly girl. Pemikiranku stereotip perempuan Jakarta rambutnya perfect, tasnya apa.. karena those are the girls i met in Boston. Pas privat baru aku tau cerita dan berbagai tipe perempuan. Aku ketemu banyak orang dengan ceritanya sendiri. Alhamdulillah lewat Zumba aku bisa menyentuh hidup mereka. Aku jadi menomorduakan batik dan mulai fokus Zumba dan aku mulai ngambil banyak training lagi supaya ilmuku makin banyak..

Lalu, mulai membangun Sana kapan?

Bangun Sana karena mulai banyak permintaannya. Awalnya aku ngojek ke mana-mana, karena traffic Jakarta. Ketauan mamaku, dia marah takut aku kenapa-kenapa. Aku dibeliin mobil, yang mana itu bukan solusi yang tepat juga. Aku harus keluar uang beli bensin, dan sopir. I'm not a good driver, berapa puluh tahun nggak nyetir mobil sama sekali gitu... selama di Amerika juga nggak pernah punya mobil kan.

Jadi pada saat itu aku pikir i need to find a place. Aku mulai sewa studio di Sungai Sambas.  Studio kecil, I start having regular classes. Ya itu dia, di sini maunya serba convenient, “Wah terlalu jauh dari rumahku” atau “aduh macet...” Aku sempat kecil hati.. nobody wanna come..!

Abis itu aku ketemu suami, yang sama kakaknya arsitek. They were looking an office. This is the space they need, kecil sekali. Dia bilang, kamu mau nggak dibukain studio, ada nggak ada murid kan nggak harus sewa studio. Aku mau. Ini lebih besar dari yang aku sewa sebelumnya. Aku nggak pernah ngeh bahwa suamiku dan kakaknya ini cukup gaul. Jadi sebenernya 1 manusia itu adalah head of marketing ya. Dari aku sendiri ngajak ke mana-mana paling 6 orang maksimal.

Lalu kami cari nama, terus awalnya cuma aku sendiri yang ngajar. Lalu ada Purry dan Mbak Dewi juga ngambil sertifikasi, terus aku tanya, “Mau nggak kita tes-tes aja, aku ngajar hari apa, kalian ngajar hari apa.” Ada murid, Alhamdulillah, nggak ada ya jangan kecil hati. Di-blast lah sama suami dan kakak iparku. The firts week, itu rame banget! Aku bertanya-tanya, what happen when i ..? Kok pas gue yang nyebarin sepi? Hahaha...

Terus aku nanya-nanya caranya gimana. Aku mulai pelajari dari mereka wording-nya gimana. When I first com, kayanya too America. Terlalu saklek, to the point, nggak ada basa basinya. Belajar pelan-pelan, mulai rame. Nambah instruktur, we are so lucky, sebelahnya Sana juga tempat yang hits.

Selama setahun cuma ada Zumba dan Muay Thai, yang terakhir ini susah ya. Karena banyak saingan yang lebih serius. Awalnya hanya Zumba terus, makin berkembang, makin banyak yang datang di luar dari our circle. Nggak tau siapa, datang hanya penasaran kok dari dalam sini ada suara-suara, ini mulai berkembang di tahun ke-2.

Lalu kami memutuskan nambah atas.

Kalau dari cerita kayanya mulus-mulus aja, pernah ada momen yang bikin down?

Alhamdulillah so far nggak, mungkin cuma challenge-nya what else can we offer. Karena ternyata banyak yang mau hidup sehat. Jadi dari awal,  "Yang penting gue dapet uang buat ngopi", tiba-tiba kok mesti ada business plan, hahaha.. yang dateng ke sini mereka punya masalah atau tujuan masing-masing. Nah, it became my challenge. Apalagi aku background-nya bukan trainer atau nutritionist, aku nggak pernah diet seumur hidupku, terus emang sekeluarga kurus. Paling PR-ku, i need to read alot, i ask question ke orang-orang yang punya ilmunya, at least bisa jawab pertanyaan-pertanyaan yang datang. Dan surprisingly, mungkin karena tempatnya apa ya, tertutup, jadi mereka merasa kaya di rumah, nyaman. Yang dari awal sudah ke sini, malah jadi temenan. We became a family...

Jadi bukan ajang “gue check in di Sana Studio”, tapi memang concern sama kesehatan..udah ngomongin BMI, latihan seperti apa, dan seterusnya.

Kaya misalnya, aku punya masalah cepat sekali berat badannya turun. Nah, ketika aku mengajar di kelas, mereka mikirnya my body is the ideal body. Jadi aku harus mengingatkan terus menerus bahwa aku juga punya masalah, aku juga punya goal untuk tubuh aku sendiri.

Ke depannya ada rencana apa buat Sana Studio?

Goal-nya mau buka cabang baru.

Atau karena memang punya rumah sendiri saja susah, hahaha! Kami ingin thanks to our member, bikin Sana Talk. Bukan seminar, tapi ngobrol aja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan ke aku. Aku cari narasumber yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka itu. Pokoknya bikin mereka nyaman asking what the wanna ask, sharing what the wanna share. Nggak hanya, "You pay, you do the exercise and you look good". Tapi kita ingin share pengetahuan juga yang mungkin selama ini awam nggak tau tentang tubuh kita.

Setahun yang lalu, Laila pernah mengajar zumba di female Daily HQ. Saat itu ia lagi hamil 4 bulan! Ada bedanya nggak sih, zumba sebelum dan setelah punya anak? Lihat di halaman berikutnya!

Selanjutnya: Kehamilannya pernah gawat darurat karena mengajar Zumba saat hamil >>

Setelah punya anak yang pasti tenaganya setelah punya anak ini  nggak habis-habis. Sebelum ada Alvaro, aku setiap hari ada di studio. Kalau sekarang jatuhnya di sini cuma pas ngajar aja. Sisanya aku di rumah sama anak, nggak mau ketinggalan momen sama anak.

Kalo pas aku ngajar anak dititip ke mama atau ke mertua. Alvaro paling lama aku tinggal 2-3 jam. Weekend, biasanya kami yang jaga studio, jadi anak pasti aku ajak. Aku suka sih, jadi dia familiar sama tempat ini.

Nah, di kantor ini kan share tempat sama suami. Ketemu sepanjang hari, dong?

Untungnya suamiku lebih banyak di lapangan, haha!

Aku cukup senang ketemu suami, karena kalau di rumah dia nggak diperhatiin aku fokus sama anak. Makanya kalau lagi di kantor waktu ngobrolnya malah lebih banyak.

Berangkat ngantor sama-sama, abis itu suamiku ke proyek deh!

Salah satu bentuk dukungan suami apalagi sih selain menyediakan space di sini?

Saat aku hamil, aku kekeuh ngajar. Hari Sabtu aku ngajar di Female Daily, Minggu, Senin, Selasa aku ngajar berturut-turut. Jumatnya tumbang. Bangun tidur aku ngompol, padahal aku masih 4 bulan hamilnya. Padahal aku nggak mimpi ke kamar mandi! haha! Aku bangunin suamiku, “I think my water broke”. Katanya nggak mungkin, kan baru 4 bulan. Akhirnya telepon dokter. Bapak mertuaku obgyn, tapi saat itu lagi tindakan, jadi nggak bisa tanya.

Zumba di Female Daily HQ bulan Juli 2012, saat Laila sedang hamil 4 bulan

Setelah kejadian itu, aku ditegur, “See I told you!”. Aku sempat khawatir, nanti habis melahirkan nggak boleh ngajar, banyak aturan. Ternyata abis melahirkan, belum 40 hari aku mulai olahraga, ikut kelas-kelas. Mertuaku juga nggak melarang ini itu, cukup mengerti bahwa aku nggak seperti itu. “Terserah Laila, kalau memang badannya kuat, but this time listen to your body”.

Nah, yang aku tumbang pas hamil, aku cuek. Padahal udah merasa nggak enak badan, tapi anggapnya biasa aja. Setelah melahirkan 30 hari, suami support. I dont want you to feel unhappy hanya ngurus anak melulu. Malah aku yang merasa, “Aku nggak  mau pisah dari anak". I wanna be with him all the time. Makanya dia sempat jadi anak mamah banget, hahaha, sekarang juga masih sih! Tapi kata suami, you need to leave him with somebody else. Jadi nggak tergantung sama aku.  You need to have me time, olahraga. Aku bukan orang yang nyalon atau shopping. Cek ke dokter katanya boleh ngajar lagi, ya udah, oke.

Apalagi aku kan dulu nikah nggak langsung hamil, kata orang olahraganya gitu, sih, you shake too much, haha! Jadinya nggak hamil-hamil, segala macam deh!

Untung suami tipe yang kalau dikasih, ya, dikasih aja. Kan ada orang yang olahraga lebih heboh, tapi baik-baik aja. Mungkin itu teguran aja aku kurang hati-hati.

So support-nya adalah, tidak ada larangan. Terserah aku, haha..

Selanjutnya: Laila bicara mengenai Zumba dan Menyusui >>

Sampai sekarang masih menyusui, sementara banyak yang ragu-ragu ibu menyusui emang boleh olahraga?

Kalau aku, karena olahraga bikin aku senang, nggak tau ada hubungannya apa nggak. Setiap abis olahraga, ASI aku deras banget! Bahkan setiap mau olahraga, aku masih bengkak banget lho, kalau anakku nggak minum banyak!

Aku nggak mompa, karena anakku  nggak suka. Jadi problemku malah banjir nih, ASI-nya. Banyak yang bilang, nanti ASI kurang kalau olahraga. Kan aku juga ngetes, olahraga ngaruh apa nggak ke ASI, ternyata nggak. Pernah aku sakit, seminggu nggak olahraga, ASI-ku berkurang.

Salah satu instruktur kita, Mbak Dewi, cukup aktif di AIMI juga bilang, “Nggak ada hubungannya olahraga dengan produksi ASI”. Malah mungkin saat berolahraga your whole body happy, malah jadi ASInya deras.

Terus ada juga yang melontarkan ucapan, "Ah sudah ibu-ibu nggak ada waktu buat olahraga", menurut Laila gimana?

Aku suka amaze banget sama ibu-ibu, di sini banyak lho ibu-ibu yang anak 3 dan tinggalnya di rumah. Kalo aku kan di apartemen, jadi nggak berat. Amaze karena mereka menemukan waktu untuk berolahraga. Kebanyakan anaknya sudah sekolah, jadi mereka antar anak sekolah, terus ke sini deh, me time. Untuk yang anaknya masih kecil, kadang bawa mbaknya ke sini. Hanya sejam, kan. Walau nggak konsen, tapi buat aku udah niatnya, bagus. Goal-nya bukan short term yaitu wants to be skinny.

My longterm goal, semoga orang lain melihat, if you are healthy, kita bakal mengurangi beban anak-anak dan keluarga. Mamaku sempat sakit, pre cancer rahim. Ini bikin kami berdua stres, mamaku kan single parent jadi all i had is her. Bayangin kalo sampe terjadi sama mamaku, aku gimana? Nah, aku nggak mau anakku merasakan apa yang pernah aku rasakan. Dan banyak juga di sini orangtua udah nggak ada, mungkin orangtuanya baru 50-60, kebanyakan karena pola makan sesuka hati.

Tak lama Alvaro menghampiri dan ternyata Laila lupa mengganti popok sekali pakainya! Suami Laila, Arka Narendra, langsung menggendong Alvaro dan menggantikan popoknya..

This is another support. Bahkan yang mandiin Varo pertama kali ya suamiku. Aku takut anaknya kelelep! Aku maunya pas udah 3 bulan aja, hahaha! Memang pas aku coba mandiin, kok ya susah balikin badannya, sampe keminum segala!

Ke ibu-ibu ini, aku sering mengingatkan, inget ya, goalnya yang jauh, bukan sekedar you look good. Pengin mengubahnya, you look good because you feel good, bukan you feel good because you look good. Aku juga kan dari dulu ngerasain lurus aja badannya nggak curve sama sekali. Terus setiap kali ketemu orang, “Kurus  banget sih”, sebel lho! Itu sama aja kaya ke orang gemuk, “Kok gemuk banget sih?”. Bahkan aku sampai dibilang anoreksia sama teman-teman SMA di Boston.

Semenjak aku nikah, concern-nya istri-istri, “Aku harus look good, takut suami ina itu”. Di sini jadi sekalian tempat curhat. At the end, mereka butuh kaya assurance bahwa you ok, as long as u healthy u are fine. Memang kalau yang udah ibu-ibu, suka, “Yaa... belum punya anak, jadi masih kencang perutnya”, hahaha! Biarin aja, yang penting kan ibu-ibu tapi sehat.

Setelah berjalannya waktu, kita mulai ngerti bukan sarana olahraga tapi as a friend. Mungkin jadinya kita a stranger, tapi yang bikin mereka nyaman cerita. I am blessed, that you guys comfortable telling your story. Walaupun aku belum ngalamin hal itu, tapi bisa jadi pelajaran buat aku juga.

Kaya waktu aku habis melahirkan, suami dilupakan, fokus ke anak. Melihat suami juga males, nggak ada mesra-mesranya. Nah, dulu pernah ada yang yang dateng dan bilang, “Mungkin dengan zumba aku bisa feel sexy ke suami”. Terjadilah sama aku, habis melahirkan, suami berangkat sampe pulang, bentuk aku masih sama. Hahaha!

Aku pelan-pelan, masih belajar, ini real issue, hubungan sama suami setelah punya anak itu ada beneran! Kalo dulu kan anggapnya, masa sih? Eh, sekarang ngalamin juga!

---

Wah, seru banget ngobrol sama Laila. Kalau nggak diputus sama Alvaro yang ngantuk, pasti masih lanjut. Thanks for sharing your story, Laila! Dan setuju banget, isu hubungan dengan pasangan setelah menikah itu real banget! Yuk, baca kategori sex and relationship supaya kita nggak hanya fokus sama anak, tapi ada hubungan dengan suami juga yang sangat butuh diperhatikan :)