Usia dan Tingkat Kesuburan Seseorang

Featured

Mommies Daily・04 Mar 2014

detail-thumb

Memiliki seorang anak adalah hal yang paling diinginkan bagi semua pasangan yang telah menikah, namun biasanya hal tersebut belum tentu sesuai dengan keinginan. Ada beberapa pasangan yang dengan mudahnya setelah menikah dapat memiliki momongan, tapi ada juga pasangan yang sudah bertahun-tahun belum juga dikaruniai anak.

Ada kemungkinan Ibu dan pasangan mengalami masalah kesuburan jika dalam waktu 1 tahun belum memiliki anak. Mempunyai masalah dengan kesuburan bukan berarti Ibu tidak bisa sama sekali memiliki anak. Anda bisa, tetapi biasanya prosesnya tidak sebentar.

Usia memang merupakan faktor penting jika Ibu dan pasangan memutuskan untuk melakukan tes kesuburan  dan pengobatannya. Karena seorang wanita pada usia 35 tahun memiliki risiko menurunnya kesuburan. Dan, jika Ibu berumur kurang dari 35 akan memiliki banyak waktu untuk dapat hamil. Selain usia, faktor berat badan, kesehatan dan gaya hidup juga dapat memengaruhi kesuburan seseorang.

Yang biasanya menjadi penyebab dalam masalah kesuburan ini bisa dibilang 50% disebabkan oleh sistem reproduksi wanita. Hal ini kemungkinan ada masalah dengan saluran telur atau tuba pallofi dalam melepaskan sel telur (ovulasi).

Sekitar 35% disebabkan oleh masalah dengan sistem reproduksi pria yang paling umum adalah jumlah sperma yang rendah. Dan pada sekitar 10% penyebab tidak dapat diketahui meskipun dilakukan pengujian. Sedangkan 5% pengujian disebabkan oleh masalah yang umum. Untuk hal ini lebih baik Ibu dan pasangan melakukan pengujian kesuburan untuk mengetahui lebih lanjut penyebab belum dikaruniainya si kecil dalam keluarga.

Sebelum dokter melakukan tes kesuburan akan ada beberapa pertanyaan tentang riwayat kesehatan Ibu dan pasangan. Mulai dari riwayat keguguran sampai penyakit radang panggul yang pernah dialami. Beritahukan juga tentang gaya hidup Ibu dan pasangan, seperti makanan sampai kebiasaan olahraga atau tidak.

Setelah itu barulah dokter melakukan tes kesuburan dengan mengambil sampel sperma dan cek ovulasi. Berbagai macam perawatan biasanya tersedia, tergantung apa penyebab masalah kesuburan Ibu dan pasangan.

Ibu bisa mengonsumsi obat yang dapat membantu untuk ovulasi (atas resep dokter), bisa dengan inseminasi (menempatkan sperma langsung di dalam saluran reproduksi wanita. Pasangan Ibu juga bisa melakukan beberapa prosedur untuk bisa meningkatkan jumlah sperma pasangan.

Selain itu dokter juga bisa menyarankan untuk melakukan amniosentesis atau villus chorionic sampling (yang lebih dikenal dengan CVS, di mana sel-sel dari plasenta yang diuji untuk mencari kelainan tanda-tanda genetik).

Pengobatan untuk kesuburan ini biasanya tidak murah, jadi Ibu dan pasangan harus mencari tahu berapa jumlah biaya untuk perawatan dan apakah asuransi Ibu akan menutupi biaya tersebut.

Masalah kesuburan ini memang menjadi masalah yang sangat penting dan bisa menimbulkan ketegangan antara Ibu dan pasangan. Berbagai cara bisa dilakukan dalam usaha untuk memiliki si kecil, jika belum beruntung dalam memiliki anak Ibu dan pasangan harus tetap yakin dan berusaha.

Sumber:

http://www.everydayhealth.com/health-center/fertility-problems.aspx

http://www.everydayhealth.com/pregnancy/ask-heidi/getting-pregnant/fertility.aspx

http://www.whattoexpect.com/preconception/ask-heidi/fertility-and-older-women.aspx