Now Reading
Penggunaan Skincare dan Kosmetik Saat Hamil

Penggunaan Skincare dan Kosmetik Saat Hamil

 

Keberadaan senyawa-senyawa tersebut dalam skincare memang kontroversial, dalam artian ada yang pro, tapi ada pula yang kontra. Bagi yang pro, senyawa-senyawa tersebut bisa digunakan karena FDA (dan/atau otoritas pengawas obat dan makanan lainnya) tidak mengategorikannya sebagai bahan berbahaya, dan telah digunakan dalam jangka waktu yang panjang tanpa ada laporan efek samping terhadap janin. Bagi yang kontra, dasarnya adalah adanya beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa senyawa tersebut berbahaya (walaupun kemudian penelitian-penelitian tersebut dianggap tidak komprehensif, sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk mengambil tindakan pelarangan penggunaannya oleh otoritas pengawas obat dan makanan).

Khusus untuk senyawa-senyawa ftalat, hasil penelitian yang yang dipublikasikan akhir tahun lalu ini menarik untuk disimak. Penelitian tersebut membandingkan kadar metabolit ftalat pada urin ibu yang melahirkan bayi cukup umur dengan ibu yang melahirkan bayi prematur. Ternyata, kadar metabolit ftalat pada urin ibu yang melahirkan bayi prematur lebih tinggi dibandingkan kelompok yang melahirkan bayi cukup umur. Para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa akumulasi ftalat pada ibu hamil meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Pihak yang kontra terhadap penggunaan komponen skincare dan kosmetik yang masuk golongan ini seringkali menyarankan penggunaan bahan-bahan organik sebagai penggantinya. Bila kita memang percaya terhadap manfaat produk organik, tidak ada salahnya dicoba. Tapi, ibu hamil dengan flek hitam  akibat perubahan hormonal saat hamil (melasma, mask of pregnancy) harus menghindari penggunaan produk skincare yang mengandung ekstrak kedelai. Senyawa fitoestrogen yang terkandung dalam kedelai dilaporkan malah memperparah kondisi flek hitam tersebut.

Yang kedua, cara penggunaan. Prinsipnya, semakin banyak suatu senyawa yang masuk ke darah ibu hamil dan menyeberang ke janin via plasenta, maka efek yang ditimbulkan akan lebih hebat juga. Secara umum, penggunaan topikal (dioleskan pada kulit) akan menghantarkan lebih sedikit bahan aktif ke dalam darah dibandingkan penggunaan oral (diminum).  Misalnya, efek birth defect yang parah dari  retinoid sejauh ini dilaporkan ditemukan hanya pada ibu hamil yang menggunakannya secara oral. Perlu dipahami bahwa retinoid adalah turunan vitamin A, maka ibu hamil perlu menghindari konsumsi vitamin A dosis tinggi.

Sebenarnya, bahan skincare dan kosmetik yang jelas-jelas telah dinyatakan berbahaya dan sebaiknya dihindari oleh ibu hamil oleh otoritas pengawas obat dan makanan itu hanya ada 4, yaitu retinoid, asam salisilat, benzoil peroksida dan hidrokuinon. Tapi, pilihan menjadi sulit ketika bahan-bahan tersebut saat ini sedang naik daun dan digunakan secara luas dalam banyak produk skincare. Hampir semua produk anti aging mengandung turunan retinoid, seperti halnya hampir semua produk facial wash yang menawarkan khasiat mild peeling dan/atau mencerahkan kulit mengandung asam salisilat. Terus, bagaimana?

Selalu ada pilihan, tentu saja. Minyak nabati seperti minyak zaitun dan minyak kelapa adalah alternatif pelembap yang banyak disarankan. Produk pembersih yang mengandung asam glikolat (atau lazim disebut AHA, alpha hydroxy acid), produk pelembap yang mengandung asam hyaluronat, produk sunscreen yang mengandung sunscreen fisik seperti titanium dioksida atau zink oksida juga aman digunakan. Untuk kosmetik, semua produk kosmetik mineral ditengarai aman untuk ibu hamil.

Semoga tidak bingung lagi, ya, ibu-ibu.

Pages: 1 2
View Comments (13)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top