Motherhood Monday: Marieska Widhiana,"Tiap Orang Punya Peran."

#MommiesWorkingIt

kirana21・09 Dec 2013

detail-thumb

Ada Mommies yang belum pernah coba kecap Bango? Atau malah fanatik dengan merek tersebut? :D Ini dia orang di balik kecap dengan kemasan hijau tersebut, Marieska Widhiana, Senior Brand Manager Bango. Mbak Marieska ini lulusan Food Technology, jadi tentunya paham banget tentang pemrosesan dan bahan makanan. Beliau juga ibu dari tiga anak: Aza Ali Thalib (9 tahun), Arvand Ali Thalib (6 tahun). dan Alric Ali Thalib 2.5 tahun. Bagaimana cara beliau melakoni peran sebagai ibu bekerja dan kiat membentuk anak supaya mandiri?

Halo, Mbak, mau ngobrol, nih, soal ibu yang bekerja. Sebagai ibu bekerja, anak-anak 'komplain' nggak kalau ditinggal bekerja?

Nggak, sih, ya. Apalagi sekarang sudah sekolah semua, termasuk si bungsu di playgroup, jadi lebih gampang bagi saya untuk menerangkan kepada mereka kenapa Mama perlu bekerja.

Bagaimana kasih pengertiannya?

Saya tekankan, bahwa kehidupan harus diisi. Tiap orang punya tanggung jawab dan peran masing-masing. Sama dengan anak-anak yang punya peran harus belajar dan sekolah, dengan bekerja Ibu tidak hanya jadi shadow anak-anak. Ibu punya identitas dan peran sendiri. Tapi kesemuanya tetap harus seimbang. Anak-anak suka bermain tapi harus mengerjakan PR. Orangtua, khususnya Ibu juga harus bisa berperan ganda. Bekerja juga, tapi mengurus keluarga tetap harus dilakukan.

Tapi tuntutan pekerjaan, kan, kadang bisa mengalahkan kepentingan keluarga Mbak?

Untungnya kantor kami sangat mengerti bahwa we have a family to take care of. Jadi kita seperti tidak 'harus' memilih antara keluarga dan pekerjaan. Ini berlaku sama antara karyawan pria dan wanita walau memang lebih longgar untuk yang wanita. Jam kantor juga fleksibel, masuk telat sedikit nggak apa-apa saat ada momen seperti anak sakit, atau perlu kunjungan ke sekolah. Bisa digeser ke jam pulangnya. Bahkan seminggu sekali bisa bekerja dari rumah bila diperlukan.

Namanya kerja kantoran, kadang suka terpaksa pulang lebih malam dari biasanya. Entah meeting, atau harus ke tempat klien. Ada 'shift' pulang malam nggak antara Mbak dan suami?

Kebetulan suami memang lebih sering harus pulang malam karena bidang kerjanya pertambangan yang project based. Tapi kalau sedang bisa pulang lebih cepat memang bisa dikordinasikan. Tapi saat tidak bisa, mau tidak mau saya yang harus 'mengalah'. Karena kami berprinsip bagaimanapun suami adalah pencari nafkah keluarga yang utama. Jadi sebisa mungkin diprioritaskan.

Soal PR dari sekolah, pada susah, nggak, disuruh mengerjakan PR atau belajar? Anak saya susah, nih, kudu dibawelin dulu *curcol*.
Si sulung dan si tengah sudah pada mandiri, ya. Cukup diingatkan saja mereka sudah jalan menyiapkan buku sekolah dan mengerjakan PR.

Saya memang membiasakan disiplin. Di rumah ada jam khusus untuk belajar, jadi begitu masuk jam belajar, ya, kerjakan PR dan siapkan bahan sekolah untuk besoknya.

Pintar-pintar, ya, nggak perlu disuruh sudah jalan sendiri. Mengerjakan PR dan belajar sendiri atau dengan Ibu?

Karena kantor tidak terlalu jauh dari rumah, maksimal hanya satu jam perjalanan, jadi pukul 7-8 malam saya pasti sudah di rumah. Anak-anak biasanya jam segitu sudah selesai makan dan mulai belajar. Jadi saya masih keburu membantu anak mengerjakan tugas sekolah dan mempersiapkan pergi tidur. Pagi juga masih sempat memandikan anak-anak.,

Membentuk anak mandiri, ada kiat, kah?

Pertama saya menghindari sikap melayani anak-anak dan menginstruksikan ART di rumah untuk melakukan hal yang sama. Sayalah yang dibantu ART, bukan anak. Jadi anak juga nggak menggantungkan diri ke orang lain, terutama ART yang ada terus di rumah. Karena menganggap ART 'nggak ada', ya, otomatis berusaha melakukan semuanya sendiri. Kalau benar-benar tidak bisa atau aksesnya tidak untuk anak, barulah dibantu.

Mbak, balik soal Bango, nih, setahu saya Bango ini, kan, satu-satunya kecap yang nggak mengandung MSG, ya. Nah, apa komitmen ini sejalan dengan prinsip Mbak Marieska? Mungkin dengan kebiasaan masak di rumah yang memang nggak pakai MSG?

Oh, tentu. Dengan latar belakang pendidikan di bidang Food Technology, saya sangat sejalan dengan Bango. Dengan pengolahan yang tepat, sebenarnya produk makanan bisa, kok, nggak pakai tambahan MSG. Saya kalau masak sendiri memang nggak pakai MSG lagi. Jadi saya nggak perlu khawatir ekstra MSG kalau kecapnya pakai Bango.

------------------------------

Mbak Marieska, terima kasih atas sharingnya, yaa. Bagus, nih, untuk mengingatkan bahwa kita sebagai manusia memang tidak hanya mempunyai satu peran. Perempuan, pun, sejatinya tidak hanya berperan jadi ibu dan pekerja saja. Dalam lingkup keluarga kita juga adalah anak, saudari, tante dll. Dalam lingkup yang lebih luas, masih ada masyarakat yang menunggu kita berperan.