Soft Drink Untuk Anak-Anak?

Health & Nutrition

adiesty・26 Feb 2013

detail-thumb

“Bunda, Aku haus. Mau minuman yang ada buih-buihnya, ya, Nda. Minuman yang sering Aku minum

kalau makan sama ayam sama bunda dan ayah, lho...,” ujar Nissa pada bundanya.

Bukan nggak mungkin kalau rajukan Nissa di atas, terdenggar nggak asing lagi di telinga Mommies. Keponakan saya yang satu ini memang doyan sekali jajan. Selain cemilan, berbagai jenis minuman sering jadi ‘buah tangan’ yang ia bawa pulang setelah pulang sekolah. Salah satunya, selain minuman teh yang nggak jelas mereknya, ya, soft drink.

Memang, sih, kebiasaan mengkonsumsi minuman bersoda seperti yang dilakukan Nissa bukan sepenuhnya kesalahan dia. Bundanya, termasuk saya, tantenya, kalau sedang mengajak jalan-jalan sering kali memilih restoran siap saji. Dan ujung-ujungnya, minuman yang kami pilih biasanya soft drink.

Padahal, minuman ini kan nggak baik untuk orang dewasa. Apalagi untuk anak-anak, kan?

Terdorong rasa penasaran karena mau mengetahui seberapa buruknya efek soft drink ini, saya pun bertanya dengan Dr. Lindana Sastra Sp.A, DSA anak saya. Kebetulan, saat itu Bumi mau imunisasi.

Dan jawabannya, seperti yang saya duga sebelumnya, “Jelas tidak boleh. Untuk apa mengenalkan soft drink pada anak-anak? Apalagi pada balita,” tegasnya saat saya jumpai di ruang praktiknya, RSIA Asih, Panglima Polim.

Kenapa nggak boleh? Jawabannya, ya, tentu saja karena efek samping yang bisa ditimbulkan dari minuman yang rasanya ‘menggelitik’ ini.

Saya masih ingat betul, waktu itu dr. Lindana mengatakan, “Jika orang dewasa saja yang meminum soft drink dapat terkena efek samping yang sangat buruk bagaimana dengan anak-anak. Penyebabnya dikarenakan kandungan gula yang sangat tinggi dan tidak adanya kandungan nutrisi dalam soft drink. Termasuk kadar kafein yang terdapat di dalamnya."

Wah, kalau gitu pantas saja kalau Nissa jadi kecanduan soft drink.

Bahkan, kata dr. Lindana, selain bisa menyebabkan obesitas, kalau sudah timbul rasa kecanduan adiktif, bisa sampai menyebabkan gejala putus syaraf, seperti terjadinya sakit kepala, depresi, gugup atau menggigil. Segitu besarnya, ya, pengaruh buruk yang ditimbulkan?

Belum lagi, soft drink ternyata sangat mempengaruhi pencernaan. Kadar kafein dan jumlah gula yang tinggi dapat menghentikan proses pencernaan. Ini artinya tubuh tidak menyerap gizi sama sekali dari makanan yang baru dimakan, bahkan yang sudah dimakan beberapa jam sebelumnya.

Meskipun dampak negatif yang ditimbulkan baru terasakan dalam jangka waktu panjang, hal ini tetap nggak boleh disepelekan.

Akhirnya dr. Lindana menganjurkan agar kebiasaan mengonsumsi soft drink digantikan dengan minuman lainnya. Bisa dengan yogurt, susu dan yang paling mudah adalah air putih!

Untuk mencegah Bumi tidak kecanduan soft drink, saya akhirnya memulai dengan diri sendiri. Caranya, tidak mau memilih minuman berbuih ini saat sedang bersamanya. Yah, kalau sedang tidak dengan Bumi, bolehlah sesekali meminumnya. Tapi itupun bisa dalam hitungan jari, kok. Kalau nggak, bisa-bisa tubuh saya bisa makin besar lagi :).