banner-detik
SEX

Selingkuh Teks di Era Socmed- How To Deal With It?

author

retrojunkies11 Feb 2013

Selingkuh Teks di Era Socmed- How To Deal With It?

Masih ingat kisah Bunga? Cerita perselingkuhan yang sempat terjadi, meskipun hanya lewat sebatas teks di sosial media. Setelah peristiwa Selingkuh Teks tersebut, dia dan suaminya kini untungnya baik-baik saja, sih. Tentu awalnya sangat berat, namun bisa berakhir damai karena pada dasarnya peristiwa tersebut hanya iseng belaka untuk pelepas kebosanan (yeah, right, sounds easy to say) dan pada kasus Bunga, akhirnya setelah percakapan superintensif di antara keduanya saat melakukan quick getaway di luar kota dan kemudian dilanjutkan di rumah selama hari-hari selanjutnya, tanpa putus, terungkap bahwa mereka selalu masih saling mencintai dan peristiwa tersebut dianggap sebagai bumbu pahit yang menyemarakkan hubungan perkawinan mereka saja.

Nah, bagaimana kiat-kiat Bunga dan suaminya dalam mengatasi masalah ini? Bunga minta saya menuliskannya berikut ini.

Saat pertama kali mengetahuinya pasti kita emosi berat, ingin menjerit, menangis, memukul dan melakukan hal-hal lain yang emosional. Ya, lakukan saja asal tetap tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Kalau menjerit dan menangis paling hanya polusi suara bagi yang mendengar, tidak sampai luka parah atau lainnya, kalau sampai ingin memukul, perhatikan sasaran dan kekuatan kita. Jangan sampai ada korban. Pukul bantal paling baik, sih, rasanya.

Usahakan tetap berkepala dingin, jangan langsung emosi, kumpulkan bukti-bukti secukupnya terlebih dahulu, baru sampaikan keberatan, marah dan lainnya. Kalau tanpa bukti atau keburu dihapus, mau marah (terutama dengan dengan pihak satunya) juga akan terasa kurang pas dengan ketiadaan bukti.

Sampaikan keberatan kita sebagai istri/suami sah dengan langsung berkomunikasi dengan pihak yang terkait, si pasangan selingkuh, dan jika ada, pasangannya (suami/istri) juga sekalian, tidak usah cerita kemana-mana, hanya menimbulkan kesenangan bergosip orang sekeliling saja nantinya. Di zaman Twitter/social media sekarang ini kalau tidak menahan diri untuk bercerita akan panen twit no mention dari para kepo-ers, banjir DM antar para followers, males banget, kan? Komunikasi langsung dengan pihak terkait (bisa melalui SMS, e-mail, menelpon atau bahkan tatap muka) berisi keberatan atas peristiwa tersebut, lengkap dengan bukti-buktinya, akan lebih efektif, tepat sasaran. Minta secara sopan dan baik-baik supaya orang tersebut menghentikan perbuatannya karena mengganggu rumah tangga kita. Tidak usah menekankan soal gangguan perasaan karena dengan melakukan semua ini, orang tersebut memang sudah tidak memikirkan perasaan kita sejak awal, tapi kalau soal gangguan terhadap rumah tangga yang secara hukum legal, sangat bisa diajukan keberatan. Hal tersebut merupakan salah satu dari “perbuatan yang tidak menyenangkan”.

Kirimkan semua bukti (dalam kasus Bunga berupa beberapa kumpulan teks) kepada semua pihak yang bersangkutan/pelaku. Cantumkan kata-kata “terima kasih” walaupun hanya basa-basi. Tunjukkan padanya kalau kita kuat dan tidak terima “kiriman” tersebut serta mengembalikannya dengan senang hati.

Setelah semua itu selesai, terus lanjutkanlah dengan tindakan penyelamatan dengan tetap berkepala dingin (sekuatnya) dan kumpulkan semua logika yang kita punya,  berbicara dengan pasangan hal-hal mendasar: sebab awal peristiwa ini terjadi, ingat kita pun mungkin saja tidak luput dari kesalahan yang memicu peristiwa ini terjadi, cari sebabnya sampai ke akar, ingat-ingat keindahan dan keseruan masa awal pacaran dan pernikahan dulu. Letakkan semua permasalahan pada perspektif yang benar. Hindari melebih-lebihkan keadaan, pakai logika.

Selesaikan ini semua berdua dengan suasana baik. Sebisanya pergi ke luar kota atau sebuah tempat yang jauh dari rumah dan bisa untuk menyepi berdua beberapa hari. Selain untuk melindungi anak-anak supaya tidak melihat pertengkaran orang tuanya (yang mungkin sekali masih berlanjut), berada di sebuah tempat yang asing dan indah tentunya menolong untuk mengingatkan dan membangkitkan kembali suasana romantis di antara keduanya. Jika sedang tidak ada dana atau kebetulan sedang berada dalam libatan deadline pekerjaan sehingga tidak bisa pergi ke luar kota, anak-anak bisa diungsikan sementara ke rumah keluarga/kerabat yang bisa dipercaya.

Buatlah komunikasi intensif dalam sebentuk percakapan dan kenali lagi tubuh pasangan, olah asa, jiwa dan raga selama dalam “pengasingan” tersebut. Tanamkan dalam hati bahwa ini semua dilakukan untuk memperbaiki, tanpa terus mengungkit-ungkit yang sudah lalu. Walaupun memang, kalau kita baca lagi teks-teks tersebut atau selintas ingatan akan hal tersebut menyergap, pasti, deh, ngomel lagi.

Saling mengingatkan untuk bersyukur kepada Yang Memiliki Hidup, karena pada dasarnya peristiwa ini terjadi karena kurangnya rasa syukur atas keadaan, kurang bersyukur memiliki pasangan yang baik, anak-anak yang sehat, kehidupan yang nyaman.

Pada kasus Bunga, setelah melakukan komunikasi intensif, di antara keduanya terungkap bahwa cinta mereka masih tetap ada, hidup, tetapi “terlupakan” di sudut. Sang suami juga memang tidak berniat serius untuk meneruskan ke jenjang yang lebih jauh dengan perempuan itu seperti yang mungkin terjadi pada beberapa kasus lainnya. Selain masih selalu cinta dengan sang istri, terlalu banyak hal dalam hidup, pencapaian-pencapaian bersama selama ini, yang harus dikorbankan untuk hanya sekedar bersenang-senang bersamanya, sehingga memang untuk berpisah dan lalu berganti pasangan tidak pernah terlintas dalam benak.

Bunga sendiri pun selama ini tidak terlalu merasa ada yang hilang dari diri suaminya, masih selalu mesra, kehidupan seks juga baik-baik saja, walaupun tidak liar seperti awal menikah dulu, seperti layaknya pasangan yang sudah beberapa lama menikah. Semua itu merupakan sebentuk kewajaran keseharian yang melenakan sehingga Bunga tidak mencurigai apapun. Terlebih mereka juga masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan mengurus anak-anak, sehingga hal seperti ini luput dari perhatian.

Selingkuh teks yang berawal dari rangkaian kicauan puitis di Twitter dan berlanjut di DM lalu BBM itu dilakukan suami Bunga semata untuk kesenangan, keseruan membaca teks mesra seperti layaknya membaca sebuah novel percintaan. Bedanya ini ditulis secara interaktif, oleh dua orang yang (sok) menyangka hal tersebut boleh-boleh saja dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit hati pasangan resmi masing-masing. Serangkaian teks tersebut menimbulkan perasaan bersemangat atas timbulnya sebuah petualangan baru dan perasaan (seolah-olah) cinta di diri penerima teks kepada si pengirim teks.

Keseruan (dan kesaruan) yang timbul terjadi karena berbagai perbuatan kasih sayang antar sepasang insan yang biasanya dilakukan langsung dengan pasangan, terpampang dalam sebentuk teks di layar smartphone/gadget masing-masing. Perbedaan media ini yang mungkin menimbulkan sensasi baru bagi pihak-pihak yang melakukannya. “Aku memelukmu sekarang, ya, sekarang, jemari lembutku menyentuh punggungmu”, “Peluk kamu besar, lama dan penuh” merupakan contoh sebentuk keribetan yang terjadi dalam teks, kalau dalam keadaan biasa, sih, langsung peluk saja, deh, ah! Lalu perhatian seperti “Morning, sarapan apa, sayang?”, “Honey, aku sudah minum kopiku, kamu gimana? Enak?” akan terasa lebih menyengat mesra karena tertulis dibanding jika diucapkan langsung. Apa lagi jika teks tersebut sampai pada saat yang tepat, akan terasa seperti siraman sejuk di dalam hati, di tengah kesibukan kita sehari-hari.

Perlu dicermati dan diwaspadai, rangkaian teks dapat disimpan dan dibaca kemudian berulang-ulang. Hal itu kemungkinan dapat membuat si penerima teks merasa perasaannya semakin kuat kepada si pengirim karena unsur repetisinya tersebut. Keunggulan penyampaian dengan teks yang dapat menancap tajam pada hati pelakunya dibanding lisan inilah yang membuat Selingkuh Teks bisa jadi lebih berbahaya dibanding selingkuh tradisional (?): ketemu di sebuah tempat untuk mengobrol (lisan), melakukan hubungan seks sembunyi-sembunyi, yang semuanya itu dilakukan secara langsung, tatap muka antar pihak, lalu bekasnya berupa kenangan di otak akan menghilang seiring dengan waktu berlalu. Kalau teks yang tersimpan di berbagai wadah (SMS, BBM, Twitter, Facebook, dan lainnya) selama tidak dihapus akan dapat terus dibaca berulang-ulang, ketika ingatan akan hal itu sudah sedikit memudar maka jika teks tersebut dibaca lagi akan menghidupkan rasa yang hampir hilang tadi, kalaupun rasanya belum hilang, akan memperkuat rasa tersebut lebih dalam. Belum lagi jika saat membacanya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, mungkin akan menimbulkan sensasi seru yang tiada duanya, menjadi pupuk penyubur bagi hubungan (terlarang) tersebut.

Demi menenangkan hatinya, untuk melanjutkan hidup yang damai, Bunga beranggapan kalau peristiwa Selingkuh Teks yang menimpa mereka berdua ini layaknya perbuatan menonton film porno/semi porno, membaca novel seksi, pemakaian kostum karakter sebagai pemanasan sebelum berhubungan seks atau pemakaian sex toys, yang semua itu tujuannya adalah untuk menyuntikkan darah baru bagi sebuah kehidupan perkawinan. Keberadaan perempuan itu sendiri menjadi tidak lebih dari sebuah “alat” saja, alat pengingat dan alat penyegaran hubungan. Teksnya menjadi lebih relevan dibanding keberadaan orangnya itu sendiri. Namun bedanya kalau hal-hal di atas seperti menonton film porno atau pemakaian sex toys (bagi sebagian orang) boleh sesekali dilakukan atau diulang, Selingkuh Teks tentu tidak dapat ditolerir jika terjadi berkali-kali dan menjadi kebutuhan utama. Hubungan threesome tidak ada di dalam kamus hidup Bunga. It’s either me OR her (texts), your call. Otherwise it would be too complicated.

Maka, dengan berpikiran begitu dia bisa memaafkan suaminya dan bersama-sama berkomitmen untuk membuat kehidupan perkawinan mereka menjadi lebih seru lagi dan mengambil hikmah terbaik dari peristiwa ini, selalu waspada dan yang terpenting adalah selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas semua yang dilimpahkan-Nya kepada mereka sekeluarga.

Jika dicermati dari bahasan di atas, Selingkuh Teks sepertinya bisa lebih berbahaya dari pada selingkuh “biasa”/tradisional karena terlihat “jinak”. Hal ini sebaiknya diwaspadai kita, baik yang memiliki pasangan ataupun tidak. Keterlenaan dalam membaca teks terutama teks interaktif dengan lawan jenis seringkali membius secara gradual dan pada saat sadarnya sudah terlambat. Hal ini juga menunjukkan bahwa kemampuan orang dalam membeli gadget ternyata belum sebanding dengan kemampuannya mengendalikan teknologi tersebut. Teks yang dianggap jinak ternyata mempunyai berpotensi besar dalam merusak sebuah hubungan (perkawinan) yang belum disadari oleh banyak orang. Ketika Anda sudah sangat menikmati bertukar teks dengan lawan jenis yang bukan pasangan resmi Anda, coba waspadalah, apakah teks tersebut bisa menyakiti hati pasangan jika dia membacanya? Perbaiki hubungan dengan pasangan Anda sebelum semuanya terlambat dan pindah ke lain hati. Send them texts!

...  saat ini Bunga sedang melatih dirinya untuk lebih mempercayai instingnya, karena sebenarnya sejak awal suaminya dan perempuan tersebut saling follow di Twitter, Bunga sudah memiliki perasaan tidak enak (setelah baca adu reply di antara mereka) dan sudah meminta suaminya untuk unfollow perempuan tersebut, namun karena suatu hal Bunga tidak jadi berkeras untuk hal tersebut untuk akhirnya menyesal. Selain itu sekarang dia juga melatih diri untuk lebih sering lagi saling mengirim teks seksi dan mesra melalui SMS, BBM, rangkaian kicauan yang puitis di Twitter dengan sang suami, dengan gayanya sendiri tentu. O, I wish Bunga all the best!!

 

Share Article

author

retrojunkies

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan