Toilet Training

Behavior & Development

nenglita・07 Jan 2010

detail-thumb

PR lain seorang ibu selain menyusui, nyapih, makan, dst dsb dll dkk. Ada yang bilang toilet training akan terjadi dengan sendirinya. Ada yang baru mulai nanti pas si anak sudah bisa diajak komunikasi dengan baik dan benar, alias 3 tahunan lebih, tapi ada juga yang sejak 5-6 bulan sudah dilatih! Hebattt!

Saya termasuk yang nggak terlalu ‘kenceng’ men-toilet training-kan Langit yang sekarang usianya 20 bulan. Kalau BAB di toilet, sejak sekitar 7-8 bulanan Langit sudah saya biasain BAB di toilet (catat: toilet beneran bukan yang model tempat duduk lucu-lucu atau alas untuk toilet yang kecil yak). Makin lama makin kebaca kan, gimana gerak geriknya dia kalau mau BAB.

Sayangnya perihal ini nggak saya seriusin saat itu. Jadi Langit masih terus pakai diaper kain (celana lampin) sepanjang hari untuk nahan BAK-nya. Nah sejak beberapa bulan belakangan ini (pas udah jadi working from home mom ) saya baru mulai rajin toilet training Langit. Alasannya selain saya rasa sudah waktunya, juga untuk penghematan beli popok sekali pakai yang harganya gileeee….

Saya mulai 'googling' sana-sini untuk cara yang paling mujarab untuk toilet training anak. Hasil googling serta baca thread toilet training di Mommies Daily, saya menemukan :

  • Sistem 3 hari lepas popok, yaitu konon kabarnya anak akan terbiasa dengan kondisi lepas popok dalam 3 hari. Hari pertama biasanya akan terjadi ‘kecelakaan’ dimana-mana, tapi di hari kedua dan ketiga biasanya akan berhasil. Sistem ini jangan dicampur dengan pemakaian pospak, karena akan membuat anak bingung, nah resikonya ya 3 hari dirumah aja dulu nggak boleh kemana-mana
  • Sistem di’tatur’, alias tiap berapa jam di ajak untuk BAK/ BAB ke toilet. Termasuk saat anak tidur malam. Kalau saya jujur deh, nyerah sama yang ini. Nidurin Langit kalau malam aja suka kaya orang berantem, terus nanti udah tidur saya bangunin ke toilet, yang ada nidurinnya bakal setengah metong lagi!
  • Nah, kalau yang ketiga ini cara sendiri (yang belum diketahui hasilnya akan berhasil atau nggak, hehehe). Tiap hari Langit nggak pernah saya pakein popok, baik itu pospak atau popok kain. Hanya celana saja. 1-2 hari pertama masih ngaco, pipis dimana-mana dan sekali dua kali BAB juga sempat kebobolan. Yang terakhir ini karena pengasuhnya baru belum paham sama bahasanya Langit, jadi kalau lagi main sama pengasuhnya Langit udah teriak-teriak “e-e..” malah terus aja diajak main :)

    Untuk tidur siang kadang saya biarkan pakai celana saja, dialasi perlak. Nah, sedikit tantangan nih, Langit sungguh-sungguh susah tidurnya, kalau dialasi perlak pas dia berubah posisi maka dia akan langsung kebangun. PR lagi emaknya untuk nidurin dia deh!  Sering juga kalau saya BAK di toilet, Langit akan liatin terus ngomong “Ibu pipis..”, jadi seperti nyontohin bahwa BAB/ BAK dilakukannya ya di toilet.

    Tidur malam dan pergi-pergi jauh sampai saat ini masih saya pakaikan pospak. Tapi ini juga sudah lumayaaannnn….berkurang jauh penggunaan pospaknya!

    Saya yakin Langit akan bisa dalam waktu dekat ini lepas popok, selain dia sudah nggak betah kalau dipakein pospak (selalu ditarik-tarik sama dia, atau marah kalau dipakein) juga tanda-tanda dia siap

    untuk toilet training semakin jelas. Langit sudah bisa mengatakan keinginannya,  sudah paham bahwa pipis dan ee harus dilakukan di toilet, juga sudah bisa bilang “pipis” atau “ee”.  Mudah-mudahan pelan-pelan tapi pasti di usianya yang 2 tahun nanti dia sudah lepas pospak sepenuhnya :)

    Oh iya ada sedikit cerita, ketika awal-awal lepas popok, saat memakaikan celana, saya selalu membisikkan, “Langit nanti kalau mau pipis atau ee bilang ya..”. Lima menit kemudian, Langit menghampiri saya dan menunjuk ke celananya lalu ngomong “Bu, biyaaaanggg…” (bilang). *tepok jidat*