20 Masalah Terbesar yang Dihadapi Perempuan Millennial

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Dari soal media sosial, tuntutan keluarga, rentannya perempuan mengalami pelecehan seksual, masalah di kantor, hingga tantangan kerepotan mengurus keluarga. Beginilah keluh kesah mereka ketika menjawab pertanyaan, “Apa, sih, masalah terbesar perempuan?”

Di abad 21 seperti sekarang, masalah ketidaksetaraan gender masih banyak dialami kaum perempuan. Isu kekerasan seksual, diskriminasi di tempat kerja, KDRT, belum adanya pengarusutamaan gender dalam kebijakan, dan banyak lagi lainnya. Isu-isu besar sebagaimana yang selalu dibahas di The United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women, alias UN Women, maupun yang menjadi agenda pemerintah dan Lembaga-lembaga pejuang kesetaraan gender lainnya.

Di sisi lain, ada banyak masalah yang sebetulnya bisa diselesaikan hanya oleh diri kita sendiri. Karena buktinya jawaban dari pertanyaan masalah terbesar itu tidak melulu soal ketidaksetaraan gender atau masalah ekonomi. Masalah keterhubungan dengan dunia maya jadi salah satunya. Khas sekali ya dengan stereotype kehidupan kaum millennial yang memang tidak bisa terbebas dari teknologi. :)

masalah perempuan millennial

Apa saja masalah “terbesar” dalam kehidupan perempuan millennial?

1.“Saya suka merasa over weight. Apalagi kalau udah keseringan cheating soal makan.”

2. “Kesepian dan tak punya teman. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi yang sudah berkeluarga. Walaupun, memang, sih, teman Facebook banyak, tapi beda lah sama teman yang benar-benar teman.”

3. “Cemas akan masa depan. Susah nabung. Bisa enggak ya, penghasilan saya sekarang cukup untuk kebutuhan hidup. Belum lagi, mikirin harga rumah yang seolah terus terbang ke langit. Kapan bisa kebeli, kalau buat sehari-hari saja enggak cukup.”

4. “Pernah ngalamin sendiri pelecehan seksual di kereta komuter pas pulang kerja. Pingin nampar rasanya!”

5. “Susah cari pasangan yang baik, ramah, tidak sombong, dan rajin menabung.”

6. “Paling sebal kalau nonton serial televisi kesayangan pas episode terakhir. Nungguin tayang season barunya lagi kapan tahun?”

7. “Udah repot-repot nyari angle foto, perjuangan motretnya, lalu setelah di-posting hanya sedikit yang like?”

8. “Habis kuota sebelum waktunya.”

9. “Menemukan pekerjaan yang sesuai passion. Kantor yang sekarang sudah kantor keempat saya. Tapi baru beberapa bulan rasanya sudah nggak betah.”

10. “Konsumerisme dan biaya hidup makin tinggi. Kalau begini caranya, enggak bisa jadi ibu rumah tangga. Tuntunan dual income susah terelakkan. Padahal ingin fokus mengurus anak di rumah.”

11. “Kenapa atasan selalu punya stigma semua milenial itu pemalas, mau serba instan, berasa diva? Yang jelas, itu bukan saya.”

12. “Membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan teman-teman. Sementara kalau libur, inginnya tidur.”

13. “Dari hari ke hari, tuntutan pekerjaan rasanya semakin tinggi. Kerja keras bagai kuda pun masih dianggap kurang keras. Kalau sudah begini, waktu yang tersita untuk kerja jadi harus lebih panjang. Keluarga hanya dapat sisanya. Belum lagi, buat diri sendiri, kapan?”

14. “Tidak sengaja nge-like posting-an Instagram Syahrini. Ketahuan, deh. Kepoin Inces.”

15. “Karena saya sakit kanker payudara, terpaksa berhenti dari pekerjaan agar tidak terlalu capek dan stres. Sementara untuk pengobatan butuh uang banyak.”

16. “Akun Facebook saya diteror mantan. Apa pun yang saya posting, dia selalu ‘ngotorin’ komen dengan membeberkan keburukan saya.”

17. “Challenge dalam mendidik anak. Makin banyak aliran parenting. Semua mengklaim paling baik. Banyak yang saling bertentangan. Jadi sebenarnya, gimana, sih?”

18. “Godaan untuk nyandu gadget. Kalau mamaknya enggak bisa lepas handphone, gimana mau ngelarang anak?”

19. “Kenapa semua anak sekarang cita-citanya jadi Youtuber?”

20. “Diselingkuhin suami. Apa semua laki-laki begitu? Bye bye cinta sejati.”

Banyak yaaa. Apa yang bisa dilakukan untuk membuat masalah itu setidaknya jadi lebih ringan?

– Menjadi pribadi yang lebih baik, lakukan setidaknya 1% saja setiap harinya. Kalau konsisten, bayangkan, dalam waktu 1 tahun, kita sudah menjadi 365% lebih baik dari tahun sebelumnya.

– Miliki otoritas dan kendali, terhadap diri dan hidup kita sendiri. Otoritas dalam arti, kemampuan untuk mengenali impuls-impuls dan hasrat yang muncul dalam diri, dan bisa mengendalikannya.

– Baca buku, tekuni skill baru, belajar hal baru, dan banyak lagi cara lainnya.

– Tidak maju untuk diri sendiri. Dukung dan bantu juga perempuan lain supaya mereka maju. Bukan malah dinyinyirin. “Real queens fix each other’s crowns!” kata sebuah pepatah terkenal.


Post Comment