Jangan Salah Kaprah, Ini Mitos dan Fakta Seputar Feminisme

Saya feminis, suami saya feminis, tapi mengaku feminis seperti biasanya langsung dihakimi se-Indonesia.

Sebabnya pemahaman tentang feminisme yang salah kaprah. Padahal saya bisa menulis ini, bisa pergi bekerja ke kantor setiap hari karena sekolah hingga kuliah adalah hasil perjuangan feminisme.

Feminisme tidak menakutkan kok. Feminisme sejatinya adalah kebebasan memilih. Kita bisa memilih di pemilu, bisa memilih pakai kontrasepsi apa, bisa memilih untuk bekerja atau diam di rumah, itu sudah semangat feminisme.

salah kaprah mitos fakta feminisme

Tapi yang saya dapat dari pemahaman orang-orang, feminisme seolah liar. Seakan kalau memperjuangkan feminisme berarti terlalu bebas dan tidak mengurus keluarga. Padahal nggak ada hubungannya sama sekali.

Jadi jangan salah kaprah lagi, ini dia mitos dan fakta seputar feminisme:

Mitos:

Feminisme itu anti laki-laki

Fakta:

Feminisme tidak anti laki-laki karena justru feminisme memperjuangkan kesetaraan. Masih banyak perempuan yang mendapat penghasilan lebih sedikit dan tidak dipromosikan di tempat kerja hanya karena mereka perempuan. Bukan pula mendukung superioritas perempuan, kami hanya ingin setara. Dan banyak pula laki-laki feminis! Laki-laki yang menempatkan perempuan dalam posisi setara.

Mitos:

Feminisme anti perempuan beratribut agama

Fakta:

Sejatinya feminisme adalah memberi kebebasan seluas-luasnya bagi perempuan untuk memilih apa yang terbaik untuk dirinya. Perempuan memakai atribut agama ya boleh saja agar tidak dipaksa siapapun. Sebaliknya pula, perempuan tanpa atribut apapun juga boleh saja agar tidak dipaksa siapapun.

Mitos:

Feminisme anti pernikahan dan tidak akan bisa mengurus anak dengan baik

Fakta:

Justru feminis yang memperjuangkan hak-hak perempuan di berbagai bidang. Banyak di antara mereka yang menikah dan punya anak lalu berusaha agar perempuan bisa punya cuti melahirkan lebih lama, punya ruangan pumping di kantor, dan banyak lagi. Feminis membesarkan anak feminis pula, yang bisa menghargai siapapun tanpa melihat gendernya.

Mitos:

Feminis pro seks bebas dan LGBT

Fakta:

Feminis tidak pro pada apapun kecuali kebebasan memilih. Orang, laki-laki atau perempuan boleh memilih untuk seks bebas atau berorientasi seksual LGBT sesuai value yang mereka pegang masing-masing. Tidak ada paksaan sama sekali. Kalau memang percaya bahwa seks bebas dan LGBT tidak baik, ya jangan dilakukan TAPI jangan memaksa semua orang untuk punya value yang sama. Itu esensi feminisme.

Mitos:

Di zaman modern ini tidak perlu lagi feminisme

Fakta:

Kamu privileged kalau masih menganggap zaman sudah modern. Kenyataannya masih banyak perempuan yang harus disunat secara brutal dan dipaksa menikah di umur belasan. Harus ada yang memperjuangkan hak-hak mereka, kan?


Post Comment