4 Hal Tabu Seputar Anak dan Politik

Melibatkan anak dalam kegiatan politik yang bukan dunianya, berpotensi menjadikan mereka korban kekerasan fisik dan psikis.  

4 Hal Tabu Seputar Anak dan Politik - Mommies Daily

Punya pilihan masing-masing akan calon presiden dan wakil presiden boleh saja. Datang ke acara kampanye monggo, ngobrol dengan pasangan seputar politik, ya itu hak mommies. Tapi tolong, demi tumbuh kembang anak yang sehat fisik dan psikis, jangan lakukan 4 hal ini terhadap anak-anak.

1. Jangan ajak kampanye

Tahukah mommies, Hak Anak itu diatur dalam Komisi Nasional Hak Azasi Manusia, yang diatur di bagian kesepuluh dalam Undang-undang Republik, bunyinya:

“Setiap anak berhak atas perlindungan oleh orangtua, keluarga, masyarakat, dan negara.”

Nah, sekarang kita pakai logika sederhana , deh. Apakah kampanye tempat yang pantas dan aman untuk anak-anak ? Jika kita mengajak anak ke acara kampanye, apakah kita sudah memenuhi hak mereka untuk dilindungi oleh orangtuanya sendiri? IMHO, tidak! Terlalu banyak risiko jika anak dibawa ke arena kampanye. Terlepas kampanye dilakukan di ruangan tertutup, ya. Secara konsep acara, kampanye tidak dedesain untuk dihadiri anak, atau acara keluarga. Sesederhana itu.

2.  Jangan menjelek-jelekan kubu mana pun

Suatu hari saya “terjebak” dalam pembicaraan yang nggak sedap didengar.  Waktu itu, momennya pemilu gubernur 2017. Seorang ibu dengan menggebu-gebu, memberikan label negatif ke salah satu kandidat calon gubernur. Yang bikin saya tambah miris, dia melakukan itu di depan anaknya.  

Selain pandai meniru tingkah laku orangtuanya, anak juga mudah menyerap kata-kata  dari lingkungan sekitarnya. Coba tanya lagi sama diri sendiri, mau seperti apa kita membentuk kepribadian anak kelak? Dengan mudahnya memberikan label negatif ke orang lain? Sulit menerima perbedaan pendapat? Sementara kita hidup di Indonesia dengan latar belakang masyarakat yang heterogen.

3. Jangan menunjukkan bibit fanatisme

Dari segi etimologi, fanatisme berarti paham atau perilaku yang menunjukkan keterartikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Dan menurut Wiston Churchill, Perdana Menteri Britania Raya pada masa Perang Dunia Kedua, sekaligus ahli strategi, orator, dan diplomat – “Seseorang fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan mengubah haluannya”. Artinya, seseorang yang fanatik punya standar ketat dalam proses berpikirnya. Cenderung acuh dengan opini atau ide yang dia anggap bertentangan dengan miliknya.

Bayangkan jika situasi seperti ini yang anak saksikan atau dengarkan setiap hari di rumah. Tempat yang harusnya hangat, menjadi pelindung malah mendoktrin anak menjadi pribadi yang memiliki pola pikir sempit. Menurut saya, jika anak terpapar bibit fanatisme, ke depannya ia akan sulit bersikap supportif dan berkompetisi sehat di lingkungan sekolah atau pekerjaan.

4. Jangan menghubungkan pemilu dengan agama

Agama sejatinya adalah pilar perdamaian, bukan komoditas politik. Semua agama mengajarkan kebaikan sesama manusia. Sesuatu yang sangat personal dan sakral. Jangan merusaknya dengan menghubungkannya dengan agenda politik pemilu. Biarkan anak mempunyai pandangan damai dan netral soal agama.


Post Comment