Curahan Hati Perempuan Kuat Dampingi Ibu yang Alami Paranoid Schizophrenia

Ia kuat, karena di sisi lain harus memendam sementara mimpi-mimpinya, salah satunya passion-nya di bidang karier. Mencurahkan energinya 7 hari 24 jam, mengurus ibunda tercinta yang didiagnosa Paranoid Schizophrenia.

Paranoid Schizophrenia - Mommies Daily

Kurang lebih dua tahun terakhir, hari-hari sahabat saya Siska Prihatini (33), tercurahkan untuk Mamanya Musringah (55). Selama itu pula, Cheika ikhlas menggeser ambisinya di dunia karier – demi kesembuhan mama.  Mengantar dan menemani ke rumah sakit untuk terapi, hingga menemani beliau di rumah. “Iya, tha, mama harus ada yang dampingin di rumah atau kemana-mana. Jadi gue harus gantian sama bokap,” , jelas Cheika suatu hari pada saya. Sementara papa Cheika sapaan akrab untuknya, masih aktif bekerja. Adik laki-lakinya sudah menikah, tak tinggal serumah.

Di sela-sela mengurus mamanya, Cheika menemukan passion barunya!, dengan sistem preorder, sesekali dia meladeni pesanan kue brownies dan aneka bolu lainnya. Ia masih berusaha berdaya, meski di sisi lain, ada tanggung jawab berat yang sedang diemban.

Bagaimana cerita lengkapnya, Cheika mendedikasikan energi dan waktunya untuk Mama Musringah, tersayang? Ada yang ingin ia ubah, terkait pandangan masyarakat pada pasien gangguan jiwa seperti mamanya.

Cheik, boleh cerita mama didiagnosa apa?

Mama positif Paranoid Schizophrenia. Sebenarnya mama adalah pasien relapse (istilah kedokteran yang digunakan untuk pasien yang kembali menunjukkan gejala-gejala sebelum dirawat inap). Kenapa di katakan relapse?, sekitar tahun 2005 mama pernah dirawat di salah satu RSJ negeri di Jakarta karena mama sudah tidak minum obat psikotik selama kurang lebih 2 tahun. Hal tersebut terjadi karena kami (keluarga) sudah firm bahwa mama sudah sehat total secara kejiwaan tapi ternyata salah, yang mana obat psikotik harus tetap di konsumsi seumur hidup.

Gejala yang paling jelas dari mama adalah halusinasi pendengaran  beliau selalu mendengar ada yang akan membunuh dia, anak-anaknya, dan beberapa keluarga terdekatnya. Suara yang beliau dengar bukan satu atau dua tapi menurut mama banyak suara. Bahkan selama perawatan di Rumah sakit beliau juga mengalami halusinasi penglihatan, dan pernah mengalamai disorientasi ingatan namun tidak masuk ke dalam kategori dimensia, dimana memori beliau mundur 10 tahun kebelakang, yang beliau ingat adalah tentang keluarga. Diagnosa dokter (psikiater) paranoid mama cenderung ke keluarga. Selama mama di rawat di RSJ dan bahkan sampai sekarang beliau tidak ingat memori di sana, hanya sebagian kecil yang beliau ingat, hal tersebut biasa terjadi pada pasien karena mereka sedang dalam kondisi tidak sadar.

Ciri-ciri awal yang terlihat kasat mata di mama seperti apa?

Perilaku menyimpang mama sebelum akhirnya kami memutuskan membawa beliau ke Rumah Sakit adalah: terkadang berbicara sendiri seolah-olah di depannya ada lawan bicara baik itu beliau sedang melakukan aktivitas rumah tangganya ataupun sedang sendiri, emosi meluap-luap, merasa insecure (seperti ada yang mengawasi/memata-matai) dan cenderung provocative ketika diajak berkomunikasi, sulit tidur, melakukan salah satu aktivitas rumah tangga di tengah malam (hal tersebut beliau lakukan mungkin sebagai langkah distraction halusinasi saat itu.)

Adakah faktor pencetus di masa lalu, sampai akhirnya mama mengalami Paranoid Schizophrenia?

Ya, mama pernah mengalami masa lalu yang menyebabkan beliau sakit, hanya saja saya baru sadar bahwa keadaan relapse beliau ada beberapa faktor selain dari masa lalu tersebut. Beliau merasa kesepian ketika suami dan anak-anaknya terlalu sibuk dengan kehidupan kami masing-masing, suami dengan pekerjaannya, saya dengan pekerjaan saya, adik saya dengan pekerjaan dan keluarga kecilnya. Karena memang sehari-harinya mama selalu di rumah sendirian.  Selain itu, mama punya luka masa lalu, yang belum sembuh total terkait masalah pernikahannya dengan papa.

Hal ini sudah berlangsung berlama lama? Dan metode pengobatan apa aja yang sudah mama alami?

Dari September 2017. Saat itu siang hari akhirnya saya dan tante saya memutuskan bawa mama ke RSJ. Rawat inap pertama berlangsung sekitar 17 hari, kemudian rawat inap ke dua berlangsung 40 hari di rumah sakit yang sama, kami sekeluarga juga pernah mencoba pengobatan secara metode agama selama 2 kali terapi. 

Pada rawat inap yang ke-2 di rumah sakit selain terapi obat, mama pernah dua kali dapat tindakan electroconvulsive theraphy (ECT) atau terapi kejut listrik, hal tersebut amat sangat terpaksa dilakukan karena halusinasi beliau benar-benar kuat sekali, bahkan sampai dalam ke tahap manic atau aggressive dalam ilmu kedokteran kejiwaan. Terapi ECT adalah harapan kami terakhir, berharap halusinasi mama bisa segera terobati, tapi kenyataan berbanding terbalik hingga akhirnya dokter memberikan terapi obat yang Alhamdulillah mampu menahan halusinasi mama.

Apa yang ingin diubah seputar stigma masyarakat, tentang penyakit kejiwaan?

Dulu waktu pertama kali mama dirawat di RSJ, rasa sedih, malu campur baur jadi satu mungkin pada saat itu masih muda kali ya, hehehee. Selama mama dirawat di RSJ, saya lihat banyak sekali pasien, dari berbagai latar belakang, mulai dari pendidikan rendah, hingga tinggi, tingkat sosial sederhana ataupun berkelebihan, dengan aneka ragam penyebab mereka mengalamai gangguan jiwa. Ada yang denial, ada yang terima kalau mereka sakit. Mereka para penderita gangguan kejiwaan juga nggak mau sakit, Mereka hanya butuh perhatian lebih dari keluarga terutama, sahabat ataupun teman-teman terdekat.

Saya pernah kecewa ketika ada penolakan dari pihak keluarga tentang sakit yang diderita mama. Mereka malu bahwa ada anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa, mereka takut untuk berinteraksi sama mama, takut jika sewaktu-waktu mama “ngamuk” ,padahal kenyatannya mama selalu happy ketika banyak saudaranya yang datang menjenguk atau sekadar menelpon mama.

Saya paham, mereka tidak tahu apa itu Paranoid Schizophrenia, saya paham mereka tidak tahu bagaimana harus berinteraksi dengan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), seharusnya mereka paham tentang bagaimana ibu saya, karena mereka adalah keluarga, keluarga yang lebih dahulu lahir sebelum saya lahir, keluarga yang lebih dahulu ada sebelum ayah saya menjadi suaminya. Hal yang baru saya tahu bahwa gangguan kejiwaan secara teoritis 30% faktornya dari gen.

Paranoid schizophrenia bukanlah aib yang harus di kunci rapat-rapat. Karena seseorang dikategorikan menderita Paranoid Schizophrenia itu pun juga harus melewati beberapa tahapan diagnosa perilaku menyimpang. Pintar-pintarlah mengatur kadar stres diri, pahami ketika lingkungan terdekat kita mulai berperilaku “aggressive” , biasanya orang yang kehilangan sosok atau hal yang berharga dalam hidupnya dan tidak pintar memahami diri sendiri akan mulai berperilaku menyimpang. Stop menggunakan kata “orang/dasar gila”, “sakit jiwa”, “halu (sinasi) loe” ,”biar tetap waras” (jika digunakan dalam konteks yang tidak tepat atau harus yang sangat urgent). You know what? it hurting me personally as care giver :)  ,kalau saja para ODGJ bisa bicara tentang jargon anak muda zaman now maybe they will explain it to you guys.

Hikmah terbesar apa yang kamu dapat, selama sekian tahun mengurus mama?

Terlalu banyak hikmah yang saya dapat selama mengurus mama. Yang paling drastis adalah, saya jadi semakin dekat sama Yang Maha Esa. Kesabaran dan keikhlasan saya diuji habis-habisan, karena pasien gangguan jiwa tidak mudah dideteksi seperti pasien penyakit fisik. Awalnya merasa putus asa dengan kesembuhan mama, Alhamdulillahirobb’alamiin 18 bulan sudah badai keluarga berlalu, orang awam yang akan ketemu mama nggak akan tahu kalau mama sedang dalam masa perawatan. Sampai saat ini masih takjub sama keajaiban Yang Maha Esa.

Selama ini, siapa saja pihak yang terus kasih kamu semangat urus mama? kalau lagi merasa lelah, pelariannya kemana?

Keluarga, sahabat dan rekan dekat yang tahu persis perjuangan saya urus mama dari awal hingga saat ini. Kalau lagi lelah banget, biasanya saya selalu datang ke kajian dekat rumah, atau tidur, nonton drama korea, atau telepon sahabat dekat sekadar hahahihi, yang penting saya tetap berinteraksi dengan orang luar.

Mau bilang apa ke masyarakat di luar sana, yang mungkin mengalami hal yang sama. Mungkin nggak melulu mengurus ibunya, bisa saja tante, suami, atau hubungan keluarga lainnya?

Percayalah, mereka ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) juga nggak mau sakit, mereka mengalami penderitaan, kesulitan, kelelahan. Mereka menderita dengan waham atau halusinasi yang mereka dengar, rasakan, dan lihat. Mereka kesulitan membedakan mana halusinasi dengan kenyataan yang nyata di depan mata mereka. Mereka juga lelah harus menjalankan semua terapi, demi kesembuhan dan kebahagiaan yang nyata.

Mereka hanya butuh ketulusan dan keikhlasan kasih sayang dari kita. Terus berdoa dan berusaha, percayalah doa yang datangnya karena ketulusan dan keikhlasan mampu mengubah nasib menjadi takdir yang indah. Sakit pasti ada obatnya !, begitulah semuanya diciptakan berpasang-pasangan, ada sakit ada obat, ada bahagia ada sedih, ada pagi ada sore.      

Last but not least, mau bilang apa ke mama, isi hati kamu, yang belum sempat atau malu diutarakan, selama mendampingi mama terapi?

Terima kasih mama sayang sudah sakit, tanpa sakitnya mama kakak mungkin tidak akan pernah menjadi anak mama yang bersyukur, Kakak tahu bakti kakak ke mama nggak akan pernah menggantikan sakitnya mama melahirkan kakak. Kakak mohon maaf lahir batin begitu banyak kekurangan kakak selama kakak merawat mama.

*

Salut Cheik, untuk dedikasi waktu dan energi yang sudah kamu usahakan. Salut juga untuk mama, yang nggak menyerah di tengah jalan.  Kalian berdua sama-sama perempuan tangguh!

 


Post Comment