Stres Pada Remaja Bisa Lebih Parah Dari Stresnya Orang Dewasa

Pernah dengar anak remaja terjun bebas dari lantai 4 apartemen rumahnya karena stres dengan pekerjaan rumah dari sekolah yang menumpuk? Yes, stres pada remaja itu nyata lho.

Remaja pada umumnya apa, sih, yang distres-in? Mikir bayar cicilan rumah nggak. Skip-lah ikut mikir uang pangkal sekolah datang dari mana, itu tugas ayah dan ibu. Tagihan listrik, air, internet, tv-cable yang ikut dia nikmati nggak perlu dipantengin tiap akhir bulan kenapa. Lantas kenapa remaja ada yang stres? Tugas kamu cuma belajar, nak, dan kelak jadi orang yang berguna sesuai dengan doa ayah dan ibu.

Well, well, well, nggak sesederhana itu Ferguso. Stres itu bisa banget dialami seseorang di usia berapa pun. Percayalah, kalau bayi saja bisa stres apa lagi remaja yang masalah hidupnya perlahan kian kompleks. Mungkin nggak sekompleks orang dewasa, tapi tanpa penanganan yang tepat, permasalahan yang terlihat biasa saja di mata orang dewasa malah bikin stres remaja lalu menimbulkan bahaya. Pernah dengar anak remaja terjun bebas dari lantai 4 apartemen rumahnya karena stres dengan pekerjaan rumah dari sekolah yang menumpuk?

Stres Pada Remaja Bisa Lebih Parah Dari Stresnya Orang Dewasa  - Mommies Daily

Penyebab stres remaja

Sederhana di mata orang dewasa, belum tentu simpel di mata anak remaja. Dilansir dari situs ini, berikut 3 hal utama yang bisa jadi penyebab remaja stres.

Stres akademik

Tekanan untuk tampil lebih baik secara akademis adalah salah satu penyebab paling umum dari stres yang dihadapi remaja. Tekanan bisa datang dari diri sendiri, bisa juga dari lingkungan, terutama orangtua. Banyak dari mereka yang sering merasa khawatir bagaimana menyelesaikan pekerjaan rumah, school project, ujian, dan lain-lain. Ini mungkin sama seperti seorang dewasa yang stres dalam menghadapi tekanan pekerjaan di kantor.

Stres fisik

Perubahan fisik juga bisa menjadi penyebab stres, lho. Remaja mengalami beberapa perubahan emosional dan fisik yang sangat mungkin membuat mereka bingung. Terutama ketika mereka tidak mendapatkan pendidikan soal pubertas dan seks secara layak. Dengan tidak mengetahui apa yang terjadi pada tubuh mereka dan mengapa mereka tiba-tiba punya keinginan tertentu selama pubertas, dapat menjadi penyebab tekanan di dalam diri. Tekanan yang berlebihan pada tubuh dapat membuat mereka lelah sendiri dan stres secara mental.

Stres sosial

Semua manusia nggak bisa hidup sendiri, itulah kenapa kita butuh bersosialisasi. Tak terkecuali remaja-remaja kita. Kehidupan sosial sangat penting bagi anak dan remaja banyak kesempatan terbuka lebar jika mereka mampu bersosialisasi dengan baik.

Baca juga:

Ajarkan Anak Bersosialisasi dengan 20 Cara Ini!

Nah, sayangnya ketika bergaul, nggak semua yang ia dapat dari pergaulan itu baik untuk dirinya. Tekanan dari teman sebaya di usia rentan ikut-ikutan ini bisa bahaya. Kalau nggak pakai sepatu tertentu, nggak diterima di kelompok yang ia suka. Nggak ikutan membully yang lemah, dibilang banci. Serba salah. Padahal dia tahu apa yang dia lakukan itu nggak benar, hanya supaya terlihat cool di mata teman-teman, ia harus melakukan hal yang bertentangan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal menyeimbangkan nilai-nilai inilah yang kalau remaja nggak kuat secara mental dan spiritual, bisa menyebabkan stres berlebihan. Belum kalau ternyata ia juga jadi korban bully, atau dijauhi teman-temannya tanpa alasan yang jelas.

Tanda-tanda stres pada remaja

Kalau kita sudah tahu penyebab stresnya, waktunya kita menemukan tanda-tanda tersebut pada anak-anak.

Tanda-tanda emosional

Remaja akan terlihat tidak bahagia, murung, dan selalu ingin menyendiri. Ia juga akan selalu tampak gelisah, cemas dan mudah marah, bahkan pada hal-hal yang sederhana sekali pun. Ketika ia membentak orangtuanya atau saudaranya tanpa alasan, mungkin saja itu tanda-tanda emosional yang ia tunjukkan.

Tanda fisik

Tanda-tanda fisik stres pada remaja bisa dilihat dari seringnya ia merasa lelah, sakit kepala, sembelit, mual dan pusing. Beberapa dari mereka juga ada yang sampai kehilangan nafsu makan serta jantung berdebar kencang. Ada juga beberapa remaja yang mungkin saja sampai kehilangan atau berat badan bertambah berlebihan. Untuk anak perempuan yang sudah menstruasi, bisa jadi mengalami perubahan dalam siklusnya.

Tanda perubahan perilaku

Yang tadinya ceria jadi selalu tampak gelisah. Yang sebelumnya santai kayak di pantai, menunjukkan kebiasaan gugup seperti menggigit kuku, mondar-mandir gelisah, hingga menangis, mengasingkan diri dari teman dan keluarga. Ketika mereka menjadi tidak peduli dengan penampilan mereka sendiri, dan tidak menunjukkan minat pada kegiatan yang biasanya mereka sukai, itu bisa jadi pertanda stres.

Tanda kognitif

Stres pada remaja dapat memengaruhi kemampuan kognitif terutama dalam daya ingat. Bukannya mereka ceroboh atau abai, tapi akibat stres, kewajiban-kewajibannya mungkin lambat laun ia lupakan. Selain itu tanda kognitif yang menunjukkan anak stres termasuk berpikir nggak rasional, sulit fokus, melihat hal selalu dalam perspektif negatif, dan penilaian yang buruk.

Kalau sudah begini, dan sebagai orangtua kita mulai kewalahan, ada baiknya minta bantuan ahlinya seperti psikolog anak.


Post Comment