Seandainya Saya Menjadi Mamanya Milea dan Dilan

Kalau boleh berandai-andai, kayaknya andai saya jadi mamanya Milea atau Dilan, rasa-rasanya saya akan melakukan beberapa hal ini deh.

Kalau harus memilih, mungkin saya masuk ke dalam golongan penonton yang lebih menyukai film Dilan 1990. Salah satu penyebab, bisa jadi karena di Dilan 1990, Milea masih ada sifat galaknya di awal. Begitu menonton Dilan 1991, yang ada sepanjang durasi film berjalan, saya sibuk gregetan dan membatin di dalam hati …

“Apaan sih Milea?”

“Ngapain sih Milea begini?”

“Dih Dilan cita-citanya cetek amat …”

Ahahahaha, ya begini ini kalau ibu-ibu rempong nonton film yang banyak romantisme ala anak SMA yang cetek. Eh tapi asli deh, dulu waktu saya SMA, waktu saya ‘digelapkan’ oleh cinta (monyet) juga nggak gitu-gitu amat kok *__*. Yaaaa, ada gombalannya, ya ada nangis-nangisnya, ya ada berantem-berantemnya tapi nggak begitu-begitu amat, hehehehe.

Seandainya Saya Menjadi Mamanya Milea dan Dilan - Mommies Daily

Yang ada, sepanjang film diputar, otak saya juga ikutan muter dan mikir, lalu berandai-andai, kalau seandainya saya jadi orangtuanya Milea atau Dilan, mungkin saya tidak akan melakukan ini dan malah akan melakukan itu. Ini beberapa contohnya:

1. Saya nggak akan membiarkan anak perempuan saya yang sudah mengambil keputusan untuk putus lalu nangis-nangis di depan cowok yang dia putusin. Boleh dia nangis, tapi ya jangan di depan mantan pacarnya dong. Gengsi, ahahaha. Rada labil kesannya, kalau udah minta putus, lantas nangis-nangis heboh. Hayooo, kamu harus tegar sedikit nak atas keputusan yang sudah kamu ambil.

2. Saya juga akan menegur Milea ketika dia menarik Dilan dan meminta Dilan mengatakan kalau Dilan adalah pacar Milea di depan tamu keluarganya. Ngapain? Kan nggak usah juga memproklamasikan sebuah hubungan kalau memang cowoknya nggak mau. Lagipula, nggak perlu terlalu gembar-gembor tentang sebuah hubungan kalau masih seumur jagung.

3. Kalau baru pacaran seumur jagung, nggak usah manggil orangtua pacar kita dengan sebutan Mama atau Bunda ….. duh, nanti kalau putus sedih rasanya nak. Memanggil tante atau Ibu juga udah bentuk penghargaan dan menghormati kok.

4. Hmmm, kalau saya tahu anak saya ‘disosor’ begitu aja dan dia sampai trauma plus nangis-nangis, saya nggak akan duduk diam manis dan sekadar memeluk anak saya sih. Rasa-rasanya, setidaknya saya akan mengatakan bahwa sikap anak saya sudah benar, karena berani bersikap tegas dan langsung pergi meninggalkan si laki-laki itu.

5. Nah, kalau saya jadi orangtuanya Dilan, begitu dia ditangkap untuk kesekian kalinya, saya nggak akan juga melarang dia pulang ke rumah. Lah, lebih bahaya nggak sih ketika kita nggak tahu di mana anak kita tidur? Dengan siapa anak kita berteman? At least kalau di rumah, saya masih bisa mengawasi dan pergaulannya juga lebih bisa diperhatikan.

Jadi demikian review receh dari sudut pandang seorang ibu yang memiliki anak laki-laki. Pahaaam kok, film ini diambil berdasarkan sebuah novel hasil karya penulis ternama. Tapi saya boleh kan yaaa menyelipkan hal-hal yang saya harapkan, hehehe (ya bikin film sendiri aja Fi! :D).

Sepanjang saya nonton film ini bersama anak saya, semua pesan-pesan di atas udah saya sampaikan ke anak-anak saya.Iya, biar kata mereka laki-laki, mereka juga nggak boleh nangis-nangis nggak jelas, mereka juga harus menghargai perempuan, mereka juga nggak usah manggil orangtua dari pacar mereka dengan sebutan Mama atau Bunda :D.

Dari film Dilan 1991, seengkanya anak-anak saya belajar tentang “gombalin’ cewek dengan kalimat-kalimat puitis. Mari kita nantikan film Milea.


Post Comment