Tak Usah Memaksa Menyapih Anak Meski Sudah 2 Tahun

Saya berhenti menyusui Xylo di usia 2 tahun 11 bulan. Sepanjang itu pula, berbagai pertanyaan muncul dari banyak orang.

Apalagi jika menyusui di tempat umum seperti ruang menyusui mall. Rata-rata yang disusui adalah bayi atau maksimal anak 1 tahun. Sementara Xylo sudah bisa bicara dan sama sekali tidak terlihat seperti bayi.

Tapi saya cuek saja dan tidak peduli karena kenapa harus? Hahaha. Bagi para ibu yang judgmental dan memberi pandangan atau malah bertanya “sudah besar kok belum disapih?” Saya jawab apa adanya “iya nih males, nanti tidurnya susah”. Biasanya mereka berhenti bertanya.

Sejujurnya saya punya beberapa alasan kenapa saya tidak memaksa menyapih ia di usia 2 tahun. Yang pertama, lama menyusui adalah masalah budaya.

Kasus Pertama, Perempuan Transgender Bisa Menyusui - Mommies Daily

Di Amerika, Kanada, dan Inggris, menyusui anak setelah lewat 1 tahun sudah dikategorikan sebagai extended breastfeeding. Mereka menganggap tabu dan banyak yang melakukannya diam-diam.

Di Indonesia, dipengaruhi oleh budaya dan agama, menyusui dilakukan biasanya hingga usia 2 tahun. Lewat itu banyak ibu yang melakukannya diam-diam karena sudah pasti ditanya-tanya orang.

Suami saya menyusu hingga usia 4 tahun. Salah seorang sahabat saya juga sama, menyusu sampai usia 4 tahun. Salah satu nanny di daycare Xylo menyusui anaknya hingga akan masuk SD 6 tahun.

Di Mongolia bahkan ASI itu tidak eksklusif untuk bayi. ASI perah wajar disajikan untuk seluruh anggota keluarga. Geli? Tidak. Ini hanya masalah kebiasaan saja. Masalah budaya.

Karena anak juga belum mengerti soal budaya. Ia hanya masih ingin menyusu dan kalau memang belum siap, sebetulnya tidak perlu dipaksa untuk disapih.

Kedua, menyusui adalah bonding terbaik jadi kesiapan berhentinya harus datang dari kedua belah pihak. Banyak ibu yang merasa patah hati saat anak berhenti menyusui. Mungkin, mungkin lho ya ini, mungkin karena ibu justru memang belum siap untuk berpisah.

Jadi yang saya lakukan dulu hanyalah sounding tentang suatu hari nanti, ia akan berhenti menyusu. Awalnya saya memberi deadline pada diri sendiri sama seperti orang lain: 2 tahun. Jelang 2 tahun saya merasa belum siap jadi ya sudah lanjutkan saja.

Belum siap karena saya merasa itu satu-satunya momen quality time kami setelah saya seharian bekerja. Dulu ia belum lancar bercerita, belum bisa mengobrol serius, jadi satu-satunya jalan ya berpelukan sambil menyusui.

Ketiga, saya terlalu malas untuk sleep training. Realistis saja, kita ibu bekerja gini kan waktu tidur itu sesuatu yang tidak tergantikan kan. Kalau saya harus sleep training 1-2 minggu karena melepas ASI, jujur saya malas. Lebih baik buka payudara, nenen, langsung dia tidur seketika.

Di usia 3 tahun kurang sebulan kami memutuskan bergenti. Kondisi saya pun sudah sangat lelah menyusui. Saya dan Xylo “berdiskusi” sampai akhirnya sepakat untuk berhenti asalkan ia merayakan ulang tahun ketiga di sekolah.

Tanpa drama dan air mata. Ia hanya lupa sekali dan minta nenen, menangis sebentar kemudian lupa. Tidak rewel sama sekali, tidak perlu sleep training.

Jadi sebetulnya tak perlu memaksa menyapih anak hanya karena ada deadline 2 tahun. Tanyakan pada diri sendiri apakah kita siap? Lihat pula kondisi anak, apakah ia siap? Tidak ada salahnya memperpanjang proses menyusui daripada berhenti dan ibu dan anak jadi sama-sama cranky atau patah hati. :)


Post Comment