Syarat Memilih Sekolah Anak Menurut Para Ibu Zaman Sekarang

Memilih sekolah anak saat ini nggak hanya tentang swasta atau negeri, murah atau mahal, tapi ibu millennial masih punya sederet syarat yang luar biasa panjang.

Perasaan, dulu zaman saya kecil, urusan masuk sekolah yang membuat orangtua pusing hanyalah: biaya, lokasi, swasta atau negeri dan NEM yang cukup atau tidak (duh yang nggak ngerti apa itu NEM, tolong google aja ya ahahahaha).

Kalau sekarang? Kayaknya semua hal di atas itu hanyalah sebagian kecil dari sekian banyaaaaak syarat yang sekarang dimiliki oleh para ibu millennial ketika mereka mencari sekolah untuk anak-anaknya.

Terlepas dari jenjang pendidikan apa yang dicari, berikut point-point yang kini menjadi concern penting bagi sebagian besar para ibu:

Syarat Memilih Sekolah Anak Menurut Para Ibu Zaman Sekarang - Mommies Daily

1. Bagaimana perilaku murid-murid yang bersekolah di sana

Apakah para muridnya paham tata krama, berbicara, berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik serta sopan?

2. Apakah terbuka terhadap perbedaan?

Meskipun ingin memasukkan anak ke sekolah dengan basis agama, namun apakah sekolah mengajarkan anak untuk mampu menerima perbedaan di sekitar mereka, apakah edukasi agama yang diberikan cenderung radikal atau tidak?

3. Bebas dari politik atau tidak?

Semakin panas suasana politik Indonesia saat ini, ketika rumah ibadah pun dijadikan panggung untuk berpolitik, banyak ibu yang khawatir jika sekolah juga menjadi lingkungan yang tak lagi steril dari politik.

4. Pergaulan antara orangtua seperti apa?

Pernah ngalamin dicuekin sama sesama orangtua hanya karena kita nggak datang menggunakan dress code yang hanya digunakan untuk ngopi bareng? Nah, pastikan dulu orangtua di sekolah yang kita incar nggak serewel itu. Nggak cuma anak-anak lho yang butuh bergaul secara sehat, orangtua juga perlu.

5. Bangunan, ruang kelas dan fasilitas pendukung

Apakah masih ada ruang terbuka untuk anak bermain, amankah dari kendaraan lalu lalang. Sirkulasi udara di kelas, ketersediaan air mineral yang bersih untuk anak, pendingin ruangan dkk-nya.

6. Lulusannya akan lanjut ke mana?

Umumnya dengan mengetahui lulusan dari sekolah tersebut lanjut ke mana, orangtua setidaknya bisa menilai kualitas pendidikan yang diajarkan.

7. Pergaulan anak-anak cenderung borju atau tidak?

Seorang saudara mengeluhkan sekolah anaknya yang teman-temannya setiap kali liburan harus ke luar negeri. Atau bagaimana ketika hari Jumat, wali kelas akan menyebutkan nama-nama donatur terbesar di minggu ini dengan suara lantang.

8. Edukasi seks seperti apa?

Alangkah baiknya jika sekolah rutin mengadakan edukasi seks sesuai usia untuk para orangtua dan murid. Bisa dibagi menjadi dua kali sesi edukasi, untuk kelas 1-3 dan kelas 4-6. Jangan hanya berdasarkan pelajaran di buku sekolah saja.

9. Kualitas makanan di kantin

Kalau sudah didominasi oleh berbagai macam mi instant, junkfood, jajanan nggak jelas, seringkali orangtua menjadi illfeel.

10. Kebersihan toilet

Mengingat anak akan menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, malas juga lho kalau kondisi toilet kotor dan ketersediaan air bersih tidak mencukupi. Yang ada, anak akan menahan diri untuk BAK atau BAB dan ujung-ujung anak bisa terkena penyakit.

11. Kualitas para pengajar

Nggak sedikit orangtua yang mencari tahu latar belakang yayasan sekolah, kepala sekolah, dewan Pembina hingga guru-guru yang mengajar di sana.

12. Perbandingan guru dan murid dalam satu kelas

Jumlah murid berapa banyak? Jumlah guru yang mengawasi di dalam kelas berapa? Apakah ada psikolog yang akan menemani anak ketika anak bermasalah?

13. Kegiatan non akademik

Anak kan nggak hanya belajar saja ya kerjanya. Mereka juga butuh menyalurkan hobi mereka. Nah, apakah sekolah menyediakan fasilitas tersebut? Apakah ada banyak pilihan ekstra kurikuler, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat mengasah kemampuan anak? Misalnya, Business Day, Sport Day, Career Day dsb-nya.

14. Bagaimana sekolah memandang orangtua dan murid?

Ada sekolah-sekolah yang cenderung menciptakan komunikasi satu arah. Orangtua dan murid hanya menerima surat edaran tentang keputusan-keputusan yang telah diputuskan. Namun, ada sekolah-sekolah yang sangat menganggap orangtua serta murid adalah partner yang perlu diajak berdiskusi serta berkomunikasi dalam mengambil keputusan.

Kalau mau dirinci atau kalau mau dilempar pertanyaan ke lebih banyak sumber, mungkin akan lebih banyak point yang dikumpulkan. Kalau mommies bagaimana?

Baca juga:

Kenapa Saya Nggak Mau Anak-anak Saya Satu Sekolah


Post Comment