Apa Itu HOTS yang Katanya Akan Diterapkan Untuk UN SD dan SMP?

Untuk para ibu yang anaknya mau UN, mari kita berkenalan dengan soal HOTS yang konon kabarnya akan ditetapkan untuk UN SD dan SMP.

Sebenarnya waktu pertama kali saya diminta Fia menulis soal HOTS, saya agak sedikit mengernyitkan dahi. “Binatang” baru apa lagi ini? Setelah beberapa waktu mencari tahu, maka saya menemukan bahwa HOTS digadang-gadang sebagai metode pembuatan soal untuk Ujian Nasional. Selain untuk UN jenjang SMP, jenjang SD disebut-sebut juga akan menggunakan metode HOTS.

Apa Itu HOTS yang Katanya Akan Diterapkan Untuk UN SD dan SMP? - Mommies Daily

Pengertian HOTS

Oke, sekarang kita mulai dulu dengan apa itu HOTS? HOTS merupakan singkatan dari Higher Order Thinking Skills. Pada sejarahnya HOTS diperkenalkan oleh Benjamin S. Bloom dan timnya dalam buku yang berjudul Taxonomy of Education Objectives: The Classification of Educational Goals (1956). Buku ini membagi tingkat pemikiran yang dikenal dengan konsep Taksonomi Bloom, konsep yang merupakan tujuan pembelajaran dan terbagi dalam tiga ranah, yaitu:

Ranah kognitif (keterampilan mental seputar pengetahuan)
Afektif (sisi emosi sikap dan perasaan)
Psikomotorik (kemampuan fisik seperti keterampilan)

Yang penting diketahui, HOTS merupakan bagian dari ranah kognitif yang ada di dalam konsep Taksonomi Bloom. Tujuannya adalah untuk mengasah keterampilan mental tentang pengetahuan. Di tahun 2001 ranah kognitif mengalami revisi oleh Lorin Anderson, David Karthwol, dan timnya sehingga HOTS meliputi:

Mengingat (remembering)
Memahami (understanding)
Mengaplikasikan (applying)
Menganalisis (analyzing)
Mengevaluasi (evaluating)
Mencipta (creating)

Sampai sini sudah pusing? Jangan! Hahaha…masih ada keterangan selanjutnya. Pusingnya nanti saja kalau sudah kelar baca. Kita pusing bareng, ya :))

Soal-Soal HOTS

Untuk menjawab soal-soal HOTS, dibutuhkan daya logika dan kemampuan berpikir analitis dibanding menjawab soal-soal LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu soal yang hanya mengandalkan daya ingat. Dilansir dari situs ini, Guru Besar ITB bidang Matematika, Iwan Pranoto, mengungkapkan bahwa soal HOTS harus mengandung analisis, evaluasi dan mencipta. Ketiganya merupakan tahap tertinggi pendidikan dalam Taksonomi Bloom. Harapannya, sih, anak-anak Indonesia lebih bisa menghadapi tantangan dunia yang makin kompleks. Supaya anak-anak punya kemampuan menyelesaikan masalah yang kompleks, berpikir kritis dan rasional. Jika terbiasa dengan soal-soal HOTS, diharapkan potensi mereka semakin berkembang, menjadi anak yang kritis dan kreatif.

Kendala Soal-Soal HOTS

Jika ditelaah, metode HOTS ini menurut saya merupakan metode yang baik. Siapa, sih, yang nggak mau anaknya tumbuh menjadi anak yang mampu berpikir analitis dan jadi manusia yang kreatif? Semua orangtua pasti mau. Hanya saja masalahnya, mungkinkah diterapkan sekarang? Siapkah peserta didik, terutama tim pengajarnya dalam menerapkan metode pembelajaran ini?

Tahun 2018, siswa kelas 12 menjadi siswa-siswa pertama menjawab soal-soal HOTS dalam Ujian Nasional dan mengeluhkan bahwa soal-soal tersebut tidak pernah diajarkan selama ini. Pertanyaan ini terus terang saya nggak bisa jawab. Asli! Yang ada setelah menulis artikel ini kemudian jadi sedikit khawatir nasib si sulung yang tahun depan menghadapi UN SD. Hahaha… Ini kemudian menggiring ke pertanyaan berikutnya. Perlu bimbel? Ah, kita pikirkan nanti saja, ya. Yang tahun ini konon UN SD dan SMP-nya diterapkan soal-soal HOTS, tolong kita dikasih kisi-kisi :)

Baca juga:

Para Ibu Pejuang Try Out, Santai Sedikit Yuk!


Post Comment