Ibu, Percaya Kamu Nak!

Oleh: Febria Silaen

“To be trusted is a greater compliment than being loved” -George MacDonald

Percaya pada anak - Mommies daily

Kita, sebagai orangtua pernah dibenturkan pada kondisi harus bisa percaya apa yang dikatakan anak. Meski realitanya, terkadang sulit, tapi ternyata ini adalah modal utama dalam menanamkan rasa percaya diri, tanggung jawab dan tentu bersikap lebih baik.

Seperti yang baru-baru ini terjadi. Satu sore, tiba-tiba saya mendapatkan pesan yang bikin kepala pusing dan memancing emosi. Isi pesan itu menceritakan bahwa anak saya, baru saja memukul kepala teman bermainnya. Si ibu yang melaporkan itu sangat tidak terima atas apa yang dilakukan anak saya. Dan meminta agar tidak lagi diulang karena itu sangat menggangu.

Deg! Seperti disiram air panas kepala saya membaca pesan tersebut. Saya mencoba menarik napas panjang sembil menyusun kalimat dengan santun untuk menjawab pesan dari si ibu tersebut.

Singkat kata, saya meminta maaf atas hal tersebut dan akan mengajarkan anak saya untuk lebih santuk ketika bermain. Lalu, langsung selesai? Ya, mungkin urusan saya dengan ibu tersebut selesai untuk saat itu. Tapi urusan saya dengan anak saya? Tentu belum selesai.

Masih ada amarah yang tertahan. Sebab, jujur ini adalah kali pertama saya mendapatkan teguran atas perilaku anak ketika ia bermain bersama teman-temannya.

Saya langsung mengajak putri semata wayang untuk duduk dan menceritakan apa yang terjadi. Ia menceritakan dirinya tidak memukul kepala temannya. Bermula dari temanya yang menginjak kakinya. Dan anak saya memberikan respon kaget dan meminta temannya minta maaf.

Tapi bukan kata maaf yang diperoleh, malah temannya menganggap anak saya terlalu keras menegurnya dan balik membentak. Dengan suara mengecil anak saya mengakui sempat kesal dan memukul pipi anak tersebut.

Saya pun kaget lagi! Dan akhirnya emosi memaksa anak saya untuk menceritakan yang sesungguhnya. Apa benar ia memukul kepala temannya. Berulang kali dengan suara tegas dan emosi saya bertanya soal itu. Dan berulang kali juga ia megatakan TIDAK sembari menangis.

Dengan suara parau ia bilang, “Ibu, kenapa nggak percaya aku? Aku tidak memukul kepalanya!”

Saya kaget dan terdiam. Apa yang saya lakukan? Ternyata, saya tidak memercayai anak saya. Saya bahkan mengintimidasi dirinya dan seakan membenarkan laporan sepihak. Padahal, saya ingin menjadi ibu dan orang pertama yang selalu dapat memberikan kepercayaan dan percaya padanya. Setelah terdiam cukup lama. Saya memeluk dan mengatakan, “Maaf. Ya, ibu percaya kamu tidak memukul kepala teman mu.”

Isak tangisnya pun reda. Namun, saya tetap mengatakan bahwa yang dilakukan itu tidak baik. Sudah temannya tidak nyaman. Dan saya anjurakan, ia meminta maaf kepada teman dan ibu temannya.

Akhirnya saya belajar lagi untuk memberikan kepercayaan kepada anak. Meski tidak mudah, apalagi bila tersulut emosi dan menanggung malu karena mendapat teguran dari orang lain atas sikap anak saya.

Hal ini saya lakukan, karena ketika saya menjadi anak, orangtua saya juga memberikan kepercayaan tersebut. Tentang memberikan kepercayaan kepada anak, saya teringat apa yang pernah orangtua lakukan.

Ketika SMP, saya pernah diajak bolos oleh teman perempuan. Saya pikir tidak menjadi masalah, sebab, saya bolos bisanya saya cerita kepada orangtua. Jadi saya santai saja. Tapi ternyata ceritanya menjadi panjang. Orangtua teman saya, menghubungi orangtua saya dan meminta datang ke rumahnya.

Di sana, orangtua saya sempat dicerahami. Dan saya ikut kena “semprot”, karena dianggap mengajak teman saya bolos. Orangtua saya tidak terlalu banyak bicara, akhirnya dengan besar hati, ayah meminta maaf kepada kedua orangtua teman saya.

Sepanjang perjalanan pulang, saya risau. Takut dan ingin mengklarifikasi bahwa bukan saya yang mengajaknya bolos, tetapi sebaliknya. Namun, belum sempat saya beragumen, ayah mengatakan, “Bapak, percaya sama kamu. Kamu tidak seperti yang diceritakan ibu teman mu. Jadi, jangan diulang lagi, ya. Cukup sekali saja!”. Saya menangis dan berjanji akan bertanggung jawab atas kepercayaan yang mereka berikan dan tidak akan mengecewakan mereka lagi.

Ah, saya jadi menyesal sempat emosi, marah dan tidak percaya dengan cerita anak saya. Mulai sekarang “Ibu, percaya kamu, Nak!”. Karena siapa lagi yang mengenal dan bisa memercayai anak-anak, kalau bukan kita orangtuanya sendiri!


Post Comment