9 Risiko Hamil di atas 35 Tahun

Hamil di atas 35 tahun masih mungkin terjadi, tapi ada risiko yang menyertai. Apa saja?

9 Risiko Hamil di atas 35 Tahun - Mommies Daily

Bicara soal hamil di atas 30-an, jadi ingat soal pertanyaan kapan punya anak kedua yang sering datang ke saya. Yang paling bikin saya takut hamil lagi, adalah alasan usia *kan jadi ketahuan deh, hahaha. Tahun ini saya  sudah 35, dari sisi stamina, pasti sudah jauh berkurang. Wong pas hamil di usia 29-30, terutama di trimester ke-3, saya mengalami lelah fisik yang luar biasa. Baru berjalan di pusat perbelanjaan, kurang dari setengah jam, sudah mencari tempat duduk untuk istirahat. Membayangkannya aja, saya nggak berani harus hamil di usia sekarang.

Meski kata  dr. Riyan Hari Kurniawan, SpOG dari RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, usia saya masih ideal untuk hamil, yaitu 20-35 tahun, tapi kok saya tetap gentar ya. Selain itu, dokter Riyan mengatakan perempuan  semakin tua akan memiliki jumlah dan kualitas sel telur yang diproduksi oleh ovarium (indung telur) yang juga menurun.

Baca juga: Rekomendasi Dokter Kandungan Favorit dari Sesama Mommies di Jakarta, Bekasi, dan Depok

Dengan modal sel telur yang kurang baik maka kemungkinan terjadinya risiko dan komplikasi dalam kehamilan juga akan meningkat. Selain itu perubahan dalam sistem reproduksi dan meningkatnya kemungkinan masalah kesehatan umum yang datang seiring bertambahnya usia hal ini juga akan berkontribusi dalam kondisi kehamilan usia lebih dari 35 tahun.

Jadi hamil lebih dari 35 tahun maka risiko komplikasi dalam kehamilan akan semakin meningkat. Komplikasi yang muncul dapat berupa:

  1. Peningkatan risiko keguguran.
  2. Kelainan kromosom (genetik) pada bayi.
  3. Kelainan kongenital (cacat bawaan).
  4. Kencing manis saat kehamilan.
  5. Plasenta previa (letak plasenta di bagian bawah, menutupi jalan lahir).
  6. Persalinan dengan operasi sesar.
  7. Hipertensi (tekanan darah tinggi).
  8. Kejadian kematian pada perinatal, kematian dalam kandungan juga meningkat seiring dengan peningkatan usia saat kehamilan.
  9. Kelahiran prematur, dan usia kehamilan kecil (small for gestational age) yang tinggi.

Poin lain yang digaris bawahi dokter Riyan, adalah soal kesuburan saat perempuan makin berusia. Yaitu ketika frekuensi ovulasi (matang dan keluarnya sel telur dari indung telur) yang semakin jarang. Ketika perempuan bertambah usianya, mereka akan mengalami beberapa siklus di mana sel telur tidak dilepaskan. Kualitas dan kuantitas sel telur juga menurun ketika perempuan berusia sekitar 30-40 tahun.

Sudah terlanjur hamil, apa yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko-risiko di atas?

  1. Segera memeriksakan ke dokter untuk penilai kondisi awal kehamilan.
  2. Skrining risiko komplikasi dalam kehamilan.
  3. Membuat rencana kontrol selama kehamilan.
  4. Rekomendasi suplementasi saat hamil dan konseling terkait rencana cara dan tempat persalinan saat mendekati kelahiran bayi.
  5. Pada usia kehamilan lebih dari 35 tahun dimana memiliki risiko terjadinya kelainan kromoson (genetik) pada bayi maka dapat juga dipertimbangkan pemeriksaan kelainan kromosom saat kehamilan.

Soal makanan, intinya harus mencukupi kebutuhan kalori sesuai kebutuhan dan mencukupi asupan mikronutrien juga. Menghindari kebiasaan berisiko seperti konsumsi alkohol, merokok, penggunaan obat-obatan.

Demi keselamatan janin dan ibu, sebaiknya menghindari makanan yang dapat meningkatkan risiko seperti daging yang dimasak kurang matang (steak), sayuran yang tidak dicuci dan dan masak kurang baik. Selama kehamilan juga  akan membutuhkan lebih banyak asam folat, kalsium, zat besi, vitamin D dan nutrisi penting lainnya. Jika sudah makan makanan sehat, pertahankan. Bisa juga mengonsumsi vitamin prenatal harian – idealnya dimulai beberapa bulan sebelum terjadi konsepsi.

Baca juga: Prakonsepsi: Langkah Awal Persiapan untuk Menjadi Calon Orangtua


Post Comment