Jadi Ibu itu Boleh Banget Ambisius, Asal …

Sejak kecil, saya adalah orang yang ambisius untuk banyak hal. Punya anak bukan membuat saya lebih santai, malah semakin ambisius hahahaha.

Contohnya urusan pompa ASI. Semua anggota keluarga adalah support system yang baik untuk pengalaman memberi ASI saya tapi tetap saja ada masa-masa di mana saya ingin menyerah. Suami juga padahal tidak masalah kalau-kalau saya ingin berhenti memberi ASI dan beralih ke formula, tapi tentu saya yang tidak mau.

Saya malah tersinggung dan langsung membuat strategi dalam memompa ASI sehingga cadangan ASI harus cukup untuk Xylo selama di daycare. Saya buat KPI harian untuk diri sendiri dan minta nanny di daycare untuk mencatat detail asupan ASI Xylo setiap hari.

Saya tidak peduli harus pumping di mobil atau dini hari sepanjang KPI harian saya terpenuhi. Kadang pula pumpingnya sambil menangis saking capeknya, tapi karena orientasinya angka yang jelas ya ASI tetap keluar. Karena bagi saya yang membuat bahagia adalah jumlah stok ASI yang cukup.

ibu ambisius

Semakin Xylo besar, saya makin sadar diri bahwa saya tidak bisa terus menerus seperti ini. Karena ia bukan lagi bayi dan tidak lagi menggantungkan hidup pada saya seorang. Ia adalah individu sendiri dan bukan kendaraan untuk saya mencapai ambisi.

Menjadi ibu itu boleh ambisius, asal …

Persiapkan ekspektasi

Motherhood requires a child and a mom. Jadi nggak mungkin dong saya ngotot sementara anak saya nggak mau. Nah agar tidak kecewa, saya belajar mengelola ekspektasi. Saya harus selalu mengingat, urusan parenting ini bukan semata kepentingan saya. Tapi ada kepentingan anak juga!

Tidak memaksakan kemauan pada anak

Ya, seperti yang saya bilang, saya tidak boleh memaksakan ambisi pada anak. Anak adalah individu sendiri yang punya keinginan sendiri. Saya tentu tidak boleh memaksakan ambisi pribadi yang sekarang sudah bertabrakan dengan anak.

Karena kadang garisnya jadi blur. Misal saya berambisi ingin anak yang jago olahraga supaya jadi anak berprestasi dan lebih mudah dapat sekolah. Padahal anaknya tidak suka olahraga. Kemudian saya keukeuh itu semua demi anak. Yakin demi anak bukan demi ambisi pribadi?

Sadar pada kemampuan diri sendiri

Ini soal materi sih. Kadang saya merasa harus memaksakan diri untuk memberi yang terbaik bagi anak. Kalau sudah begini maka harus kembali sadar bahwa definisi terbaik itu adalah memberi sebaik mungkin sesuai kemampuan. Kan tidak lucu ya anak sekolah mahal tapi saya jadi banyak utang.

Tidak lupa untuk jadi manusia

Yang ini urusan mental. Menjadi ibu yang ambisius itu melelahkan tapi mau istirahat kok rasanya sayang? Lebih baik melakukan hal lain (untuk mengejar ambisi lain!) Wow kalau sudah begini maka harus ingat kalau ibu juga manusia. Tidak perlu merasa selalu dikejar tenggat dan waktu.

Santai sedikit, leyeh-leyeh sejenak, jangan lupa bahagia!


Post Comment