5 Kecemasan yang Dirasakan Orangtua

Coba jujur sama diri sendiri, sebagai orangtua kita semua pernah cemas tentang lima hal ini. Tapi apa iya segitu menyeramkan? Yuk, bahas satu persatu.

5 Kecemasan yang Dirasakan Orangtua - Mommies Daily

Suatu hari pas jam makan siang, saya ngobrol sama teman yang baru saja dinyatakan mengandung. Dia bilang gini:

“Sempat kepikiran, aku mampu nggak ya, jadi orangtua?”

Jangankah menjadi orangtua, ketika menerima tanggung jawab baru di kantor saja, ada perasaan yang bertanya-tanya, “Sanggupkah saya?” Terlebih, menyandang predikat sebagai orangtua, ada sosok manusia yang hidupnya tergantung sama kita hingga puluhan tahun ke depan, hingga saatnya mereka bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Selain itu, coba kita bahas kecemasan lain yang biasanya terlintas di benak para orangtua.

1.Saya bukan orangtua yang cukup baik!

Baik ini punya cakupan yang luas lho. Mari coba jabarkan dengan konkret. Dari segi pendidikan kah?, finansial, stok sabar, atau ilmu tentang tumbuh kembang anak, dan seterusnya? Hey, mommies perlu diingat, tidak ada manusia yang sempurna, termasuk sosok orangtua. Selama kita selalu berusaha jadi orangtua yang memenuhi hak dasar anak-anak, kesampingkan rasa takut itu. Fokus pada hal yang baik-baik.

2.Apakah anak saya bisa survive di sekolah, dan apakah saya sudah cukup membantu dirinya?

Iya sih, anak saya Jordy baru berusia 4,5 tahun. Kurang dari 2 tahun menjelang SD, saya parno sendiri. Apakah semua bekal skill dia di playgroup, dan TK sudah mumpuni dia bisa bertahan nanti di SD? Yang ada stres, kalau terus-terusan mikirin itu. Hal yang mengurangi rasa khawatir saya, rajin review mengenai tumbuh kembangnya, dari usia 0-sekarang, apakah semua berjalan sesuai standar ilmu kedokteran anak? Jangan enggan, jika memang menemukan kejanggalan, untuk menemui expert. Makin awal terdeteksi, makin mudah pula kita menanganinya.

Yang penting, saya mencari dan menentukan lembaga pendidikan yang sesuai dengan karakter Jordy, dan value sebagai orangtua. Diimbangi dengan memaksimalkan peran kami sebagai orangtua di segala kondisi Jordy.

3.Pengaruh lingkungan untuk pembangunan karakter

Mau itu punya anak perempuan atau laki-laki, zaman sekarang kayaknya sama saja. Yang bikin takut, kita dan para pendidik sudah mati-matian menanamkan nilai-nilai baik di rumah, karena lingkungan pertemanan yang nggak seberapa sering ketemu, berpotensi menyusupkan hal-hal nggak baik buat anak. Sejauh ini strategi yang kepikiran sama saya, cari tahu dengan siapa saja dia berteman. Pastikan hanya pas cukup usia, ketika memberika izin punya social media. Jangan lupa, kita juga menjadi temannya, apapun jenis akun social medianya.

4.Sekian jam jauh dari dia, saya nggak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya

Apapun bisa terjadi dengan keluarga kita, dimanapun itu, kapappun itu. Permasalahannya, sejauh mana kita bisa meminimalkan hal-hal buruk terjadi pada keluarga kita. Misalnya pakai pengasuh, berikan aturan main yang jelas, SOP penanganan pertama pada berbagai jenis luka, dan tinggalkan nomor-nomor anggota keluarga yang mudah dihubungi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Poinnya, sebagai orangtua harus proaktif mencari cara melindungi anak dan keluarga dari segala jenis bahaya. Kalau menitipkan anak di daycare, dari awal cari daycare yang punya pengamanan ketat soal keselamatan anak.

Baca juga:

Value yang Harus Dibicarakan kepada Daycare

Waspada Ajarkan Anak Pertahanan Diri

5.Suatu hari, mereka akan menemukan kehidupannya sendiri *OH NO

Ini sih yang paling bikin pingin mewek. Setelah sekian puluh tahun sama saya, saatnya saya melepas dia ke dunianya sendiri. Membiarkan Jordy bertanggung atas pilihan-pilihan hidupnya. Menyaksikan dia punya kendali penuh atas dirinya sendiri.

Aaah, hidup orang dewasa itu memang penuh tantangan, ya. Tapi sebanding dengan hasilnya, kelak anak kita memeluk dan bilang, “Mah pah, aku bahagia dan bangga punya orangtua seperti kalian!”

Artikel ini diadaptasi dari: choupicos.com


Post Comment