Orangtua Mari Ajarkan Anak Tentang Sopan Santun di Dunia Kerja

Masuk kerja baru satu hari, keesokan harinya menghilang, kontak orang kantor diblokir, lalu mengajukan resign dalam secarik kertas post-it!

Selamat datang di era ketika pegawai baru kantoran menganggap kantor tidak jauh beda dengan halte bis yang bisa disambangi dalam waktu hitungan jam, lalu ditinggalkan begitu saja.

Jadi, tulisan ini dibuat berdasarkan curhatan seorang teman di laman social media miliknya. Yes, kantornya baru saja meng-hire- pegawai baru. Anak baru lulus kuliah. Hari pertama diajaklah si pegawai baru ini untuk ‘bedah buku,’ (kebetulan teman saya memang bekerja di perusahaan media), lalu tiba-tiba sore harinya si anak baru ini menghilang, dihubungi nggak bisa, bahkan kontak HRD diblokir, besok tidak datang, kemudian ditemukan permintaan resign dalam bentuk SELEMBAR KERTAS POST-IT! Ahahahahaha.

Banyak yang mengaitkan perilaku ajaib ini dengan tahun kelahiran atau generasi tertentu. Dikatakanlah generasi millennial atau generasi Z memang minim tata krama. But in my opinion, nggak peduli masuk di dalam generasi apa mereka, tata krama harusnya adalah nilai-nilai yang wajib dimiliki oleh setiap orang di setiap tahun kelahiran.

Jadi, marilah kita sebagai orangtua, tak hanya mendidik anak untuk pintar secara akademis, pintar bersosialisasi, sopan terhadap orangtua dan di lingkungan keluarga, namun mari ajarkan anak-anak kita juga untuk paham sopan santun di dunia kerja.

Bahwa bekerja, tak hanya mencari gaji besar dan perusahaan idaman, tapi ada nilai-nilai lain yang perlu mereka pahami.

1. Ada tata cara dalam mengirim email lamaran pekerjaan, nak. Bahwa kamu harus menyebut dengan respek nama bapak atau ibu yang kamu tuju. Tidak tahu namanya? Telepon kantornya dan bertanya. Semudah itu mencari informasi, kok!

2. Berikan penjelasan singkat tentang siapa diri kamu dan lowongan yang kamu inginkan di body email, jadi nggak ujuk-ujuk kamu hanya menulis “Hai, saya ingin melamar. Terlampir cv saya. Terima kasih.” Helloooo, yang melamar pekerjaan nggak hanya kalian. Jadi, berikan informasi singkat dan sopan.

3. Perhatikan pakaian yang kamu kenakan ketika sesi wawancara terjadi. Entah itu wawancara secara langsung, atau video call.

4. Ketika kamu sudah diterima bekerja, pahami bahwa hidup tak lantas menjadi mudah. Dalam dunia kerja, jangan berharap kamu hanya akan melakukan pekerjaan yang kamu sukai. Ada kalanya kamu mungkin terpaksa melakukan pekerjaan yang kurang kamu minati atau bahkan di luar job desc kamu. Anggap saja itu menambah pengalaman. Namun jika sudah keterlaluan, sampaikan keberatan kamu ke atasan dengan cara yang baik.

Baca juga:

Mendidik Anak Perempuan yang Anti Menye-menye Club

Orangtua Mari Ajarkan Anak Tentang Sopan Santun di Dunia Kerja - Mommies Daily

5. Yayayaya, mungkin sebagai ‘kutu loncat’ yang kerap berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, gaji kamu akan meningkat drastis. Tapi kamu tahu ada kata yang bernama loyalitas? Itu salah satu yang kadang dilihat oleh perusahaan. Maka, cobalah untuk minimal kamu bertahan di satu perusahaan selama sembilan bulan atau satu tahun, mungkin?

6. Setiap perusahaan pasti ada aturan mainnya nak, mau itu perusahaan nenek moyang kamu. Maka, pahami bahwa aturan itu berlaku untuk semua orang, termasuk kamu.

7. Kamu sakit atau izin sehingga tidak bisa masuk? Informasikan ke atasanmu (lagi-lagi) dengan kalimat yang sopan. Pastikan juga kalau tidak terpaksa, jumlah cuti yang kamu ambil tidak melampaui jatah cuti yang kamu miliki, ya nak.

8. Kamu ingin resign? Silakan, Apa pun alasan yang membuat kamu resign. Tapi ajukan resign dengan baik dan benar. Ibarat kata, kamu datang dengan baik-baik, keluarlah dengan baik-baik, jangan seperti maling yang main kabur seenak jidat. Masalah bahwa kamu mungkin akan terkena penalti karena keluar sebelum masa kontrak berakhir, atau bahwa kamu akan dipersulit keluar, itu salah satu risiko yang memang harus kamu terima. Anggaplah ini pelajaran kamu untuk bertanggung jawab dengan apa yang kamu pilih.

9. Kamu merasa overqualified? Sehingga mau semenyebalkan apa pun kamu, kamu berpikir akan selalu ada perusahaan yang menerima kamu? Itu hak kamu. Tapi, siapa tahu kamu lupa, ada yang namanya koneksi di dunia kerja. Di mana berita negatif tentang seseorang bisa dengan cepat menyebar dan itu akan berpengaruh dengan kredibilitas kamu. Jadi, mohon maaf, sekadar mengingatkan, kalau bisa menjadi manusia pintar dan mempunyai sopan santun, kenapa memilih menjadi manusia pintar tapi menyebalkan?

Kadang di usia anak yang sudah layak untuk masuk ke dunia kerja, kita menganggap bahwa mereka sudah paham semuanya. Ternyata nggak. Kita, sebagai orangtua, tetap perlu mengingatkan, apa yang akan mereka hadapi, apa yang perlu mereka lakukan, setiap kali mereka memasuki dunia baru yang masih asing bagi mereka.

Baca juga:

8 Hal yang Wajib Diajarkan Ayah ke Anak


Post Comment