Pilih Mainan untuk Anak, Mainan Edukasi atau Biasa?

Saya dan suami adalah orang dewasa yang senang mainan. Setelah punya anak, kami jadi menyadari bahwa mainan yang Xylo punya adalah mainan yang kami sukai hahaha.

Iya, sampai sekarang saya belum pernah beli mainan berlabel “edukasi”. Kalaupun punya pasti berupa hadiah, bukan saya beli sendiri. Satu-satunya mainan yang dekat dengan “edukasi” yang Xylo punya adalah Lego.

Xylo punya koleksi Lego yang cukup banyak, bukan karena saya memikirkan tentang kemampuan spasialnya, tapi karena saya juga sejak kecil senang main Lego, jadi menemaninya bermain tidak jadi terasa bosan. LOL.

mainan
Mainan edukasi adalah mainan yang dibuat untuk mengembangkan kemampuan anak sambil bermain. Tapi kemudian timbul pertanyaan, sebenarnya perlukah mainan edukasi itu?

Setelah membaca dari berbagai sumber, intinya adalah bukan mainannya yang edukatif, tapi bagaimana peran orangtua saat menemani anak bermain. Apakah anak dijelaskan tentang mainannya? Apakah anak bebas bertanya dan orangtua pasti menjawab?

Orangtua juga bisa memberi pertanyaan “tes” seperti warna, bentuk, ukuran, jumlah atau pertanyaan yang kritis “kira-kira kalau dibalik akan gimana ya?” atau “bisa nggak pakai cara lain bikin yang sama?”

Interaksi ini diperlukan agar anak bisa mengeksplor mainannya. Juga agar memberi konteks pada apa yang mereka pikirkan, memberi masukan, dan mengasah kreativitas dalam suasana yang menyenangkan karena ditemani oleh orangtua.

Dilansir The Guardian, Krister Svensson, Direktur International Toy Research asal Stockholm menyatakan bahwa tidak ada riset ilmiah yang menyatakan sebuah mainan adalah edukatif. Menurutnya, mainan edukatif hanyalah bahasa bisnis saja.

“Suasana bermainnya yang edukasional, bukan mainannya. Kalian bisa mengambil benda apapun dan membantu anak untuk menggunakannya dengan berbagai cara yang bisa membantu mengembangkan berbagai macam skill. Every toy is educational and no toy is educational. Mainan hanyalah properti, apakah mainan mengajarkan anak apapun, bergantung pada seberapa bermakna konteks bermainnya,” ujar Kristen

Jadi sebetulnya “sia-sia” jika mainannya edukatif namun tujuan dibelikan mainannya adalah agar anak main anteng sendirian. Konsep edukasinya jadi kurang. Sebaliknya, mainan biasa pun bisa jadi mainan yang edukatif jika dimainkan dengan konteks bersama orangtua.


Post Comment