Dear Workaholic Mom ….

Untuk para ibu yang bekerja terlalu keras, yang bekerja hingga tak lagi mengenal waktu. Tolong baca tulisan saya ini …. untuk para workaholic mom.

Mengenal teman perempuan yang kerap dianggap workaholic? Atau jangan-jangan kita sendiri masuk ke dalam golongan workaholic? Kesannya mungkin pekerja keras, tapi kalau mengutip arti workaholic di Wikipedia, artinya tuh sama sekali nggak keren lho!

“Kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan lainnya. Seperti aholic lainnya, workaholic juga mempunyai kecanduan yang tidak sehat, dalam hal ini kecanduan kerja, mengejar karier dan menganggap mereka adalah satu-satunya orang yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan benar.”

Dan, ini berbeda dengan pekerja keras, saudara-saudara! There is a significant difference between being engaged at work and being addicted to it.

True, our career is important, tapi begitu juga dengan keluarga kita, teman-teman kita, kehidupan pribadi kita lainnya. Jadi, kalau kita merasa bahwa kita masuk ke dalam golongan workaholic yang nyaris tidak lagi punya kehidupan di luar pekerjaan, coba deh lakukan 8 hal ini:

Dear Workaholic Mom …. - Mommies Daily

1. Akui bahwa kita memang workaholic

Pertama-tama ini yang perlu kita lakukan. Menyadari dan mengakuinya. Karena ketika kita sibuk denial, maka langkah-langkah untuk ke tahap selanjutnya ya nggak akan berguna. Sadari aja bahwa memang kita bekerja terlalu keras, bahwa pekerjaan terlalu banyak menyita kehidupan kita. Dari sini baru kita bisa sadar, kenapa kita perlu slow down sebentar.

2. Bicara dengan terapis atau ahlinya

Secinta-cintanya kita pada pekerjaan, ketika itu sudah mengambil nyaris sebagian besar waktu kita, nggak mungkin kita nggak merasakan apa yang namanya frustasi atau stress. Maka, nggak ada salahnya sesekali bertemu dengan terapis, atau dalam kasus saya, psikolog. Nggak perlu nunggu ada masalah untuk bertemu yang namanya “Psikolog.” Ini yang kadang orang suka salah kaprah. Sesi curhat ini membantu kita untuk paham, di mana letak ‘salahnya’ kita. Apa yang membuat kita tetap kerja padahal udah nggak harus kerja. Even the strongest of us could use extra help sometimes!

3. Patuhi jam kerja sebisa mungkin

Kenapa saya bilang sebisa mungkin? Karena yang namanya kerjaan kadang ada masanya seperti kasih ibu yang tak kenal waktu, hahahaha. Sesekali lembur, masih okelah. Tapi kalau lembur menjadi makanan sehari-hari, ada yang salah dengan sistem kerja atau pola pikir kita.

4. Cari hobi lain selain bekerja

Kalau saya, berolahraga di sela-sela hari kerja merupakan hobi yang membantu saya memiliki kegiatan lain di luar bekerja, makan, tidur dan belanja, hehehe. Seminggu pasti saya berolahraga tiga sampai empat kali. Seriously, mempunyai hobi, mau itu olahraga, bersepeda, fotografi, berkebun, apa pun deh, dan bertemu dengan teman-teman yang juga memiliki hobi yang sama, membuat kita otomatis mengurangi keinginan untuk bekerja berlebihan.

5. Miliki batasan

Jangan terlalu ngoyo membuat 4 sampai 5 meeting di luar kantor yang akhirnya memaksa kita lembur untuk menyelesaikan pekerjaan lain di luar meeting. Sadar akan keterbatasan waktu yang kita miliki. Bahwa sekian jam kerja itu harus dibagi untuk sekian to do list.

6. Makan siang jangan di meja kerja

Sesekali? Masih oke. Tapi kalau setiap makan siang selalu berakhir di meja kerja dan di depan laptop, kapan istirahatnya kepala dan mata kita? We deserve proper lunch, lho! Kalau kita sering mengatakan “I don’t have time for lunch,” fixed kita bermasalah. Saya paling suka waktu makan siang di meja pantry. Bisa bahas gossip nggak penting sampai ketawa ngakak. Refresh my mind dan membuat saya segar untuk kembali bekerja. Menikmati makan siang selama 30 menit nggak membuat penilaian kerja kita menurun, kok, mom!

7. Batasi sikap perfectionist

Selalu ingin sempurna di setiap napas kita saat bekerja? Not! You are human. We are human.

8. Belajar bilang TIDAK

Enggan menolak sebuah pekerjaan menjadi salah satu pemicu kenapa orang pada akhirnya terlalu banyak memberikan waktunya pada pekerjaan. How to say NO is one of the most powerful skills you can master, hehehe. Berhenti mengiyakan semua permintaan atasan, kolega atau siapa pun di kantor, kalau memang kita tidak punya waktu dan tenaga untuk melakukannya. “In other words, stop being the person who can do everything. Because we CAN’T!”

Buat batasan bagi diri kita. Karena kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan membantu kita mendapati keseimbangan dalam hidup, menjalani multiperan sebagai ibu, istri, pekerja, teman?


Post Comment