Saya Tidak Ingin Menjadi Ibu Seperti Mama Saya

Saya tidak pernah ingin menjadi ibu plek ketiplek seperti mama saya. Kenapa? Silakan baca tulisan saya berikut ini.

Kalau banyak anak perempuan yang memiliki hubungan penuh keakraban dan bahkan menjadi sahabat dengan ibunya sendiri, maka kondisi itu tidak berlaku pada saya dan mama.

Mungkin, sama seperti sebagian besar ibu generasi zaman baheula, mama saya mendidik ketiga anak perempuannya dengan keras bahkan cenderung heartless. Mama saya bukan tipikal ibu yang penuh pujian ke anak-anaknya. Bukan tipe ibu yang penuh kegiatan peluk memeluk atau membacakan buku cerita untuk anak-anaknya di masa kecil. Bukan juga tipikal ibu yang kerap mengatakan “Mama sayang kamu,” “I love you dek,” dan sejuta ungkapan sayang lainnya. Nope, itu bukan mama saya.

Ooooh, dan jangan berharap juga mendengar mama saya mengatakan ke tiga anak perempuannya “Kamu cantik,” “Cantiknya mama,” dan sejenisnya. Kalau ada orang lain yang memuji kami cantik, jawaban mama “Anak-anak saya nggak ada yang jelek, tapi juga nggak cantik.” Titik. Nggak ada basa-basi. Jadi kami juga terbiasa tumbuh dengan pikiran, cantik itu nggak penting, yang penting otak dan tingkah laku yang baik.

Keberhasilan yang diraih oleh anak-anaknya, ya bagi mama itu bukan sebuah pencapaian, namun memang sebuah keharusan! Entah keberhasilan dalam bidang apa pun. Dunia akademis, dunia kerja atau dunia parenting. Ibarat kata, nggak usah bangga kamu rangking satu, atau nggak usah bangga keterima di Universitas Negeri, karena memang itu keharusan kamu, bukan sebuah prestasi.

Saya Tidak Ingin Menjadi Ibu Seperti Mama Saya - Mommies Daily

Mama memenuhi hari-hari anak-anaknya dengan kritikan. Nilai yang turun, pakaian yang tidak sesuai, pemilihan pacar hingga gaya pengasuhan kami ke anak-anak setelah kami menjadi orangtua, semua dipenuhi kritik.

Mama juga mengajarkan kami tanggung jawab ya nggak tanggung-tanggung. Cuci pakaian dalam sendiri dari SD. Nilai merosot, ya bye bye uang jajan. Kuliah mundur, silakan bayar sendiri uang kuliah semester berikut.

Dan pada akhirnya, ini membuat hubungan saya dengan mama tidak semanis madu. Ada jarak yang tercipta. Ada luka masa kecil dan remaja yang kadang muncul ke permukaan.

Tapi kalau ditanya, apakah mama sayang kami? Sudah pasti. Dan sebaliknya, kami pun juga menyayangi mama. Hanya saja, wujud rasa sayangnya ya memang unik.

Dari sini saya belajar, bahwa bentuk sayang yang ditampilkan seorang ibu itu bisa berbeda-beda. Dalam kasus mama, kritikan dan didikan yang keras ya itulah bentuk sayangnya ke anak-anak. Dengan harapan? Agar anak-anak perempuan tidak tumbuh menjadi pribadi yang manja dan lemah. Perempuan itu ya harus kuat. Perempuan itu ya harus berani. Perempuan itu ya harus memiliki mimpi dan mewujudkan mimpi itu.

Maka ketika sekarang saya sudah menjadi orangtua, saya belajar menemukan formula yang tepat. Tidak, saya tidak ingin menjadi persis seperti mama. Saya ingin menemukan ramuan saya sendiri. Mengambil yang bagus dari mama dan membuang yang buruk.

Saya ajarkan anak-anak untuk membersihkan rumah, mencuci pakaian dalam, bersikap sopan seperti yang dulu mama ajarkan ke saya.

Saya ajarkan anak-anak untuk memahami bahwa kecerdasan itu jauh lebih menarik dibanding tampilan fisik semata seperti apa yang dulu mama ajarkan ke saya.

Saya ajarkan anak-anak untuk tidak manja menjalani hidup, bahwa kalau mau sesuatu ya harus usaha dan berani bertanggung jawab dengan apa yang kita perbuat seperti apa yang dulu mama ajarkan ke saya.

Tapi …..

Saya juga menunjukkan ke anak-anak, bahwa hidup mereka tak hanya diisi oleh kritikan namun juga pujian …. hal yang tidak saya peroleh dari mama dulu.

Saya juga menunjukkan ke anak-anak, bahwa rasa sayang itu ya harus diungkapkan dengan kata-kata juga, nggak hanya disimpan dalam hati …. Hal yang tidak saya peroleh dari mama dulu. Jadi, anak-anak saya cukup kenyang mendengar saya ngomong “Mama sayang kakak dan adek,” atau “I love you nak …”.

Saya juga menunjukkan bahwa rasa sayang, selain dengan kata-kata juga bisa diperlihatkan dengan cara memeluk dan mencium …. hal yang dulu semacam tabu ditunjukkan oleh mama. Dan sekarang, saking seringnya saya peluk dan cium, anak-anak pun suka risih sendiri, ahahahhaa.

Mama tetap ibu terbaik dan terhebat bagi saya. Terlepas dari plus minus yang beliau miliki. Saya percaya, itu adalah usaha terbaik yang memang bisa mama berikan ke anak-anaknya, dan saya menghargai itu. Toch, akhirnya mama memang bisa mendidik kami menjadi perempuan-perempua mandiri yang kuat dan cenderung berpikir rasional alias ‘heartless’ ahahaha.

Namun, sama seperti mama yang memiliki ramun tersendiri untuk menjadi ibu, saya memilih untuk tidak mencontoh mama 100 persen. Saya ciptakan formula baru, dengan uji coba yang bisa saja berhasil, bisa juga gagal. Dengan harapan bisa menjadi ibu yang lebih baik untuk anak-anak saya.

Selamat Hari Ibu untuk para ibu hebat di mana pun kalian berada. Selamat mencari formula yang tepat sebagai ibu untuk anak-anak kalian.


Post Comment