Soft Skill yang Wajib Dimiliki Pemimpin

Tak sekadar gelar pendidikan, pengalaman sekian tahun menjadi supervisor dan hal lainnya yang bersifat teknis. Lebih dalam dari itu, soft skill juga memengaruhi sukses tidaknya seseorang memimpin timnya

soft skill - Mommies Daily

Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Apalagi di tahun 2018 yang penuh dengan situasi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) ini. Keadaan yang penuh dengan ketidakpastian ini menuntut individu memiliki skill sets yang lengkap untuk menjadi seorang pemimpin. Keterampilan teknis atau kecerdasan (hard skill) adalah hal yang mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin. Selain itu, pemimpin juga dituntut untuk memiliki serangkaian soft skills yang dapat menunjang proses bisnis perusahaan.

Soft skills adalah segala hal yang melekat pada seorang individu yang mendukung kemampuannya untuk berinteraksi secara efektif dan harmonis dengan orang lain. Secara garis besar, ada beberapa soft skill yang penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu 3C: Connection, Clarity & Commitment. Connection adalah kemampuan seorang pemimpin dalam membangun komunikasi, melekatkan hubungan interpersonal, serta menjaga keutuhan tim. Clarity adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengatur target yang jelas dalam rangka menjaga kualitas kerja tim. Sementara Commitment adalah kapasitas seorang pemimpin untuk konsisten dalam menjaga komitmen tim dalam mencapai target perusahaan.

Hal pertama yang dapat dilakukan untuk melatih Connection adalah dengan mengidentifikasi gaya berkomunikasi Anda dan bawahan Anda agar dapat menentukan cara berkomunikasi yang paling tepat bagi masing-masing individu. Menurut Annie Waldherr dan Peter M. Muck (2011), terdapat 8 gaya komunikasi berbeda yang dapat disimpulkan ke dalam Communication Style Circumplex, seperti yang tergambar dalam ilustrasi berikut ini:

1. Assertive Style

Orang dengan gaya komunikasi ini cenderung to the point dan mampu mengutarakan maksudnya dengan jelas dalam setiap perdebatan.

2.Expressive Style

Dalam setiap acara sosial, dia dapat dengan mudah berbicara dengan orang asing.

3.Responsive Style

Orang dengan gaya komunikasi ini adalah orang yang selalu tahu kata yang tepat diucapkan di segala situasi. Contohnya: kalimat penyemangat di saat seseorang merasa lesu atau sedih.

4.Agreeable Style

Orang dengan gaya komunikasi ini akan berusaha untuk meredakan situasi yang panas, bukannya mempertahankan diri saat seseorang menyerangnya dengan argumen.

5.Submissive Style

Orang ini cenderung menyetujui pendapat orang lain saat mereka mengutarakan pendapat.

6.Reticent Style

Saat berada di keramaian, orang ini hanya akan berbicara jika seseorang mengajak dirinya berbicara secara langsung, dia tidak akan menjadi orang pertama yang membuka percakapan.

7.Inconsiderate Style

Orang ini tidak peduli dengan perasaan orang lain. Jika dia tidak tertarik dengan masalah yang dihadapi seseorang, dia akan mengatakannya secara langsung tanpa peduli responnya.

8.Aggressive Style

Orang ini akan mengambil setiap kesempatan untuk menyerang orang lain yang berselisih paham dengan dirinya.

Setelah mengetahui gaya berkomunikasi masing-masing, aktifkan skill Clarity Anda dengan mengomunikasikan target yang ingin dicapai secara gamblang kepada masing-masing individu. Sajikan buah pikir Mommies ke dalam sebuah Action Plan yang jelas, lengkap dengan tujuan (direction), kesejajaran (alignment), serta timeline agar tim Anda memahami tenggat waktu yang ada. Be there for your people, terutama di masa transisi saat mengaplikasikan suatu pekerjaan. Terkadang, yang dibutuhkan oleh bawahan adalah perasaan bahwa mereka dimengerti, serta perasaan aman karena yakin bahwa pemimpin akan selalu ada untuk membei support di saat genting. It’s all about presence and clarity.

Terakhir, seorang pemimpin perlu memiliki Commitment yang clear. Mommies harus mampu untuk menempatkan kepentingan perusahaan di atas kepentingan pribadi. Anda pun dituntut untuk bisa konsisten dalam mendorong pencapaian target.

Setelah membaca artikel ini, coba refleksikan ke dalam diri. Apakah Anda telah mampu menempatkan diri sebagai pemimpin yang baik? Apakah Mommies telah mampu mengatur tim untuk mencapai target perusahaan? Apakah Mommies sudah menjaga moral karyawan tetap tinggi saat menghadapi situasi genting? Jika sudah, bagus. Jika belum, tidak perlu khawatir. Proses pembelajaran adalah hal yang terjadi terus menerus, sehingga belum terlambat bagi Anda untuk terus berkembang menjadi lebih baik lagi. Investasikan waktu serta dana untuk kegiatan pengembangan diri dan tim demi kelancaran proses bisnis perusahaan.

Penulis: Ratu Shalicha Anindra, EXPERD Consultant

Sources:

EXPERD Consultant’s “COMMANDER™” – S(t)imulate Your Leadership Character Module

Waldherr, A. & P. M. Muck (2011). Towards an integrative approach to communication styles: The Interpersonal Circumplex and the Five-Factor Theory of personality as frames of reference. Communications, 36 (2011), 1-27.


Post Comment