“Ayah nggak boleh cium dan peluk Bunda!”

Normalkah anak usia 4 tahunan cemburu pada pasangan kita sendiri? Lalu gimana, ya, cara menjelaskan bahwa cium dan peluk itu wajar terjadi antara suami dan istri?

anak cemburu dengan pasangan - mommies daily

“Pokoknya ayah nggak boleh cium dan peluk bunda!.”

Kalimat di atas lagi sering dilontarakan si anak lanang saya, Jordy (4,4), ketika pasangan sedang melayangkan cium dan pelukannya. Langsung deh, Jordy nyelip di antara kami, nggak rela bundanya lagi mesra-mesraan.

Pas sesi curhat sama tim editorial MD, Icha. Hal yang sama juga terjadi di rumah dia, kebetulan anak Icha juga laki-laki, Xylo (4,5.) Hubungan si ayah dan anak ini, kami menyebutnya “Hate and love relationship.” Sesaat damai, nggak sampai lima menit kemudian bisa deh tuh berantem, karena urusan sepele, hahaha. Salah satunya, ya, karena cemburu.

Ingin membunuh rasa penasaran, saya menghubungi Mbak Vera Itabiliana, Psikolog Anak dan Keluarga untuk mencari tahu seputar hal ini. Kata Mbak Vera, fenomena ini normal saja kok terjadi. Alasannya, di usia tersebut, mereka mulai merasa terikat lebih dalam dengan orangtua, ke yang berlawanan jenis. Anak perempuan ke ayahnya, anak laki-laki ke ibunya.

Selain itu, dari usia 3 tahun, anak mulai membangun dasar  konsep diri mereka. “Misalnya aku itu siapa (laki-laki atau perempuan). Kalau sudah besar mau jadi seperti siapa. Termasuk keterikatan dengan lawan jenis, nah lawan jenis yang mereka tahu pertama kali, kan, orangtuanya. Makanya ada ungkapan, cinta pertama anak-anak, yang orangtua mereka,” papar Mbak Vera lebih lanjut.

Makanya di usia-usia segitu, kalau kita iseng tanya, “Mau menikah dengan siapa nanti?” jawabannya sering kali, “papa/mama.”

Ada faktor lain yang harus diwaspadai, kenapa si kecil cemburu sama pasangan kita sendiri. Mbak Vera mengungkapkan, “Ada kemungkinan lain, dia masih merasa asing sama ayahnya. Jadi dia melihat sebagai ancaman untuk merebut hari ibunya.”

Pekerjaan rumah besar yang harus dilakukan, adalah si bapak harus lebih mendekatkan diri sama anaknya. Melakukan ritual khusus, yang hanya dilakukan antara ayah dan si kecil. Ditambah, kita juga harus menjelaskan ke anak, “Nggak apa-apa lho, karena papa juga sayang sama mama, jadi kami suami istri boleh sayang-sayangan.”

Selain itu, kita juga harus memahami bagaimana anak-anak usia seperti Jordy dan Xylo berpikir. Mbak Vera bilang, dalam konsep berpikir mereka, yang boleh peluk cium ibunya, hanya diri mereka. Jadi begitu ada orang lain yang melakukan itu, mereka mulai merasa terancam. “Kok aku bukan satu-satunya?.”

Hal ini bisa saja terjadi bukan sama pasangan kita. Misalnya hendak ketemu sama teman-teman yang sudah lama sekali nggak ketemu. Mbak Vera, berpesan, perlu dijelaskan. Kenapa kita akan berpelukan atau cium pipi kanan dan kiri. Misalnya, karena ibu kangen sekali dengan teman-teman ibu.

Ada yang punya pengalaman serupa, dan mau berbagi cerita? Yuk, tulis di kolom comment :)


Post Comment