Saya Tidak Mau Jadi Teman Untuk Anak Saya

Beberapa waktu lalu saya melihat poster seminar bertajuk (kurang lebih) “Menjadi Teman untuk Anak”. Saya langsung bercermin dan seketika memutuskan: saya nggak mau jadi teman untuk anak.

Seminar itu katanya berisi tips agar bisa jadi orangtua yang seru sehingga anak bisa curhat segalanya. Ya curhat, seperti pada teman sendiri. Menjadi orangtua yang tidak otoriter dan bisa jadi teman nongkrong anak.

Mungkin judul seminar itu hanya sebuah istilah ya. Biar seru aja gitu bahan jualan. Tapi tetap saja, bagi saya orangtua dan teman punya porsinya sendiri. Saya mau jadi orangtua bagi anak saya, bukan teman, bukan sahabat.

banyak-anak

Orangtua punya porsi sebagai pelindung anak, menawarkan rasa aman, dan perasaan selalu diterima. Teman tidak begitu. Teman bukan pelindung, tidak selalu menawarkan rasa aman, bahkan banyak yang memberi banyak syarat agar bisa diterima sebagai teman.

Orangtua harus punya otoritas, punya aturan yang jelas agar anak bisa punya karakter yang baik. Semua ada aturannya, semua ada risikonya. Teman tidak perlu punya otoritas, teman tidak perlu punya aturan yang jelas.

Orangtua juga harus menguasai skill komunikasi yang mumpuni. Harus bisa berdialog dengan anak dan tahu cara penyampaian pesan positif agar anak juga bisa punya konsep diri yang positif. Saat anak cerita ia sedih, orangtua bukan hanya pukpuk dan menenangkan, tetapi juga memberi tahu bahwa dunia memang kadang tidak adil dan ia harus tahu itu.

Di saat yang bersamaan, orangtua juga harus sadar benar anak bukanlah objek. Ia individu sendiri yang bisa mengambil keputusan sendiri untuk hidupnya. Hormati pendapatnya, kenalkan risikonya, biarkan ia memutuskan dan merasakan sendiri manfaat atau konsekuensi dari keputusan yang ia ambil.

Intinya sebagai orangtua saya punya batasan, punya rule yang jelas, dan itu tidak selamanya menyenangkan. Xylo banyak kecewa tapi di saat yang bersamaan ia juga masih bercerita pada saya apa yang membuatnya sedih hari itu.

Saya percaya padanya dan ia harus tahu itu. Ini bukan cuma argumen asal lho ya. Saya memang bukan tipe yang dekat dengan orangtua, tapi dari obrolan dengan teman yang BFF banget dengan mamanya, mereka juga tetap tidak menceritakan hidup 100% pada mama mereka.

Padahal sehari-hari tampak seru sekali, bertukar meme, ngomongin selebgram, nonton konser bareng mama, tapi tetap saja. Mereka tetap punya teman untuk curhat hal yang tidak bisa diceritakan pada mama.

Because a mom is a mom. Mama yang seru tetap beda dengan teman yang seru dan tidak perlu juga memaksakan diri untuk jadi teman bagi anak. Ada banyak kekhawatiran, ada banyak hal yang lebih baik diceritakan pada teman saja daripada mama khawatir. :)

Jadi buat saya, orangtua ya orangtua, teman ya teman. Meski anak bisa bicara segalanya pada orangtua, tetap teman punya porsinya sendiri. Tidak perlulah seposesif itu sampai ingin tahu semua yang dikatakan anak pada teman sampai ingin jadi temannya juga.

Selama ia masih memeluk kita saat sedih dan bercerita riang saat bahagia, artinya anak masih percaya pada kita untuk berbagi emosinya. And it’s more than enough.


Post Comment