Sudah Ibu-Ibu, Les Bahasa Korea? Mau Ngapain?

Menjadi mompreneur, punya dua anak, terus sekarang nekad ikut les bahasa Korea. Kurang kerjaan atau kebanyakan waktu luang?

Sejak resign 2 tahun yang lalu, dan memilih untuk running (micro) company bareng beberapa teman, waktu saya semakin fleksibel. Saya dan teman-teman memang bertekad untuk bekerja bermodalkan home wifi, online WIP meeting, dan seoptimal mungkin meeting dengan klien di luar rumah, yang artinya seminggu cuma 1-2 kali keluar rumah, entah untuk report meeting dengan klien, hingga bertemu vendor.

Nah, karena waktu bekerja menjadi jauh lebih fleksibel, saya mulai merasa ada waktu-waktu bengong yang nggak ganggu aktivitas pekerjaan, maupun bersama keluarga. Saya pun mulai gelisah. Ngapain? Bikin apa? Ngerjain apa?

Les Bahasa Korea

Awalnya sempat galau, mau mengulang belajar bahasa Prancis yang sudah puluhan tahun nggak dipraktikkan lagi, atau belajar bahasa Korea, karena lagi suka nonton drakor. Akhirnya diputuskanlah les bahasa Hangug ini, dengan pemikiran liburan ke Korea tampak lebih mungkin daripada berkunjung ke Prancis. Sesimpel itu. Hahahaha…

Nggak sedikit yang bertanya sama saya, ngapain, sih, les bahasa Korea? Mau pindah ke Korea ya? Mau sekolah di sana? Dari yang nggak sedikit itu, bahkan ada pertanyaan yang bikin saya takjub, memangnya les bahasa Korea menghasilkan duit? Sesungguhnya tujuan utamanya hanya memperkaya diri aja, sih.

Sudah Ibu-Ibu, Les Bahasa Korea? Mau Ngapain? - Mommies Daily

Stimulasi Otak Kiri

Bermula dari iseng mendaftarkan diri, dan kemudian rutin les seminggu 2 kali selama 2 jam, terkadang ada saat-saat saya sedikit menyesal mengambil les bahasa ini. Tak semudah yang saya bayangkan. Tadinya berpikir, karena lagi suka nonton drakor, belajar bahasanya oppa So Ji Sub ini akan mengalir dengan lancar. Nggak tahunya? Peras otak, saudara-saudara. Memeras otak inilah yang ternyata setelah saya baca-baca memberikan banyak keuntungan. Dilansir dari situs ini belajar bahasa baru di usia berapa pun, akan menstimulasi otak kiri untuk menciptakan jalur saraf baru. Proses penciptaan inilah yang mendorong seseorang itu memiliki ingatan yang lebih baik, kreativitas tinggi, serta lebih fleksibel secara kognitif *kedip-kedip*

Teman-Teman Baru, Wawasan Baru

Harus diakui, seusia saya memang jarang banget yang les bahasa asing baru. Otomatis teman-teman les saya usianya jauh di bawah. Jangankan teman, sama gurunya saja sepertinya masih tuaan saya jauh, hahaha… Ngenes juga kalau mereka mulai bertanya, “Kakak angkatan berapa?” Rasanya ingin kujawab, “Aku angkatan ibumu,” walau akhirnya hanya saya balas dengan senyum kecut.

Perbedaan usia ini saya akui sedikit menjadi kendala, terutama ketika berbagi cerita dan minat. Kala belajar bahasa, ada sesi di mana kami harus berpasangan atau berkelompok untuk membuat percakapan dalam bahasa Korea. Saya sedikit struggling untuk menyamakan konteks percakapan serta sharing ide. It’s fun though. Saya punya wawasan baru di luar zona saya sebagai working-at-home-mom. Saya belajar banyak banget hal baru, justru dari teman-teman milennial dan alpha. Sebagai tambahan, saya dapat insight dalam menghadapi anak saya yang jelang remaja. Pas!

Menjawab pertanyaan beberapa teman tadi, apakah les bahasa korea di umur segini membawa keuntungan finansial? Hmmm, saat ini, sih, tidak. Entah 2 atau 3 tahun lagi. Karena kita, toh, nggak pernah tahu apa yang terjadi ke depannya, kan?

“Ih, sok centil banget, sih, belajar bahasa Korea. Mau ketemu sama oppa-oppa ganteng, ya,” begitu seorang teman dengan nyinyir mengomentari usaha saya dalam meng-upgrade diri ini.

My dear, nggak pernah ada ruginya memelajari sesuatu yang baru, entah itu belajar bahasa Korea, workshop merajut, hingga les melukis. Cara orang mengeksplorasi diri tentu berbeda-beda, dan ini adalah salah satu cara saya dalam menikmati hidup ;)


Post Comment