5 Rasa Bersalah Sang Ayah

Ditulis oleh: Saskia Elizabeth

Ternyata sosok ayah yang tampak selalu tenang, sedikit cuek, berwibawa, ternyata memiliki banyak rasa bersalah.

Berikut pengakuan 5 ayah akan rasa bersalahnya terhadap anak, yang menurut mereka tidak pernah mereka share ke para istri dengan berbagai alasan. Takut dibilang gagal, malu, tidak pede, dan tidak penting untuk dibicarakan.

5 Rasa Bersalah Sang Ayah - Mommies Daily

1. Tidak bisa antar anak sekolah, Rio, 36 tahun, Pegawai Negeri

Rasa bersalah saya adalah ketika saya pernah ditanya anak perempuan saya yang berusia 6 tahun, “Kenapa papa gak pernah antar aku ke sekolah?” Saat itu saya baru sadar ternyata hal sederhana mengantar anak ke sekolah itu berarti bagi anak. Saya hanya menjawab, “Mulai minggu depan papa janji ya antar kamu satu kali dalam seminggu.” Setiap satu minggu sekali saya tidak bawa mobil ke kantor, melainkan pesan ojek online pulang pergi kantor rumah biar tepat waktu sampai kantor.

2. Melihat anak menangis ketika saya gendong, Adam, 28 tahun, Musisi

Dulu waktu anak saya baru lahir, setiap saya gendong, anak saya selalu menangis. Duh rasanya sangat merasa bersalah, dan kalau istri saya bilang, “TIdak apa-apa, sabar saja menggendongnya nanti lama-lama dia biasa.” Tapi buat saya mendengar anak menangis itu tidak tega. Begitu ekspresi wajah mulai menunjukkan tanda-tanda akan menangis langsung saya kasih ke istri. Hal ini sempat berlangsung sampai dia berusia 3 bulan. Dikarenakan saat itu band saya baru saja mengeluarkan album baru dan harus berkeliling kota untuk promo tour selama kurang lebih 3 bulan, saya jadi jarang di rumah. Setelah masa promo selesai saya puas-puasin di rumah agar anak saya terbiasa dengan ayahnya sendiri.

3. Memberi anak junk food saat istri tugas keluar kota, Rizki, 40 tahun, Wiraswasta

Rasa bersalah namun kadang tetap dilakukan adalah memberi anak-anak saya junk food atau makanan cepat saji kalau ibunya sedang dinas ke luar kota. Kalau ibunya dinas, saya menjaga mereka dan mengatur menu makanan selama satu minggu. Buat menu makanan itu ternyata ribetnya luar biasa, lebih baik saya diberikan tugas iklan produk yang banyak daripada buat menu. Jadi daripada ribet saya selalu pesan saja dari berbagai restoran cepat saji. Ya risiko terbesarnya selain tidak sehat, juga sudah pasti dimarahi ibunya anak-anak, tapi gimana lagi, dong? Akhirnya kalau istri sedang ada dinas, saya pakai catering. Pesan cepat sajinya hanya sesekali saja.

4. Les dari Youtube untuk belajar mengganti popok si kecil, Dimas, 33 tahun, Brand Manager

Sempat merasa bersalah saat anak saya baru lahir dan saya disuruh mengganti popok, saya buka youtube untuk mengetahui cara mengganti popok. Saya beneran gak kepikiran gimana caranya itu popok bisa nempel di anak saya. Beda ya sama beberapa bapak lain yang secara natural sudah bisa menggantikan popok bahkan tanpa ada yang memberitahu. Untunglah kursus youtube selama 3 hari membuat saya jadi lihai. Istri saya tidak pernah tahu lho saya buka Youtube, ya tentunya sampai cerita ini terbit.

5. Tidak bisa menemani anak belajar, Luis, 37 tahun, Karyawan Swasta

Sangat merasa bersalah kalau melihat nilai ujian anak merah. Terkadang saya ingin bisa selalu ada di rumah lebih cepat untuk membantu dia belajar, jadi tidak hanya menegur saja kenapa nilainya bisa jelek. Kerjaan dan posisi saya menuntut saya untuk sering travelling, akibatnya saya tidak konsisten bisa memonitor kegiatan sekolah anak. Yang terbaik saya bisa lakukan saat sedang tidak travelling ya saya memaksimalkan belajar dengan anak.

Hai para Ayah, kami para ibu pun tak luput dari banyak rasa bersalah, karena kami juga manusia. Jadi jangan pernah takut, malu, dan merasa tidak penting untuk berbagi dengan kami ya. karena kita adalah satu tim, yuk kita sama-sama merasa bersalah dan mengatasi rasa tersebut bersama ????


Post Comment