Saya Belajar dari Anak Tentang 4 Hal Ini  - Mommies Daily

Saya Belajar dari Anak Tentang 4 Hal Ini

Ditulis oleh: Saskia Elizabeth

Delapan tahun menjadi seorang ibu, ternyata saya malah banyak belajar dari anak saya dalam banyak hal. Terutama untuk urusan pekerjaan.

Setelah mengenyam pengalaman menjadi seorang ibu selama delapan tahun dari dua anak, perempuan dan laki-laki, saya jadi sadar bahwa anak-anak itu bisa banget menjadi sumber inspirasi saya (at least itu yang saya rasakan). Karena saya melihat anak-anak itu cara berpikirnya luar biasa. Mungkin juga karena pikiran mereka belum terkontaminasi, polos serta nggak ada batasannya, ya.

No wonder, setiap saya stuck dengan pekerjaan (FYI, berhubung saya bekerja di industry kreatif yang melibatkan kegiatan menulis, membuat instalasi seni hingga membuat konsep produk mainan), saya sengaja melihat mereka dan berusaha berpikir seperti mereka. Lalu taraaaaa, dari situlah ide-ide kreatif saya bermunculan.

Dengan memandang sesuatu dari sudut pandang anak, saya jadi belajar tentang empat hal ini:

1. Anak-anak sangat percaya diri!

Kedua anak saya bukan tipe pemalu atau mudah khawatir. Ini membuat mereka bebas berkarya tanpa merasa takut kalau orang lain menganggap karya mereka tidak bagus. Mereka menggambar suka-suka tanpa dibatasi aturan. Mereka tidak malu untuk bernyanyi di depan kelas, tidak peduli suaranya bagus atau tidak. Kebalikan dengan mereka, kita, sebagai orang dewasa kerap khawatir kalau mendapat penilaian dari orang lain.

Kenapa kita nggak sesekali mencoba seperti anak-anak? Tidak takut memberi ide pada atasan. Tidak takut menciptakan produk yang unik dalam bisnis sendiri tanpa berpikir akan penilaian orang lain. Buang saja rasa insecure dan rasa tidak percaya diri kita. Saya percaya semua ide itu sudah ada di benak kita, tapi tertahan karena berbagai hal, salah satunya perasaan takut dinilai oleh orang lain.

Baca juga:

Mendidik Anak Perempuan yang Anti Menye-menye Club

Saya Belajar dari Anak Tentang 4 Hal Ini  - Mommies Daily

2. Anak-anak tidak memikirkan masa lalu dan juga masa depan

Namanya orang dewasa sudah pasti sih kita memang memikirkan masa depan, dan mengingat masa lalu agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Tapi kembali lagi, belajar deh dari anak-anak untuk fokus pada masa sekarang! Misalnya, saat mau mendesain mainan, saya coba untuk tidak terpaku dengan desain mainan lama atau desain mainan produk tetangga. Saya belajar fokus dengan materi yang dimiliki sekarang, gambar yang sedang ada di benak saya, keadaan alam yang ada di depan mata, atau dengan apa pun yang memang ada di masa sekarang.

3. Playful dan ekspresif

Terkadang menjadi dewasa, kita lupa untuk bersenang-senang. Sedangkan anak-anak? Mandi, makan, tidur bahkan belajar saja bisa dibuat playful. Walau kita kadang gemas karena mereka tidak serius belajar, makan berantakan, mandi sampai membuat lantai becek, tapi yang penting mereka have fun dan menikmati setiap detik dari kehidupan mereka. Free your mind, play and have fun!

Baca juga:

Cara Negosiasi Sehat dengan Toddler

4. No rules

Sebagai orang dewasa kita terbiasa hidup dengan aturan karena sebagai orangtua, ya kita memang terbiasa juga membuat aturan kan untuk anak-anak kita, hehehe. Nah, kalau pikiran anak-anak kan belum ter-framed seperti itu, makanya kita sering ngomel kalau mereka tidak taat rutinitas. Bagaimana kalau kita coba, bebaskan diri dari peraturan dan mencoba hal baru. Contoh makan siang di taman, kerja di luar ruangan, hari sabtu ajak anak-anak melakukan kegiatan volunteer, pulang kantor mampir ke pertunjukan seni, dan sebagainya. Karena hal ini juga bisa membebaskan dari kejenuhan berutinitas.

Saya percaya, we are mature enough to be childish. Jadi saat kita sedikit mengubah cara pandang seperti anak-anak, itu tidak akan membuat kita lantas terlihat kekanak-kanakan.


Post Comment