14 Cara Melatih Kemandirian Toddler

Latih kemandirian toddler dengan 14 cara berikut ini.

Jangan patah semangat buat mommies yang sedang memupuk kemandirian toddler. Mereka butuh waktu, yang penting dari kitanya konsisten memperkenalkan cara-cara sederhana yang menstimulasi kemandirian mereka. Seperti yang kami paparkan di 14 cara berikut ini.

15 Cara Melatih Kemandirian Toddler - Mommies Daily

1. Izinkan anak membuka halaman demi halaman bukunya

Tujuannya sederhana, supaya anak juga punya kontrol ketika melakukan aktivitas membaca. Nggak seru dong, kalau si kecil cuma duduk tenang dan terima beres. Makanya di usia-usia ini, dari pengalaman saya lebih baik membelikan buku yang hard cover. Akan lebih awet.

2. Biarkan anak “memimpin” potty training

Ada yang cepat beradaptasi dengan potty training. Butuh waktu untuk tahu, kapan, dimana dan bagaimana mereka harus buang air kecil dan besar. Yang paling penting kita rajin menunjukkan apa yang harus dilakukan, saat harus buang air kecil dan besar. Jangan lupa kasih semangat.

Yang dimaksud “memimpin” potty training, jangan paksa waktu untuk pipis atau pupup. Kan jam biologis kedua ritual tersebut sulit untuk diterkan jam persisnya. Saya pribadi memberlakukan teknik kisaran waktu, toh anak batita belum paham konsep jam, kan? Misalnya, malam sebelum tidur, dini hari, bangun tidur dan seterusnya. Sisanya insting mereka akan bermain sendiri, kok.

3. Puji usahanya

Khususnya untuk usaha yang dia lakukan pertama kali, dan ketika ia berhasil melalui proses tersebut. Misalnya ingat membereskan mainan.

Baca juga: Anak Mudah Menyerah? Coba Lakukan 5 Hal Ini!

4.Perlakukan mereka seperti orang dewasa dalam memilih makanan

“Lauk malam malam, kamu mau pakai ayam goreng atau dadar telur?”  Dengan begini dia akan merasa punya kendali akan pilihan makan malamnya. Si kecil juga bisa melakukan hal yang sama, dalam hal memilihkan menu makan malam keluarga.

5. Membiarkan anak memilih setelan pakaian

Jangan dulu berharap anak bisa pakai baju sendiri, ya. Karena ini salah satu pencapaian terbesar dalam proses tumbuh kembang anak. Jadi mommies bisa “mencicilnya” dengan cara ini.

6. Bantuin mama masak, yuk, kak

Dikutip dari fatherly.com, si dua tahun ini lagi masa-masanya terobsesi melakukan apapun yang mama dan papa lakukan. Melipat pakaian, memotong sayuran dan pekerjaan rumah lainnya. Nah, dari pada kebanyakan melarang, sekalian aja kita minta dia menolong. Tentu dimulai dari hal-hal yang mudah. Misalnya memindahkan bahan makanan yang sudah dipotong, atau mengaduk sesuatu. Yang pernah saya lakukan meminta tolong Jordy mengupas kulit telur.

7. Santai saja, jangan menuntut kesempurnaan

Gemas saat si kecil mencoba sekuat tenaga memakai pakaian sendiri? Atau soft skill lainnya? Hal-hal semacam ini memang tergolong skill yang sulit dan butuh proses buat si toddler. Anak saya baru bisa lepas dan pakai baju sendiri, lalu gosok gigi sendiri di atas 4 tahun. Itupun hasilnya belum 100% sempurna. Yang penting, mereka sudah mencoba maksimal. Dan sudah punya keinginan melakukan beberapa hal dengan mandiri.

8. Menghadirkan sesuatu sebagai pusat kontrolnya

Fatherly.com memberikan saran, mommies menyediakan satu kotak khusus menyimpan mainan. Bilang sama si kecil, mainan-mainan tersebut harus menurut pada perintahnya. Ia akan bertindak sebagai raja atau ratu, si kecil akan menaruh kembali sejumlah mainan tadi ke dalam kotak, sambil mengenakan mahkota. Supaya lebih terasa peran yang ia mainkan. Hal seperti ini, akan membuat dia tidak sedang mengerjakan kewajibannya membereskan mainan (sssttt, padahal mah sama saja, sih :p)

9.Yuk ambil camilan kamu sendiri

Ya tahulah yaaa, anak-anak itu paling suka sama camilan. Hal ini bisa menjadi ajang mommies melatih disiplin mereka. Sediakan toples plastik yang aman buat anak-anak. Supaya pas ngambil, kalaupun terjatuh tidak membahayakan mereka. Pastikan si kecil juga menaruh ke tempat semula, wadah-wadah berisi camilan mereka.

10. Merapihkan meja makan

Setelah makan libatkan si kecil untuk merapihkan meja makan. Pilih aktivitas yang sederhana – membawakan serbet, peralatan makan anti pecah, dan lain-lain. Ritual seperti ini, perlahan tapi pasti akan meninggalkan pesan, bahwa persiapan dan membereskan makan keluarga dilakukan sepenuh hati.

11.Minta tolong mereka untuk menggambar sesuatu

Saya pernah praktik poin ini. Wajahnya excited, banget, lho, ketika dia menerima perintah. Terlepas hasil akhirnya seperti apa, anak akan merasa dia punya daerah otonominya di atas kertas, atau papan tulis, sesuatu yang harus dia selesaikan. Gambarnya bisa menggambar anggota keluarga, teman-temannya, atau apapun yang mereka sedang suka.

12.Biarkan mereka menyelesaikan konflik sendiri

Poin ke-13 ini kayaknya butuh nyali yang lumayan besar. Soalnya akan melibatkan emosi amarah mereka. Misalnya, mommies mendapati si kecil sedang bertengkar  dengan teman seusianya. Selama tidak membahayakan keselamatannya, biarkan mereka mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dari segi usia, iya, mereka baru tiga tahunan. Tapi mereka juga manusia yang punya perasaan dan segala bentuk emosi yang  butuh dilampiaskan, kan? Tapi jangan lupa awasi dengan saksama. Jika insting mommies mengatakan, konflik tersebut harus melibatkan kita orangtuanya, masuk dengan perlahan. Minta masing-masing cerita bagaimana kronologisnya. Cukup sampai di situ, kembalikan ke anak, tanya apa solusi terbaik dari mereka.

13.Komitmen menaruh pakaian kotor di tempatnya

Mulai deh dari hal-hal yang seperti ini, di dalam kamarnya. Ini juga salah satu bentuk kontribusinya menjaga kerapihan rumah, kok. Hampir sama seperti poin ke-8. Si keranjang ini adalah ranah miliknya. Sebagai “penguasa” ranah tersebut, ia harus memastikan semua barang di kamarnya berada di keranjang sesuai kategori barang. Ingat ya, mommies, meminta si kecil menjaga kerapihan kamarnya bukan hukuman, melainkan karena mereka punya tanggung jawab.

14.Biarkan mereka menggosok giginya sendiri

Tahan-tahan komentar: “Duuh kapan selesainya ini, deeek?.” Bagian terakhir ini, buat saya pribadi sungguh menantang. Adakalanya mulus dari awal sampai akhir, adakalanya mau sikat gigi tapi nggak mau kumur-kumur. Tahu teknik apa yang akhirnya manjur? (setidaknya buat saya), kita ikutan sikat gigi! Anak lebih suka melihat contoh, lalu dia tiru.

Baca juga: 10 Hal yang Bisa Membunuh Rasa Percaya Diri Anak

*Artikel ini diadaptasi dari Fatherly.com


Post Comment