Marak Hoax Penculikan, Tetap Waspada Ajarkan Anak Pertahanan Diri

Seminggu terakhir marak beredar berita hoax tentang penculikan anak, sikap waspada tetap harus dikedepankan. Apa yang bisa kita lakukan?

“Daycare anak gue sampai akhir tahun jadi nggak ada aktivitas di luar dong, gara-gara banyak berita hoax penculikan anak!”

Begitu ujar Icha, tim editorial Mommies Daily, sambil geram. Saya jadi mikir deh, apa sih yang dicari pembuat berita bohong tentang penculikan anak ini? Hidupnya kurang seru apa gimana?

Tanpa berita palsu pun, SOP kami sudah kuat untuk mencegah hal ini terjadi. Ditambah ada fenomena macam ini, owh sorry kami nggak akan kendur merapatkan barisan mengamankan buah hati tercinta.

Marak Hoax Penculikan, Tetap Waspada Ajarkan Anak Pertahanan Diri - Mommies Daily

Kuncinya adalah TETAP WASPADA. Yang namanya musibah, tidak pandang bulu menghampiri siapa pun, dimana pun dan kapan pun.

1.Pastikan anak paham SOP keamanan untuk dirinya

Setiap keluarga punya Standar Operasional Prosedur berbeda untuk mencegah terjadi penculikan, semua sama: cegah anak dari para predator penculikan. Duduk bareng untuk mengomunikasikan peraturan apa saja yang mommies tetapkan bersama pasangan. Agar semua anggota keluarga satu frekuensi. Jika perlu, lengkapi dengan simulasi. Misalnya membuat password yang hanya diketahui oleh anak dan orang-orang kita tunjuk untuk menjemput di sekolah.

2.Ajarkan anak menolak tawaran dari orang yang tidak dikenal

Saya ambil dari artikel Benarkah Stranger is Danger:

  1. Permen, cokelat atau mainan?Katakan tidak lalu ucapkan terimakasih. Atau, katakan kepada yang menawarkan kalau ia harus bertanya dulu ke mama atau ayah.
  2. Diajak mencari binatang peliharaan?Katakan kalau ia sudah punya binatang peliharaan di rumah. Atau, minta ke orang yang mengajak untuk meminta izin terlebih dahulu ke mama atau ayah.
  3. Diajak pergi dari tempat anak berada?Katakan tidak atau bilang mau pamit dulu ke orangtua.
  4. Ada yang memeluk atau meraba?Tangkis dengan tangan atau kaki atau teriak tolong sambil lari.
  5. Jika dipaksa?Lari ke tempat ramai sambil teriak tolong.

Baca juga: Lindungi Anak dari Penculik

3.Tidak selamanya orang asing berbahaya, alasannya…

Masih dari artikel yang saya cantumkan di poin  kedua. Kata Anna Surti Ariani Psi, Psikolog Keluarga. Melarang anak berbicara dengan orang yang tidak dikenal adalah MITOS. Karena  jika anak sampai terpisah dari orangtua, maka anak perlu minta tolong kepada orang yang tidak ia kenal, misal: Satpam.

Makanya makin sering praktik, makin paham si anak, harus minta tolong ke siapa saja ia terpisah dari orangtua. Saat ke mall atau tempat umum lainnya, sempatkan mengadakan safety briefing (lebih baik repot dikit, deh, daripada menyesal kemudian). Latih anak untuk menunjuk mana petugas keamanan dan orangtua seperti kita yang membawa anak, untuk diminta pertolongan.

4.Tidak main gadget saat tidak bersama kita orangtuanya

Kita aja orang dewasa kalau lagi main HP, bisa dipastikan kehilangan fokus. Apalagi ini anak kecil. Kitanya juga janga lengah, pasang “mata elang” ketika bersama anak.

5.Biasakan anak menyuarakan isi hatinya

Anak yang terbiasa dikenali bentuk emosinya, tidak sungkan menyeruakan apa yang dia rasakan. Membedakan mana perasaan sedih, marah, kecewa, senang dan waspada. Pada saat tertekan dan merasa tidak nyaman, maka dia akan dengan mudah memvalidasi bentuk emosi yang sedang terjadi. Takut ada orang tidak dikenal mengajak dirinya, diharapkan anak akan berteriak atau melawan, respond karena sedang merasa terancam.

Baca juga: 4 Produk yang Membantu Keamanan Anak di Area Publik

 


Post Comment