Ini Pertimbangan “Rewel” Saya dalam Memilih Dokter

Di Hari Dokter Nasional ini, mari kita bicara soal memilih dokter. Apa pertimbangan saat memilih dokter?

Kalau saya pertimbangannya lumayan banyak, maklum agak rewel kalau urusan kesehatan. Dari kesamaan value yang dianut, banyaknya review, rumah sakit tempat praktik, sampai gelar dan lulusan mana dokter tersebut.

Saat hamil, saya tidak terlalu rewel memilih dokter kandungan karena kebetulan kehamilan saya tidak bermasalah. Waktu itu yang pertama saya cari adalah rumah sakit pro normal dan pro ASI, kemudian cari yang antriannya paling pendek hahaha.

12 pertnyaan yang sering diajukan orangtua pada dokter anak

Gimana ya, lagi hamil, hanya bisa ke dokter saat weekend, nggak sanggup rasanya kalau harus mengantri sampai ratusan nomor. Di pertemuan pertama kami langsung “wawancara” diam-diam. Dokter saya waktu itu lulusan UI. Papanya dokter kandungan juga dan bahkan kakeknya juga dokter kandungan keluarga Soekarno! Yakin dong ya langsung? Kepercayaan istana pada zamannya lho! :))))

Namun makin dekat ke melahirkan ternyata orangtua minta melahirkan di Bandung. Panik dong ya karena harus PDKT lagi sejak awal dengan dokter baru. Tanya sana-sini pada teman-teman yang sedang hamil juga dan tinggal di Bandung, mereka menyarankan satu nama. Lulusan Unpad, rumah dekat dengan rumah sakit, dan hanya praktik di rumah sakit itu.

Pertimbangan pertama adalah kesamaan value. Saya menggunakan RUM (rational use of medicine) untuk Xylo dan tidak semua dokter akrab dengan metode ini. Jadi menemukan dokter yang pro RUM dan tidak selalu memberi obat itu rasanya senang sekali.

Kedua, tidak judgmental. Saya pernah terpaksa (karena Xylo sakit dan kebetulan dokter langganan sedang di luar negeri) bertemu dokter anak yang lain. Ia terus mengkritik karena Xylo dititipkan di daycare. Ia menganggap daycare sebagai sarang penyakit. Waw, langsung kapok dan tidak mau ke sana lagi. Iyalah, daycare sama rumah saya juga lebih hygienis daycare kali deh hahahaa.

Ketiga, bisa diajak diskusi. Paling malas dengan dokter yang “iya bu” atau “nggak apa-apa kok” padahal saya bertanya panjang lebar. Ya saya nggak punya background medis tapi kan saya berhak tahu dong alasan medis di balik setiap keputusan yang dibuat oleh dokter.

Keempat dan sebetulnya nggak terlalu prioritas tapi tetep penting untuk peace of mind. Saya memilih dokter yang lulusan universitas ternama.

Kenapa lulusan mana begitu penting? Karena ada kenalan saya yang saya tahu persis (maaf ya huhu) sejak kecil tidak terlalu pintar namun berhasil kuliah di sebuah kampus kedokteran swasta di Bandung. Lulus dan praktik.

Saya kok agak ngeri-ngeri gimana gitu ya. Ini kan menyangkut nyawa. Meskipun ya pilih rumah sakitnya juga kan yaaa. Kalau rumah sakit ternama hampir pasti dokternya juga dari lulusan universitas ternama.

Please note, saya bisa bebas punya pilihan seperti ini karena tinggal di Jakarta ya. Ngerti banget kok yang tinggal di daerah akses ke fasilitas kesehatan itu sulitnya minta ampun. Nggak ngerti juga solusinya gimana huhu :(

Kalau mommies bagaimana? Apa pertimbangan saat memilih dokter?


Post Comment