Single Mom Survival Guide: Avi Basuki, “Kalau lelah, mudah marah, sedih, berhenti sebentar, istirahat!”

Avi Basuki, menjalani peran single mom sejak putrinya Asmara masih dalam kandungan. Selama kurang lebih 9 tahun, apa ya, yang membuat dia kuat menjalani proses ini?

Avi Basuki (48) seorang seniman dan guru yoga ini termasuk perempuan yang berani mengambil risiko. Sebelum anaknya lahir, ia memilih mengambil peran sebagai ayah sekaligus ibu. Kini putri semata wayangnya, Asmara sudah berusia 9 tahun.

Avi Basuki - Mommies Daily

Selama itu pula ia berjuang untuk Asmara, memenuhi kebutuhan putrinya di segala aspek. Perempuan jebolan Universitas Civica Scuola di Cinema Milano jurusan Movie/Video Editing, ingin berbagi cerita dan semangat kepada MD. Bahwa ibu adalah lentera keluarga. Sebagai sumber kekuatan keluarga, ibu juga harus pandai “membaca” dirinya sendiri.

Katanya, “Kalau kita lelah, tidak sabar, mudah marah, sedih, berhenti sebentar, istirahat, recharge. Karena kita sebagai ibu kita adalah lentera di dalam keluarga, apa yang kita pancarkan akan menerangi dan memengaruhi seluruh keluarga. Dan untuk menjadi ‘terang’ kita juga perlu energi.” Selamat menyimak obrolan kami, mommies.

Moving on tips ala Avi?

Hidup sebagai single mom adalah pilihan pribadi saya, karena situasi saya pada saat itu, saya harus menjalani semuanya sendiri dari sejak awal, bahkan sebelum anak saya lahir. Pilihan yang betul-betul tidak mudah terutama untuk perempuan Asia. Untung saya waktu itu tinggal di Eropa, walaupun support dari pemerintah masih termasuk kurang menurut kebutuhan kami, namun situasi psikologis yang lebih modern membuat hidup saya sedikit lebih ringan secara mental, walaupun secara material dan fisik merupakan beban yang sangat berat.

Meski begitu, saya tidak pernah sekalipun menyesal atas pilihan saya tersebut, pembelajaran yang saya dapatkan begitu besar, membantu saya menjadi manusia dewasa yang penuh pengertian, tidak judgmental dan untuk seterusnya menjadi awal dari proses pembelajaran saya yang paling dalam dalam hidup.

Apa kekhawatiran terbesar kamu, setelah mengambil keputusan tersebut?

Terus terang saja kekhawatiran itu ada, namun saya begitu sibuk dan lelah untuk bisa mengurus anak dengan baik dan melengkapi segala kebutuhannya, bekerja dengan baik dan juga berusaha untuk hidup sebagai perempuan biasa yang tidak memiliki pasangan. Dengan begitu ada beberapa periode yang saya rasakan bahwa hidup berlalu begitu saja, hidup saya ketika itu sudah lumayan bagus kalau bisa survive dan anak tidak kelaparan. Ketika saya mulai menyadari bahwa saya harus bisa memiliki hidup yang bermakna, supaya anak saya juga bisa hidup dan berkembang secara seimbang dan penuh.

Pelajaran apa saja yang kamu petik sebagai single mom?

Menjadi single mom bagi saya adalah untuk belajar mengambil sepenuhnya semua keputusan di tangan saya, mungkin sebetulnya saya beruntung bahwa saya tidak harus bergantung, bertanya, menunggu keputusan dari bekas suami atau dari orang lain untuk setiap keputusan yang saya ambil. Namun risiko lainnya harus saya tanggung: bahwa semua tanggung jawab, apapun yang terjadi dengan saya dan anak saya ada di atas pundak saya sendiri.

Avi Basuki - Mommies Daily

Saya tidak pernah bisa menyalahkan orang lain. Saya pikir ini juga penting diketahui, bahwa hidup kita, dan hidup anak kita, adalah selalu jadi tunggung jawab kita sebagai orang tua, tidak bisa saling menyalahkan, mempergunakan anak sebagai tameng, bekas pasangan  yang disalahkan, atau mengasihani diri sendiri tanpa habis, karena yang perlu diingat dan penting dalam perjalanan ini, saat anak masih membutuhkan bantuan kita. Bagaimana kita bisa membantu anak-anak menjadi manusia yang baik, mandiri, hidup berdasarkan rasa cinta dan kasih sayang, bukan berdasarkan rasa benci, dendam, judgment, superfisialitas.

Sesuatu yang kamu yakini, menjalani peran single mom sejak si kecil dalam kandungan akan baik-baik saja?

Hidup adalah ajang pembelajaran yang tidak akan pernah kekurangan sumber daya, apa yang datang ke pada kita semuanya adalah berkah,  yang kita butuhkan untuk bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik. Kalau kita diberi cobaan dan cobaan lagi kadang-kadang hal yang sama berulang-ulang, mungkin memang kita belum sempat mendapatkan pembelajaran yang benar dari masalah tersebut. Kita harus terus rendah diri untuk mengakui kekurangan kita, dan juga jangan lupa untuk juga merayakan kemampuan-kemampuan kita sebagai super mom, bisa memaafkan terutama diri kita sendiri atas kesalahan-kesalahan di masa lalu, dan perlahan juga memaafkan yang lain yang menjadi halangan kita untuk maju dan hidup tenang berdasarkan cinta.

Kalau kita lelah, tidak sabar, mudah marah, sedih, berhenti sebentar, istirahat, recharge. Karena kita sebagai ibu kita adalah lentera di dalam keluarga, apa yang kita pancarkan akan menerangi dan memengaruhi seluruh keluarga. Dan untuk menjadi ‘terang’ kita juga perlu energi. Kita tidak harus selalu menjadi super mom. Jangan lupa juga untuk menjadi perempuan biasa, menjadi diri sendiri dan mengerti apa yang kita butuhkan untuk diri kita untuk bisa menjadi bahagia. Saya percaya kalau seorang wanita itu bahagia dari lubuk hatinya, dia akan menjadi ibu yang sabar, kekasih yang penuh cinta, teman yang penuh pengertian dan wanita yang kuat dan compassionate. Bukankah itu yang kita inginkan untuk kelak anak kita menjadi kalau dia sudah dewasa?

Life is short, be happy and don’t take too it seriously. Kita sudah cukup, bahkan lebih. Kita tidak perlu pelengkap karena kita sudah sempurna, dengan segala kekurangan dan kelebihan kita. Dan mudah-mudahan kita juga bisa belajar untuk melihat itu di dalam orang-orang lain di sekitar kita. Love based life, not fear.

Punya panutan single mom, yang membuat kamu berpikir semua akan baik-baik saja?

Panutan saya adalah bumi semesta, kekuatan dan keseimbangan feminin dan maskulin yang ada di dalam diri kita sendiri dan yang sudah disediakan oleh bumi jagat : father sky, grandmother moon, grandfather sun, Mother Earth. Kekuatan paling kekal dan sakti adalah apa yang bisa kita temukan dari dalam bukan dari luar. Kita tidak akan pernah menjadi orang lain, baik itu sebagai panutan ataupun orang yang kita hormati, kagumi, jika itu menjadi tujuan hidup kita. Apabila kita tidak bisa mencapai ‘mereka’ maka akan ada bentuk penderitaan lain yang terjadi dari ketidakpuasan batin.


Post Comment