Ini 10 Hal yang Ditakutkan Ibu Baru Secara Emosi

Ditulis oleh: Rachel Kaloh

Ada 10 hal yang seringkali jadi alasan para orangtua baru mengunjungi terapis. Misalnya, merasa takut kalau kita akan menjadi seperti orangtua kita dalam mengasuh anak. Mungkin kita sendiri juga pernah merasakan 9 hal yang lain.

Hidup memang berubah ketika menjadi orangtua. Seberat apapun tantangannya, tetap harus dihadapi. Ketika menjadi seorang ibu, perasaan kita jadi campur aduk, kadang kelewat senang, kadang kelewat sedih. Dari artikel yang dipublikasikan di www.huffpost.com, banyak orangtua yang secara emosi merasa ketakutan saat harus menghadapi status barunya.

Setidaknya ada 10 hal yang seringkali jadi alasan para orangtua baru mengunjungi terapis. Penasaran? Mungkin kita sendiri juga pernah merasakan hal yang sama.

“I don’t like being a parent, I miss my old life!”

Banyak calon orangtua yang berharap saat punya anak nanti, hidup mereka nggak akan berubah, tetap bisa pulang malam dan curi-curi waktu untuk kencan sama suami. Nyatanya begitu melihat si kecil tidur, beranjak dari kasur sebentar aja udah nggak tega. Menurut terapis Tara Griffith, masa transisi seringkali akan terasa tidak nyaman dan meresahkan. Cari dukungan, jangan takut untuk share perasaan pada orang lain yang pernah mengalami kesulitan tersebut. Those things shall pass!

“Other parents seem to be better at this than I am.”

Eight percent of millennial parents say social-media posts by other parents often make them feel like an inadequate parent. Hal ini memang mengerikan, sih, siapa di sini yang nggak punya akun media sosial? Berada di jaman now, rasanya susah untuk bisa bertahan dengan keyakinan bahwa kita bisa jadi orangtua yang baik, tanpa lirik sana sini dan membandingkan gaya asuh orang lain di Instagram. Isu yang diangkat pun banyak, dari soal pemberian ASI, botol susu pakai dot, makanan instan, dan masih banyak lagi. Pertanyaannya, bisakah kita bertahan pada pendirian kita untuk yakin saja dengan apa yang sudah kita lakukan selama ini? Karena memang nggak ada yang salah, kok!

“Am I doing it wrong?”

Terlebih saat harus berhadapan dengan orangtua yang punya cara didik jauh berbeda dengan kita. Sepertinya semua cara yang diterapkan pada anak selalu salah. Terapis Gwendolyn Nelson-Terry sehari-hari bekerja untuk membangun rasa percaya diri pada ibu baru dengan meyakinkan mereka bahwa berbuat salah itu adalah hal yang wajar.

“I’m worried I’m losing myself”

Kehilangan sense terhadap diri sendiri adalah salah satu pergumulan para ibu baru. Menurut terapis Shanna Donhauser, sebagai orangtua, kita akan mampu menghadapi perubahan yang terjadi pada diri sendiri, caranya, jalani saja prosesnya, hadapi dan terimalah keberadaan kita sebagai ibu. Ingat, bahwa si kecil akan selalu memandang kita sebagai sosok terbesar dalam hidupnya.

Ini 10 Hal yang Ditakutkan Ibu Baru Secara Emosi - Mommies Daily

“I am so worried all the time, I wasn’t like this before”

Ketika seorang wanita menjadi ibu, otaknya berubah. Oksitosin meningkat, sisi positifnya adalah meningkatkan bonding antara ibu dengan anak, namun sisi negatifnya adalah perasaan over protektif dan cemas berlebihan. Menurut terapis Mabel Yiu, bayi bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan, selama ibu melakukan hal yang wajar dan sesuai dengan anjuran dokter selama ini, tidak perlu terlalu khawatir.

“Parenthood is putting a strain on my relationship with my partner.”

Saran dari terapis Joyce Morley: Lakukan pembagian tugas rumah tangga, khususnya buat mereka yang sama-sama bekerja. Meminta bantuan dari salah satu anggota keluarga juga akan sangat membantu. Ayah berperan memastikan si ibu selalu dalam keadaan yang sehat, baik emosi maupun fisik. Mengatur waktu untuk berkencan di tengah minggu juga akan membuat keadaan jadi lebih baik.

“This is supposed to be the sweetest time of my life. Why don’t I feel it?”

Saran dari terapis Mabel Yiu: Ambil waktu dan jauhkan diri dari semua postingan yang memperlihatkan kehidupan sempurna seorang ibu. Lebih baik, cari hiburan, misalnya googling: Parenting Humors dan quotes tentang real life moms.

“I’m afraid of becoming my mother.”

Menurut Griffith, meski pengalaman masa kecil dalam membentuk seseorang ketika ia menjadi orangtua, tidak selalu berarti bahwa kita ditakdirkan untuk mengulang apa yang orangtua kita lakukan. Sebagai orangtua, kita punya kemampuan untuk mematahkan hal tersebut untuk tidak menjadi turun temurun.

“I’m so overwhelmed.”

Menurut psikolog Sarah Weisberg, wajar dan manusiawi bagi ibu untuk menolak tamu yang tidak kunjung berhenti berdatangan. Tidak perlu juga meng-iya-kan semua petunjuk dan nasihat. Respon singkat seperti senyuman tanpa memberikan jawaban apa pun bisa diterapkan saat menghadapi situasi tersebut.

“I feel so alone.”

Weisberg berpesan, milikilah support system yang bisa diandalkan, yang cukup bisa menguatkan saat merasa sendirian. Cari kelompok orangtua yang saling mendukung, bila memang dirasa perlu, lakukan terapi dengan mengunjungi psikolog terdekat.

Kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Merasa lelah saat menjadi ibu adalah wajar! Tidak perlu merasa bersalah.

Baca juga:

Ibu Baru, Saat Mulai Penat Coba Katakan Hal Ini Pada Diri Sendiri!


Post Comment