Jangan Double Standard pada Anak tentang Pemakaian Gadget

Urusan pemakaian gadget ini emang complicated banget. Anak remaja dinilai terlalu banyak liat HP sampai dibilang generasi menunduk. Lha kalau anak balita malah disodor-sodorin HP sama mamanya biar mama bisa leyeh-leyeh bentar.

Kok nggak konsisten? Waktu kecil dikasih biar tenang, udah gede kecanduan kok ya ngeluh sendiri?

Yang kedua, NGACA DULU YUK MOMS. Berapa gadget yang kita punya? Saya sendiri punya satu HP, satu iPad, satu laptop, dan satu Kindle. Waw, ada 4 alat elektronik dengan fungsi beda-beda.

Jadi ya otomatis anak saya sudah sangat terbiasa dengan gadget sebagai bagian dari hidup sehari-hari. Gimana caranya biar anak nggak kecanduan gadget?

6 Gangguan Emosi Jika Anak Terlalu Aktif Bermain Gadget - Mommies Daily

Jawabannya satu “ambil, kemudian temani bermain”. Iya dong, jangan double standard. Kitanya juga harus beri contoh kalau kita nggak melulu fokus pada gadget dan punya kegiatan lain.

Berapa banyak di antara kita yang melarang anak main gadget tapi malah scroll Instagram sementara si anak main?

Jadi memang harus diberi aturan bersyarat. Nah loh udah udah pakai aturan, pakai syarat pula. Aturan di rumah saya adalah nonton YouTube (Xylo hanya pake gadget untuk YouTube) hanya di hari Sabtu dan Minggu. Itu pun dengan syarat ia harus main dulu di luar rumah dan makan. Baru boleh nonton hingga jam makan siang.

(Baca: Rekomendasi Akun YouTube Edukatif untuk Balita)

Tapi teori semacam ini nggak selalu mulus kan ya. Saya sendiri yang sudah sangat saklek hanya memberi YouTube saat weekend, ya keteteran ketika harus seminggu di rumah karena kami sakit.

Sehari-hari dia sekolah dan di daycare sih aturan no gadget on weekdays berjalan mulus karena sampai rumah juga sudah malam. Paling menggambar bersama, baca buku, kemudian tidur. Kalau harus seharian sama saya? Ya saya juga kan harus sambil kerja. Saya sendiri menghadapi laptop dan HP seharian jadi mau nggak mau seminggu ini full saya kasih gadget. Sekali nonton sekitar 1-2 jam.

Nggak mungkin dong double standard. Anak dilarang pegang gadget sementara mama papanya full juga kerja di rumah pegang gadget. Yang membuat aturan kok ya yang melanggar juga. Bukan contoh baik kan.

Jadi seminggu kemarin Xylo berhenti nonton hanya untuk makan, mandi, dan tidur siang. Plus malam dia tidak nonton lagi karena pekerjaan kami sudah selesai jadi bisa melakukan kegiatan lain. Baru seminggu seperti ini tanda-tanda kecanduan sudah mulai muncul lagi.

Tadi pagi ia meltdown dan nangis sesenggukan karena menolak main di luar dan ingin langsung nonton. Negosiasi berjalan alot. Akhirnya disepakati Xylo dan Appa akan turun untuk beli kentang karena kebetulan Xylo ingin mashed potato untuk sarapan.

Kesepakatannya adalah: beli kentang, main di playground apartemen, sarapan baru boleh nonton. Belum ada 15 menit mereka sudah kembali. Xylo berkaca-kaca, katanya tidak mau main karena ingin pulang saja supaya bisa nonton.

Apa saya kasih?

YA NGGAK. Negosiasi pun berulang lagi, air mata berurai lagi. Kali ini kesepakatannya, saya akan pasang alarm satu jam dan ia boleh melakukan apapun. Setelah satu jam, ia boleh nonton. Itu dijamin tidak akan lama karena ia harus tidur siang kan, jadi perhitungan saya siang ini dia hanya akan nonton 1-1,5 jam sampai makan kemudian tidur siang.

Capek. Ya siapa sih yang tidak capek harus negosiasi terus menerus dengan anak yang sudah punya argumen sendiri. Tapi kan kita harus konsisten dan punya otoritas ya. Kalau dibiarkan ya jangan salahkan siapa-siapa kalau di masa depan ia akan jadi bagian generasi menunduk. Karena kita pun bagian dan generasi itu.

(Baca: Masalah Otoritas pada Anak Bisa Diselesaikan dengan Metode Theraplay Lho!


Post Comment