Ciptakan Kota Ramah Anak Untuk Menyambut Hari Anak Perempuan Internasional

Ditulis oleh: Febria Silaen

Di mana saja sih kota ramah anak, baik itu di Indonesia atau di luar negeri yang kayaknya bisa menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita? 

Tanggal 11 Oktober diperingati sebagai Hari Anak Perempuan Internasional. Mengapa harus ada hari khusus untuk merayakan anak perempuan? Karena faktanya, ada 1,1 miliar anak perempuan di seluruh dunia. Anak-anak perempuan ini tentu berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menggapai masa depan yang cerah, di manapun mereka berada. Sayangnya, kebanyakan anak perempuan kerap menghadapi diskriminasi, setiap harinya.

Salah satu cara untuk membuat anak perempuan mampu meraih cita-cita dan bisa mengeksplorasi dirinya, bisa dengan menciptakan Kota Ramah Anak.

Ide Kota Ramah Anak diawali dengan penelitian mengenai “Children’s Perception of the Environment” oleh Kevin Lynch (arsitek dari Massachusetts Institute of Technology) di 4 kota: Melbourne, Warsawa, Salta, dan Mexico City pada tahun 1971-1975.

Dari penelitian terungkap bahwa lingkungan kota yang terbaik untuk anak adalah yang mempunyai komuniti yang kuat secara fisik dan sosial; komuniti yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas; yang memberi kesempatan pada anak; dan fasilitas pendidikan yang memberi kesempatan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan serta dunia mereka. Kota Ramah Anak menurut UNICEF adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. Di beberapa negara sudah diterapkan kota dengan Konsep Ramah Anak, seperti;

Philipina

Philipina memperkenalkan Program Kota Ramah Anak di 20 provinsi dan 5 kota: Pasay City, Manila, Quezon City, Cebu City, dan Davao City tahun 1999. Gerakan ini bertujuan untuk menentukan dan mengawasi komuniti, sekolah, fasilitas kesehatan, tempat kerja, komuniti agama, kota, dan provinsi yang ramah anak.

Australia

Queensland merupakan salah satu kota di Australia yang telah mengadopsi konsep Kota Ramah Anak. Pemerintah kota Queensland membentuk komisi anak dan remaja pada tahun 2000. Komisi ini secara khusus mengembangkan sebuah kegiatan untuk anak dan mengorganisasikan “Parlemen Remaja.

India

Calcutta merupakan salah satu kota di India yang mengadopsi konsep Kota Ramah Anak. Program ini berfokus pada Program Aksi tingkat kota untuk Anak Jalanan dan Pekerja Anak (City Level Program of Action for Street and Working Children – CLPOA). Kegiatan CLPOA meliputi pendidikan dasar kesehatan, penasehat hukum, peningkatan sumber pendapatan, pelatihan, dan konseling. Program ini ditujukan kepada pekerja anak, anak jalanan, pekerja seks anak, dan perdagangan anak. Ada juga Bangladesh dan Brazil yang sudah menerapkan Konsep Kota Ramah Anak

Bagaimana di Indonesia?

Ciptakan Kota Ramah Anak Untuk Menyambut Hari Anak Perempuan Internasional - Mommies Daily

 

Konsep Kota Ramah Anak disebut dengan Kota Layak Anak. Berikut ini Kota Layak Anak yang bisa kita kunjungi:

Surayaba

Kota Pahlawan ini disebut sebagai Kota Layak Anak. Di tahun 2018, Kota Surabaya kembali meraih penghargaan sebagai Kota Layak Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.
Setelah menutup Dolly pada tahun 2015, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini juga membangun perpustakaan di setiap RW. Perpustakaan ini buka dari pukul 09.00 – 21.00, Surabaya juga memiliki banyak sekali taman umum dengan fasilitas ramah anak.

Salah satu yang terkenal adalah Taman Bungkul yang dinobatkan PBB sebagai taman terbaik se-Asia tahun 2013 lalu. Di taman ini tersedia amphitheater tempat digelarnya berbagai pertunjukan, fasilitas wifi gratis, air minum gratis langsung dari keran. Seru sekali bukan? Pasti anak-anak nyaman berada di taman ini.

Yogyakarta

Ada banyak kampung yang sudah mendeklarasikan daerahnya untuk menopang kepentingan anak-anak. Khususnya dalam soal bermain dan belajar. Mulai dari kampung ramah anak, kampung jam belajar masyarakat hingga kampung bebas asap rokok. Ada 139 kampung yang sudah mendeklarasikan sebagai kampung bebas asap rokok. Dan pada pukul 18.00-21.00 adalah waktu mematikan televisi untuk memberikan kesempatan anak belajar.

Solo

Kota ini adalah kota terbaik sebagai Kota Layak Anak. Berbagai fasilitas yang mendukung aktivitas anak pun disediakan. Mulai dari Puskesmas Ramah Anak, Sekolah Ramah Anak, Taman Cerdas, Pojok ASI. Bahkan ada radio yang merupakan radio anak yang dikelola anak, yaitu Radio Konata. Selain itu Solo juga mengatur transportasi yang aman untuk anak. Pelajar yang belum berusia 17 dilarang mengendarai sepeda motor. Disediakan juga Forum Anak yang dikelola sendiri oleh anak-anak.

Bagaimana dengan kota tempat kita tinggal? Atau komplek tempat kita tinggal? Mungkin kita bisa memulainya dari situ, skala kecil namun untuk hasil yang besar.


Post Comment