5 Kesalahan yang Sering Dilakukan si Workaholic

Salah satu ciri workahlolic adalah merasakan dorongan kerja yang sangat tinggi, tapi tidak menikmati proses kerja itu sendiri. Dan biasanya mereka kerap melakukan lima kesalahan ini.

5 Kesalahan yang Sering Dilakukan si Workaholic - Mommies Daily

Rekan kerja saya di kantor yang terdahulu pernah mendapatkan masukan berharga dari atasannya:

“Elo boleh gagal dalam di kerjaan, tapi jangan dengan keluarga.”

Dia dapat wejangan itu di tengah deadline-nya yang menggila. Stres level lagi tinggi, tekanan dari berbagai divisi menghimpit dirinya ke titik paling rendah. Poin lain yang teman saya tangkap. Boleh saja sih giat bekerja demi keluarga, tapi jangan sampai pekerjaan mengalahkan segalanya.

Karena tanpa disadari, seorang workahlolic melakukan beberapa kesalahan ini, yang berdampak pada kehidupan sosial, termasuk keluarga. Energi terkuras habis di kantor, tak punya semangat cadangan saat kembali ke rumah.

Ngoyo bekerja, dengan mind set “nanti juga ada waktu buat istirahat”

Aselik deh mommies, kerjaan tuh nggak kerja ada habisnya. Jangan paksa diri mommies melakukan SEMUANYA SEKARANG. Inilah pentingnya to do list harian. Mengurutkan dari yang paling penting hingga yang paling akhir, dan bisa diselesaikan di penghujung hari. Atau bahkan besok. Target harian juga berfungsi memberikan jeda dari satu proyek ke proyek lain. Inilah waktunya mommies memberikan waktu istirahat. Waktu istirahat itu haris diadakan, bukan “nanti…nanti…”

Dihantui perasaan gagal

Dikutip dari womenworking.com, di kalangan psikolog hal ini juga dikenal dengan istilah “catastrophic” thinking. Perasaan takut gagal jika mommies tidak memaksakan diri menuntaskan pekerjaan. Pekerjaan juga nggak akan efisien, kan? Kalau saya pribadi sih, harus tahu dimana batas kemampuan diri. Misalnya pas sudah sore, bisa aja maksain satu artikel kelar. Tapi dijamin kepala pusing dan besok paginya artikel saya wajib di-rework. Soalnya saya mengerjakan di tengah otak yang sudah lelah.

Overwork = productive?

Pikir ribuan kali deh. Biasanya seorang workahlolic memang punya energi luar biasa buat bekerja. womenworking.com mengingatkan kita semua, “tsunami energi” itu sedang membodohi mommies. Ambisi boleh, tapi membiarkan diri mommies sejenak istirahat justru akan membuat pekerjaan yang selesai jauh berkualitas.

Mengunci diri dari orang lain

Sesekali saya suka menyendiri untuk menyelesaikan pekerjaan yang butuh fokus dan konsentrasi lebih. Tapi selebihnya, ya sudah normal saja. Tapi bukan berpikir seterusnya  “saya hanya bisa bekerja efisien dalam kesendirian,” sedih banget nggak sih kalau gini caranya? Kurang sosialisasi sama rekan kerja dan berbagai divisi juga nggak baik. Coba berbaur ngobrol pas jam makan siang, atau mengiyakan ajakan makan siang di luar, rasakan sensasi refreshing di tengah jam kerja.

Gampang bilang “iya” pada semua pekerjaan

Kayaknya tuh buat si workahlolic menolak satu proyek susahnya minta apapun. Terus-terusan berpikir, menerima proyek baru artinya peluang menjajaki karier mommies. Hal ini akan terjadi, kalau pekerjaan selesai dengan baik. Sementara, dia lupa, masih ada setumpuk proyek lain yang antre untuk dikerjakan.

Biarkan diri mommies mengalokasikan energi mengerjakan satu demi satu pekerjaan. Dengan begitu, mommies akan dapat atmosfer kerja yang minim stress.

*Artikel ini diadaptasi dari womenworking.com


Post Comment