Untuk Mereka yang Mengasihani Anak Saya Karena Menjadi Anak Daycare

Tahukah kalian di balik keputusan yang dibuat orangtua untuk anaknya, didahului dengan doa, riset mendalam dan tak jarang ada air mata mengalir di penghujung malam. Jadi siapa kalian berhak menghakimi mereka?

Bukan satu atau dua kali saya mengantongi kata “kasihan” untuk si anak lanang, dari beberapa orang di lingkungan terdekat. Yang saya sayangkan, komentar mereka masih berkutat pada asumsi, silakan tanya dulu ke saya fakta yang terjadi di lapangan. Kroscek ke saya jika belum paham, seperti apa operasional daycare berjalan. Bahkan ada yang berpikir terlalu jauh, soal keselamatan Jordy di sana. Khawatir boleh, tapi tolong berbaik sangka, setahu saya ucapan adalah media doa.

Untuk Mereka yang Menghasihani Anak Saya Karena Menjadi Anak Daycare - Mommies Daily

Baca juga: Tantangan Memasukkan Anak di Daycare Saat Dia Sudah Besar

Kami tak memungkiri, masih ada risiko Jordy mengalami luka saat bermain. Itupun sudah masuk dalam perhitungan. Ada CCTV yang bisa diputar ulang untuk memastikan kronologis kejadian. Dan ada form khusus yang harus saya isi, jika Jordy tak sengaja terbentur. Pihak daycare akan mengabari saya secepatnya. Sebelumnya tentu saja, Jordy sudah mendapatkan pertolongan pertama.

Saat kalian berkomentar, “Kasihan Jordy ditaruh di daycare,” ngobrol dulu yuk, apa saja fasilitas daycare yang tersedia. Berapa kali makan besar dan snack yang dia dapat (just FYI buat poin ini, unlimited sist.) Setiap bulan saya menerima daftar menu sarapan, makan siang, early dinner, dessert dan snack. Sungguh jauh lebih bervariasi dibandingkan menu Jordy di rumah sebelumnya.

Seberapa banyak mainan edukatif yang ia nikmati sesuka hati kurang lebih 12 jam. Menyoal tuntunan agama juga ada, satu anak satu guru, alias sama seperti mendatangkan guru privat ngaji ke rumah. Ilmu duniawi dan bekal dia di akhirat terintegrasi. Kata kasihan yang kalian lontarkan, berbanding terbalik dengan pilihan yang kami anggap paling logis. Bukan asal cap cip cup. Ada sesi wawancara mendalam dengan humas daycare, hingga akhirnya ketuk palu, yakin dengan satu daycare.

Baca juga: Persiapan Masuk Daycare

Kalian tidak ada di posisi kami. Kalian tidak ada saat saya menangis di tengah malam minta petunjuk dari-Nya, kalian tidak melihat langsung bagaimana saya dan suami berdiskusi alot detik-detik penentuan memilih daycare. Kalian tidak ikut serta membayar biaya hidup anak saya.

Suatu hari secara gamblang saya terkondisikan menjelaskan hal ini ke adik ipar. “Tolong jangan kasihan sama Jordy. Justru di daycare kegiatan dia lebih teratur dan jadi pribadi yang mandiri.” Mau bukti? Belum genap dua minggu, Jordy bertahap bisa memakai dan lepas baju sendiri. Masih kurang? Dia hapal semua  nama miss-nya (baca: pengasuh) berikut cerita karakter teman-teman sebayanya. Beruntung si adik ipar mau dan mengerti penjelasan saya.

Beranjak hampir empat bulan Jordy jadi anak daycare, dia balik mengingatkan kami. Betapa pentingnya mengucapkan kata “thank you” setelah menerima pertolongan, lalu wajib merespon bilang “welcome.”

Jadi… di mana poinnya mengasihani anak saya?


Post Comment