Kenapa Saya Tidak Berminat Jadi PNS

Dua minggu terakhir, banyak DM masuk bertanya pada saya: apakah saya daftar untuk tes CPNS? Agak terkejut karena bahkan saya baru tahu sedang dibuka pendaftaran CPNS dari DM-DM tersebut hahaha.

Saya jawab tidak, saya tidak berminat sama sekali jadi PNS. Alasannya akan saya beberkan di sini karena kalau di Insta Stories akan terlalu panjang.

Saya bukannya tak pernah mencoba lho! Saya pernah mencoba tes CPNS karena dulu baru lulus kuliah, masih tinggal di rumah, belum punya penghasilan sendiri. Jadi ketika ibu saya meminta agar daftar saja CPNS siapa tahu diterima, ya saya nggak punya pilihan lain. Lha kondisinya memang nganggur kok.

Saya pun bergerilya meyelesaikan semua persyaratan. Dari surat kelakuan baik hingga kartu kuning dari dinas tenaga kerja. Capek banget lho itu prosesnya. Tapi mungkin karena setengah hati, saya bahkan tidak terpanggil untuk tes. Ketika saya cek ulang, ada form yang memang tertinggal.

ibu-bekerja

Singkat cerita saya kemudian bekerja di media online hingga kini, hampir 9 tahun kemudian. Semakin lama saya bekerja di sektor swasta, semakin juga saya tidak tertarik jadi PNS.

Ayah saya PNS, beliau sudah 30 tahun jadi dosen. Ini jadi alasan pertama saya kenapa saya tidak mau jadi PNS. Sesederhana karena saya tidak terbayang ada di sebuah sektor yang sama seumur hidup. Pasti akan sangat bosan.

Oh iya, tentu ada pilihan resign juga, saya kenal beberapa orang yang resign dari status PNS karena bosan. Tapi ya kalau gitu untuk apa jadi PNS ya? Bukannya salah satu alasan orang jadi PNS untuk stabilitas pekerjaan hingga pensiun kan? Selain karena permintaan orangtua dan calon mertua tentunya ahahaha.

Bener lho. Banyak teman saya yang jadi PNS hanya karena tuntutan orangtua atau suami. Atau yang diultimatum oleh orangtuanya, tidak boleh menikah sebelum jadi PNS. Jadi PNS tandanya bikin tenang orangtua dan suami. :’)

Di industri saya sekarang, ya sama saya juga bisa bosan. Tapi saya bisa memilih media sesuai kesukaan pribadi. Dulu saat baru lulus kuliah, saya tergila-gila pada KPop kemudian saya bekerja di media online dan mengerjakan desk KPop.

Kemudian saya sedang senang main social media dan tertarik pada digital marketing, ya saya pindah posisi kerja ke digital marketing. Saat ini, saya sedang senang sekali dunia parenting, saya pun mencari media parenting untuk menyalurkan minat saya.

Kerja di swasta lebih bebas untuk orang yang senang hal baru seperti saya.

Alasan berikutnya adalah saya cringey sendiri setiap mendengar alasan orang ingin jadi PNS adalah “cocok untuk ibu-ibu kerjanya santai” atau “gajinya kecil tapi tunjangannya lumayan, sering dapat bonus juga”.

Ah, mendengar kedua alasan itu saya semakin tidak mau jadi PNS hahahahaha. Ya semua orang juga mau ya kerja fleksibel tapi kalau yang diurus negara masa niatnya untuk kerja santai? Apa bukannya justru yang mengurusi negara yang kerjanya lebih keras?

Apalagi saya pernah membaca wawancara Vice dengan Pengamat Reformasi Birokrasi Indonesia dan Direktur Study for Indonesia Government Indepth (SIGI) Medrial Alamsyah, menurut Medrial jika jumlah PNS dikurangi separuh saja, tidak akan ada dampak berarti.

Artinya sisa PNS akan bekerja 2 kali lipat lebih keras TAPI anggaran negara bisa dihemat. Wow, mindblowing!

Karena ya ada salah satu orangtua di daycare Xylo dulu yang ibunya PNS, dia keluar kantor jam 3 jadi setengah 4 sudah bisa jemput anak di daycare. Saya jadi mikir kalau saja dia kerja sampai jam 5 maksimal seperti pekerja swasta, maka harusnya ada sepertiga orang di timnya yang bisa dipecat karena ya pekerjaan selesai dengan lebih sedikit orang tapi jam kerja lebih panjang.

Ada lagi teman saya yang lain. Job desc-nya adalah membuat presentasi dan berbagai proposal. Itu job desc, jadi dia digaji oleh negara untuk itu kan. Kenyataannya, setiap satu proposal atau presentasi selesai, bosnya memberi amplop isinya dari ratusan ribu hingga satu juta. Itu katanya uang terima kasih telah membuatkan proposal. Lho? Itu kan memang job desc-nya, jadi uang itu uang apa? :)))))

Eh udah ada yang tersinggung belum?

Maaf ya saya tidak bermaksud menyinggung atau generalisir. Ini kan dari cerita dan pengalaman saya pribadi. Pasti ada kan PNS yang memang bekerja keras tanpa bonus ini dan itu. Tergantung penempatannya juga kan pasti.

Satu lagi, membangun negeri bisa kok tanpa jadi PNS. Pak Jokowi dan Kang Ridwan Kamil tidak meniti karier jadi PNS dulu tau-tau jadi presiden dan gubernur ahahaha.

Kalau kalian gimana? Masih berminat jadi PNS?


9 Comments - Write a Comment

  1. Assalamualaikum, saya dulu nya juga ngebet banget pengen jadi PNS karena memang PNS terlihat sebagai pekerjaan yang “aman” tapi memang kesini2 minat itu mulai hilang tapi memang alasannya tidak se mulia mba yang melihat para PNS tidak bekerja tulus untuk membangun indonesia….MERDEKA (hehehe…!)
    Alasan utama karena kusut nya persyaratan yang sangat menyita waktu, ngantri dan saingan yang banyak terutama saingan yang punya lebih banyak dana….sekararang menikmati saja kerja sebagai freelancer dan IRT, terima kasih untuk artikelnya sangat menarik

  2. Setuju sih, hampir sebagian besar PNS itu ya gituuuuuuuu….
    Tapi tentu saja di PNS elite (hahahaha maaf ya saya bilang elite krn kerjanya bener), justru ini itu pengabdian.. krn jam kerjanya jauh lebih panjang dari swasta.. 7.30-17.00… hehehe

    Tapi memang kalau bosenan lebih baik kerja di swasta..
    lebih bisa mencoba hal baru.. lebih bebas berkreativitas..

  3. seperti itukah gambaran PNS? hiks, turut berduka. Karena emang baru tau setelah baca ini.Tapi gak bisa dipungkiri memang bener PNS sepertinya pekerjaan yg aman & stabil
    aku pengen banget kerja di ranah swasta, tapi aku bukanlah fresh graduate dan tentunya kalah sama dedek2 gemes milenial.. hihi

  4. PNS pekerjaan halal kok. Urusan negatif2nya kembali ke diri kita sendiri. Mau jadi pekerja swasta pun urusan korupsi dll juga banyak kejadian tho? Malah bukannya baik bagi ibu2 ya kalau PNS bisa pulang lbh cepat?

    However ga bs digeneralisir semua PNS pulang cepat. Suami saya PNS pulang rata2 jauh lbh mslam dari saya. Baiknya kalau menulis dari dua sisi dan bukan opini pribadi.

  5. Hmmm, gimana ya.. saya juga bukan PNS. Tapi kl ibu tidak melihat proses seleksi saat ini dan beberapa tahun saat mulai CAT, ibu tidak bisa memberi pendapat seperti itu. Pandangan ibu sangat subyektif. Ibu lihat proses seleksi CAT saat ini murni persaingannya. Dan saya lihat sendiri teman-teman saya yang diterima kebanyakan memang orang-orang yg berprestasi. Pekerjaan mereka juga gak kaya yg ibu jabarkan,mereka sering perjalanan dinas, berangkat pagi pulang malam. Kadang mereka lebih berat daripada pekerjaan saya di perbankan swasta. Bahkan mereka berpikir, belajar terus. Jadi ibu nggak bisa mengeneralisir PNS seperti itu. Tidak dipungkiri memang masih ada PNS yang seperti itu. Tapi yang pasti sekarang sudah ada reformasi di kalangan PNS itu sendiri. Kita harus berpikir positif dan mendukung kemajuan negeri ini. Terima kasih.

  6. Hmmm, gimana ya.. saya juga bukan PNS. Tapi kl ibu tidak melihat proses seleksi saat ini dan beberapa tahun saat mulai CAT, ibu tidak bisa memberi pendapat seperti itu. Pandangan ibu sangat subyektif. Ibu lihat proses seleksi CAT saat ini murni persaingannya. Dan saya lihat sendiri teman-teman saya yang diterima kebanyakan memang orang-orang yg berprestasi. Dan persyaratan CPNS sekarang nggak jadul seperti dulu yang harus urus SKCK , kartu kuning, surat sehat, surat bebas narkoba dll. Persyaratan itu diminta hanya jika telah diterima menjadi CPNS. Jadinsekarang CPNS gak ribet. Pekerjaanaya yg ibu jabarkan,mereka sering perjalanan dinas, berangkat pagi pulang malam. Kadang mereka lebih berat daripada pekerjaan saya di perbankan swasta. Bahkan mereka berpikir, belajar terus. Jadi ibu nggak bisa mengeneralisir PNS seperti itu. Tidak dipungkiri memang masih ada PNS yang seperti itu. Tapi yang pasti sekarang sudah ada reformasi di kalangan PNS itu sendiri. Kita harus berpikir positif dan mendukung kemajuan negeri ini. Terima kasih.

  7. IMHO, tulisan ini tidak memenuhi etika untuk masuk ke mommiesdaily. Boleh saja berpendapat seperti itu sebagai pribadi, tetapi untuk masuk sebagai artikel seharusnya lebih banyak aspek yang dilihat, jadi opini pribadi bukan faktor dominan. Saya bukan PNS, dan juga tidak berniat menjadi PNS, dan saya cukup kecewa membaca tulisan seperti ini di Mommiesdaily yang seharusnya memberikan semangat positif dan tidak saling men-judge diantara para ibu. Dan jangan salah, untuk menjadi PNS dibeberapa kementrian seperti Kemenkeu, Perdagangan, BUMN, itu jauh lebih sulit daripada masuk perusahaan swasta. Hanya karena kita melihat segelintir yang tidak baik, jangan lantas di-generalisir, apalagi menulis artikel yang “baseless” seperti ini. Sedikit banyak ini menggambarkan tingkat intelektualitas penulis kalau menurut saya :)

Post Comment