Saya Tidak Ingin Anak-anak Saya Bersekolah di Sekolah yang Sama

Satu sekolah memang berarti lebih mudah urusan antar jemput, tapi ternyata nggak seimbang dengan drama yang saya hadapi.

Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, saya kebetulan satu Sekolah Dasar dengan kedua kakak saya. Waktu itu saya merasa senang karena berangkat dan pulang bisa bareng dan kalau ada yang gangguin, saya bisa segera lapor alias ngadu ke kakak-kakak saya yang terkenal ‘jagoan’ di sekolah dulu, ahahahaha. Begitu masuk SMP dan SMA, saya terpisah dari kedua kakak saya, dan di situ saya belajar untuk menjadi mandiri.

Ternyataaaa, sekian puluh tahu berlalu, kedua kakak saya baru ngaku kalau sebenarnya mereka sebal satu sekolah sama saya. Alasannya? Selain mereka berasa ada anak kecil yang ngintilin, mereka juga nggak suka karena kerap dibandingk-bandingkan dengan saya, yang kebetulan saat SD masih manis dan juara kelas, hehehehe.

Fast forward, ketika semua anak-anak saya harus masuk SD, saya juga kepikiran untuk memasukkan mereka di sekolah dasar yang sama. Alasannya? Biar saya nggak repot mengatur antar jemput dan nggak repot membelah badan ketika harus menghadiri kegiatan-kegiatan sekolah :D.

Mommies Daily

Setelah saya menjadi orang tua dari dua anak yang ada di satu sekolah yang sama dan jaraknya nggak terlalu jauh (hanya berbeda dua tahun), saya jadi paham bahwa IMHO, memang mendingan jangan masukkan anak di satu sekolah yang sama. Kenapa?

1. Suka atau tidak, ternyata kebiasaan membandingkan antara si kakak dan si adik itu mungkin memang masih menjadi ‘tradisi’ atau kebiasaan menganggua yang akan sering kita temukan. Yang membandingkan pun bisa siapa saja. Bisa guru, bisa satpam, bisa sesama orang tua murid di sekolah.

Tahu kan rasanya kalau kita dibandingkan? Nggak suka pastinya. Dan pada akhirnya kans terjadi konflik antara si kakak dan si adik jadi terbuka lebar. Kebayang sih, gimana sebalnya si kakak kalau dia dibilang nggak seganteng adiknya, atau betenya si adik ketika mendengar dia nggak sepintar kakaknya. Bahkan urusan sepele tentang pembagian ‘jabatan’ saat menjadi petugas upacara pun bisa jadi masalah.

Ya masalahlah, kalau ada orang yang bilang “Yah dulu kakaknya Cuma sebagai pemimpin barisan ya, bukan sebagai pimpinan upacara seperti adiknya,” mau marah kan dengarnya?! Aslik, harus siap telinga dan hati deh, dengerin anak dibanding-bandingkan.

2. Kemalasan saya berikutnya adalah, kedua anak saya jadi nggak pernah kan berjauhan. Di rumah bareng-bareng, di sekolah juga ketemu, jadi kayak nggak ada kangen-kangennya satu sama lain, ahahahaha. Padahal, kalau saya bedakan sekolahnya, siapa tahu aja mereka jadi lebih menghargai keberadaan saudaranya ketika berada di dekat mereka. Ini sih analisa sotoy saya.

3. Lingkup pertemanan yang itu-itu aja. Jadinya, teman-teman si kakak menjadi teman mainnya si adik, teman mainnya si adik ya jadi teman mainnya si kakak. Ini juga bisa jadi konflik baru (lap keringat). Kok bisa? Misalnya nih, ternyata temannya si kakak jadi lebih dekat sama si adik, atau sebaliknya. Nah, kondisi begini ternyata bisa membuat si yang merasa punya teman jadi kesal. Kenapa kok teman aku bisa lebih dekat ke kakak? Atau kenapa sih adik ngambil temanku.

4. Kemandirian kurang. Ini mungkin yang terjadi pada masa saya SD dulu. Ketika ada masalah, ketika diganggu teman, ketika uang jajan habis, saya pelariannya ke kakak-kakak saya. Dan, kejadian yang sama berulang pada kedua anak saya. Si adik, karena merasa kakaknya senior (apalagi udah kelas 6 SD kan si kakak), jadi merasa apa-apa bisa minta tolong kakak. Apa-apa bisa ngintilin kakak. Di sisi lain, kakaknya males banget ‘diganggu’ sama adiknya, hehehehe.

Tapi di luar itu semua, saya berpikir, bahwa mungkin jika ada di sekolah berbeda, mereka bisa lebih berkembang tanpa harus ada embel-embel kakaknya si A atau adiknya si B. Mereka belajar untuk bermain di lingkungan yang berbeda. Itu menurut saya. Mungkin ini akan saya terapkan saat mereka memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama.


Post Comment