Anggraini Suwito: Hal Baik Dalam Skala Besar Pasti Dimulai Dalam Skala yang Lebih Kecil Dulu

“Kamu hebat ….. kamu kuat,” adalah kalimat pujian terakhir yang Rani dengar dari mamanya sesaat sebelum mamanya meninggal. Kalimat ini pula yang menjadi booster semangat hidupnya untuk membentuk Rani menjadi pribadi unbeatable dan mampu rebound saat mengalami kesulitan (seperti mamanya). 

Saya mengenal Anggraini Suwito (30 tahun) atau yang akrab dipanggil Rani mungkin sudah sekitar 13 tahun. Saya melihat transformasinya, dari seorang anak kuliahan hingga menjadi sosok perempuan matang yang berpikiran terbuka serta kritis, mampu menerima perbedaan namun tetap menjunjung tinggi tata krama dalam hidupnya, hingga kini dia sudah menjadi seorang istri dan ibu sekaligus menjalani pekerjaannya sebagai Interior Designer.

Relasi baik saya dengan Rani, melihat tumbuh kembangnya sebagai anak dari orangtua yang berpisah, mengetahui perjuangannya saat sekolah di luar negeri hingga bagaimana ketegarannya ketika dia ditinggal oleh mamanya sesaat setelah dia melahirkan Biandra membuat saya salut pada istri dari Randy Fajrin Wijaya ini.

Anggraini Suwito: Hal Baik Dalam Skala Besar Pasti Dimulai Dalam Skala yang Lebih Kecil Dulu - Mommies Daily

Saya pun mengulik lebih dalam lagi tentang bagaimana pola asuh yang dia terima dulu dari sosok almarhum mamanya yang juga saya kagumi.

Anggraini Suwito: Hal Baik Dalam Skala Besar Pasti Dimulai Dalam Skala yang Lebih Kecil Dulu - Mommies Daily

Tiga hal yang kamu sukai dari diri kamu?

Saya sangat menyenangi segala sesuatu yang in harmony, hampir dalam segala hal seperti berpakaian, menata ruangan, dan berelasi dengan orang lain. Saya merasa nyaman dalam outfit dan juga ruangan dengan warna-warna yang earthy colors, dalam berelasi saya sangat menghindari konflik, kalaupun harus terjadi konflik sebagai proses komunikasi atau proses kreatif saya akan usahakan untuk segera diselesaikan dengan baik-baik.

Saya juga seorang yang memberi perhatian besar terhadap hal yang kecil, karena hal baik dalam skala besar dimulai dalam skala yang lebih kecil dan dilakukan secara terus-menerus dalam hitungan hari, jam, bahkan milidetik.

Saya berusaha untuk dekat dan memiliki ketergantungan yang mutlak pada Allah, karena kedekatan dengan Allah inilah yang membuat saya memiliki kekuatan serta ketenangan untuk menjalani hidup saya.

Anggraini Suwito: Hal Baik Dalam Skala Besar Pasti Dimulai Dalam Skala yang Lebih Kecil Dulu - Mommies Daily

Pengalaman masa kecil apa yang membentuk kamu mempunyai tiga hal tersebut? Apa andil dari orangtua?

Masa kecil saya banyak dihabiskan tanpa pendampingan penuh dari orangtua. Ayah dan mama berpisah saat saya berusia 9 tahun, pada saat itu mama menderita spondylitis dan baru saja melakukan operasi tulang belakang yang sebagian besar orang dengan riwayat operasi tersebut mengalami kelumpuhan setelahnya, namun Allah beri kesempatan beliau sembuh, bisa berjalan dan berkegiatan seperti biasa setelah pemulihan selama kurang lebih 2 tahun.

Saya dan kedua kakak laki-laki saya dibesarkan oleh mama yang seorang wirausaha, pedagang cabai di Pasar Induk. Mama seorang pekerja keras, energi dan waktunya banyak dicurahkan untuk mengelola usahanya demi membesarkan kami bertiga. Memiliki mama seorang wirausaha dan juga single parents membuat quality time hanya bisa terjadi kalau beliau benar-benar meluangkan waktu.

Anggraini Suwito: Hal Baik Dalam Skala Besar Pasti Dimulai Dalam Skala yang Lebih Kecil Dulu - Mommies Daily

Mama adalah salah satu teladan terbaik untuk urusan keimanan. Sejak kecil hingga sebelum saya menikah, saya selalu tidur bersama mama. Setelah seharian bekerja, saat dini hari saya sering menemukan mama dalam sujud dan doa-doa panjangnya, dan itu dilakukan secara konsisten. Waktu istirahatnya cukup singkat, sedangkan waktu mama beraktivitas sangat panjang dan mama melakukan itu tanpa mengeluh dari sejak usia beliau belasan tahun.

Karakter mama yang tekun dan juga optimal dalam berusaha, tapi pada saat yang sama juga berserah sepenuhnya kepada Allah membuat mama menjadi sosok yang unbeatable. Mama mengajarkan saya ketika kita menemukan kesulitan kita pasti mampu untuk rebound dan kembali fokus dengan hal-hal yang menjadi prioritas. Sampai akhirnya 2 tahun lalu, melalui kanker limfoma Allah panggil beliau pulang, tepat 5 hari setelah saya melahirkan putri pertama saya.

Film atau buku favorit dan apa alasannya?

Film: In Time (2011). Film ini dibintangi oleh Justin Timberlake dan Amanda Seyfried, di dalam ceritanya limit waktu semua manusia untuk hidup tertera dalam bentuk digital di lengan mereka, alat tukarnya bukan uang melainkan waktu. Film ini sangat berkesan untuk saya karena sebenarnya limit hidup kita semua sudah ditetapkan, sayang limit itu tidak tertera.

Buku: Riyadhus Shalihiin. Buku yang membimbing saya menjadi pribadi yang lebih baik, terutama selepas almarhum mama saya berpulang, dengan kondisi saya yang baru menjadi istri dan ibu.

Pesan orangtua yang membekas dan menjadi semacam your life quote?

Beberapa jam setelah persalinan, saya yang berada di Rumah Sakit di daerah menteng menelpon mama saya yang saat itu berada di Rumah Sakit Kanker di daerah Slipi, berulang kali mama mengatakan “Kamu hebat.. kamu kuat..”, itu pertama kali dan terakhir kalinya mama memuji saya secara langsung. Sehari setelah itu mama mengalami penurunan kesadaran sampai akhirnya wafat. Jadi kalimat terakhir itulah yang sangat membekas dan menjadi booster semangat hidup saya, selain dari keseharian beliau semasa hidupnya yang memang sangat menjadi teladan bagi saya yang sampai sekarang ini masih belum bisa saya saingi.

Ah Ran, sebagai tante kamu, tante yakin kamu bisa menjadi seperti mama, bahkan bisa lebih baik lagi, dan tante percaya, itu juga yang mama inginkan dari kamu :).


Post Comment