3 Hal Sederhana yang Dilakukan Orangtua Tapi Berharga untuk si Kecil

Bukan mainan mahal, atau pergi liburan ke destinasi terkenal dengan pesawat. Nyatanya tiga hal sederhana ini tetap berharga untuk si kecil.

Suatu hari saya mendapat laporan dari daycare Jordy. Gurunya bilang dia sedang sensitif dan tidak mau didekati, Jordy menolak berbagi bangku dengan temannya. Otak saya pun langsung memutar memori, apa yang terjadi sejak pagi, malam dan beberapa hari kemarin, ya? Yang berpotensi mengoyak kenyamanan hati dia.

3 Hal Sederhana yang Dilakukan Orangtua Tapi Berharga untuk si Kecil - Mommies Daily

Ternyata, hampir seminggu belakangan ayahnya sedang pulang larut malam, malah di atas jam 12 malam! Sejenak Jordy sedang kangen dengan ayahnya. Ya walau sehari-hari, tetap aja sih, bundanya yang dicariin melulu, hahaha.

Tapi kalau sudah sama ayahnya, bonding mereka seru bukan kepalang. Yang paling khas, mirip seperti dua atlet gulat profesional, bedanya mereka lakukan di atas kasur yang aman.

Saya tak mau kejadian yang dilaporkan guru Jordy berulang di kemudian hari. Butuh intervensi lebih lanjut dari hari ke hari. Sesuatu yang effortless, bisa dilakukan bergantian atau bareng sama pasangan, sesuatu yang sederhana namun tetap membekas buat anak, dan kelak bakal diingat sampai besar.

Ubah pola komunikasi

Kita tuh sering lupa nggak sih, sebagai orangtua mikirnya, “Anak harus selalu nurut. Dia yang harus mendengarkan kita.” Hallooo, bukannya anak itu juga manusia, ya, bapak-bapak dan ibu-ibu? Punya perasaan yang juga bisa terluka kalau nggak didengarkan apa maunya.

Dari yang sifatnya terus-terusan menasihati, ubah menjadi refleksi pengalaman. Awalnya kita masih sering akan ngomong gini: “Nah, kan berdarah, apa bunda bilang makanya jangan ngebut main sepedanya.”

Ubah menjadi: “Dulu mama senang ngebut kalau main sepeda. Tapi kalau terlalu kencang, mama jadinya capek. Kalau lelah Mama jadi kurang waspada dan mudah jatuh. Jadinya mama istirahat kalau capek, dan nggak ngebut lagi.”

Ngobrol tentang sesuatu yang baru

Jordy selalu suka kalau saya “menyetor” cerita seru di kantor. Binar mata, raut muka dan tubuhnya seakan ikut berupaya mendengarkan cerita receh saya, tapi sangat dia sukai. Namun adakalanya saya kehabisan cerita dong, alias mati gaya

Sampai kepikiran tentang Susu UHT Greenfields kemasan kecil. Di balik tiga jenis ukuran kemasan, 125 ml, 200 ml & 250 ml, saya punya banyaaak cadangan cerita. Diawali dari sumber susu Greenfields yang berasal dari sapi perah di peternakan milik Greenfields sendiri. Susunya diperah menggunakan alat perah otomatis seperti robot canggih. Semua alat-alatnya bersih dan steril sehingga nggak ada si bakteri nakal yang nempel di susu, jadi aman diminum sama Jordy.

3 Hal Sederhana yang Dilakukan Orangtua Tapi Berharga untuk si Kecil - Mommies Daily

Dalam prosesnya, kan, banyak kesempatan kita buat interaksi. Saling menimpali cerita, Jordy tanya ini itu, dan sebagainya.

Pas lagi cari fakta lainnya tentang susu UHT Greenfields, saya makin yakin akan membekali dia dengan kemasan yang paling kecil, 125 ml. Cocok buat dia konsumsi selama di daycare atau saat bepergian. Sudah bisa ditebak sih, paling suka rasa Choco Malt, tapi boleh dong, saya kenalkan dengan Full Cream dan Strawberry.

Oh iya, di antara mommies tahu nggak UHT (Ultra High Temperature) telah melalui proses pemanasan singkat, sampai di tahap tidak ada bakteri sama sekali di dalam susu, kemudian dikemas secara aseptik dalam kemasan yang steril. Karena itu susu dapat disimpan pada suhu ruangan selama 9 bulan tanpa menggunakan bahan pengawet apapun lho mommies.

Satu lagi, bentuk kemasan Susu UHT Greenfields unik, seperti bersegi delapan. Mungil dan paaas untuk digenggam tangal mungil kesayangan kita. Sedotannya pun unik, menggunakan telescopic straw. Ada teknik khusus sebelum menggunakannya, menarik kedua ujung sedotan hingga terasa ‘klik’nya, artinya sedotan sudah mengunci. Saya pikir-pikir lumayan juga setiap kali akan memasang sedotan Susu UHT Greenfields Jordy-ku sebenarnya sedang melatih gerakan motorik halusnya.

Semua rangkaian tersebut dilakukan di pabrik sendiri, terintegrasi dan terbesar se-Asia Tenggara (kemarin saya google-ing berita tentang Greenfields hihihi…). Nah di poin ini, memungkinkan mengenalkan ilmu geografis ke anak, kan? Tambaaah seru deh ngobrolnya.

Semua fakta tadi sangat memungkinkan mommies balut dalam cerita menarik. Ide kreatif pasti muncul pas anak makin excited mendengarkan cerita kita. Pastikan pas lagi ngobrol terjadi kontak fisik berupa sentuhan atau pelukan, jangan lupa matikan gadget ya.

Tanya kabarnya

Hal ini sekaligus mengenali bentuk emosi anak. Misalnya setelah jemput Jordy dari daycare, saya tanya: “Gimana hari ini di sekolah dan daycare? Jordy senang nggak?” Saya singkirkan dulu pertanyaan soal akademis. Ketika sudah mengantongi apa sih yang mendominasi perasaan di hari itu, jangan lupa, tanya alasan apa yang membuat dia senang atau sebaliknya, karena akan berdampak ke tema obrolan selanjutnya. Nggak mungkin, kan, lagi bad mood nanya lebih detail soal pelajaran?

Mungkin ada yang mau menambahkan?

 


Post Comment