Panduan Screen Time yang Aman untuk Balita

Saat hamil, saya adalah satu dari banyak ibu yang bertekad tidak akan memberi gadget pada anak. Setelah melahirkan, saya adalah satu dari banyak ibu yang menyerah dan akhirnya memberi gadget juga pada anak hahahaha.

Saya Mengizinkan Anak Saya Bermain Gadget, Lantas Kenapa

Karena sungguh saya tidak sanggup mengurus anak tanpa jeda sama sekali selama 24 jam. Dua kali 24 jam sih sebetulnya kan hanya Sabtu dan Minggu. Tapi tetap saja tidak sanggup.

Jadilah Xylo (4 tahun) saya beri screen time hanya saat weekend. Sekadar 1-2 jam di mana saya juga bisa melakukan hobi melukis. Yes, screen time for mommy’s me time.

Tapi memberi screen time tentu ada panduannya. Jangan sampai anak malah jadi ketergantungan dan hanya bisa anteng hanya dengan gadget. Anak perlu belajar menguasai emosi jadi menenangkannya dengan gadget sebetulnya mengajarkan anak untuk mengalihkan emosi BUKAN menguasainya.

Cek jenis tontonan

SELALU nonton dulu bersama jenis tontonan sebelum membiarkan anak menonton sendiri. Saya agak kaget ketika kemarin mengobrol dengan seorang ibu yang bilang film favorit anaknya (3 tahun) adalah Spongebob Squarepants. Saya tidak berkomentar apapun pada ibu itu tapi bagi saya jelas, Spongebob tidak cocok untuk balita.

Ini bergantung value keluarga masing-masing juga ya. Bagi saya, Dora The Explorer saja tidak cocok apalagi Tom & Jerry hahahaha. So far Xylo hanya nonton Upin Ipin, Ryan Toys Review, dan Peppa Pig.

Upin Ipin itu aman sekali, sama sekali tidak ada cela kecuali anak jadi bisa logat Melayu hahahaha. Tapi hati-hati juga mommies, sekarang di YouTube banyak episode Upin Ipin yang sudah diedit jadi agak gory. Nggak ngerti banget kenapa ada orang niat ngedit video Upin Ipin jadi berdarah-darah gitu huhu.

Peppa Pig sebetulnya saya kurang suka karena mereka semua sering fat shaming Daddy Pig dengan sebutan gendut. Tapi setelah nonton ini, Xylo jadi bisa merangkai kalimat dalam bahasa Inggris karena pronounciation keluarga Peppa yang sangat jelas (dan dengan aksen British hahaha).

Batasi waktunya dan buat aturan jelas

Aturan soal waktu sangat sangat penting. Karena kalau tidak bisa jadi anak hanya seharian saja nonton dan tidak mau melakukan hal lain. Buat aturan dan sepakati dengan anak. Agar anak lebih mudah paham konsep waktu, beri alarm dan beritahu “mama set ini 1 jam, setelah ini berbunyi kita main yang lain ya”.

Nah tapi agar anak disiplin, kita juga yang harus patuh pada aturannya. Sekali kendor maka anak tahu bahwa ada kesempatan untuk kendor lagi di lain waktu.

Bagi saya, yang terbaik adalah membuat screen time sebagai privilege. Sebagai sesuatu yang memang ditunggu. Misal boleh nonton satu jam setelah bermain satu jam, makan, dan mandi. Kalau di kasus saya, baru boleh nonton setelah les berenang, kalau tidak les berenang di hari Sabtu maka hari Minggu tidak boleh nonton. Ia jadi semangat les demi bisa nonton.

Hubungkan dengan dunia nyata

Yang mengkhawatirkan dari terlalu banyak screen time adalah kurangnya interaksi karena semua hanya satu arah. Untuk menyiasatinya, saya biasanya bertanya seputar tontonan yang baru selesai ia tonton. Pertanyaannya bisa seputar “tadi nonton apa?” “Ceritanya gimana?” “Kok bisa ya?” “Teman kamu pernah kaya gitu nggak sih?” “Eh kita pernah juga lho kaya gitu waktu di rumah nenek”, dll.

Dan jangan lupa jadi role model! Nggak lucu banget kita melarang anak main gadget atau nonton sementara kita sendiri bukannya menemani bermain malah scroll Instagram. Monkey see monkey do. Be a good monkey hahahaha.

Kalau sudah ketergantungan harus bagaimana?

AMBIL GADGETNYA. Buat aturan yang tegas. Ia akan menangis dan kecewa tapi tidak akan lama selama kita tegas. Anak harus tau siapa pembuat aturan dan bagaimana disiplin untuk menaatinya. Good luck, moms!


Post Comment