Tak Usah Ada Sepak Bola dalam Hidup Anak Saya

“Kalau menang berprestasi, kalau kalah jangan frustasi,” penggalan lagu “Meraih Bintang” yang dinyanyikan Via Vallen itu ternyata memang harus diresapi benar-benar setelah satu lagi suporter sepak bola meregang nyawa karen pertandingan.

F70BA6AD-40A4-404C-9BDD-679E336DEEAB

Saya tak habis pikir. Sebelumnya yang tertanam dalam pikiran saya ketika ada suporter bola dipukuli adalah karena marah ketika timnya kalah. Namun ternyata tidak ya. Nyatanya meski (pada akhirnya) Persib menang 3-2 atas Persija, satu suporter Persija bernama Haringga Sirla tewas dikeroyok massa suporter Persib di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Jangan kaget, kejadian seperti ini sering sekali terjadi. Malah baru bulan Juli lalu, suporter PSS Sleman juga meninggal dunia karena dikeroyok suporter PSIM Yogyakarta. Bahkan setahun yang lalu, di tempat yang sama dengan Haringga, suporter Persib bernama Ricko atau akrab disapa Bule juga meninggal dunia. Dipukuli siapa? Dipukuli sesama suporter Persib juga.

Jika ditotal, ada 59 suporter sepak bola yang meninggal dunia sejak tahun 1995. Dalam 23 tahun ada 59 yang meninggal saat menonton pertandingan, bukankah itu keterlaluan banyaknya? Satu pun bahkan sudah terlalu banyak.

Suami saya juga suka sepak bola. Lahir dan besar di Bandung, ia tentu hafal benar semua tentang Persib dan seluk beluknya. Ia juga rutin bermain sepak bola dengan teman-teman kantornya. Setiap pertandingan tak pernah dilewatkan.

Tapi pagi itu, malam setelah Haringga meninggal dunia, suami memutuskan “kita kayanya nggak usah kenalin sepak bola ke Xylo (anak kami). Mulai sekarang aku akan nonton bola diem-diem aja nggak akan ajak dia lagi,” katanya. Saya setuju.

Suka tidak suka, tidak semua suporter olahraga itu fanatik. Sepak bola sialnya jadi salah satu yang fanatismenya selevel dengan agama. And fanaticism kills.

Namanya kompetisi ya, mau tidak mau ada menang kalah. Kalah pasti ada perasaan kecewa, tidak mungkin tidak ada sama sekali. Ketika fansnya fanatik dan fanatik berombongan, tak heran jadi “senggol bacok”, mudah terprovokasi, dan akhirnya main keroyokan. Berani karena beramai-ramai toh?

Sepak bola, dengan berbagai yel-yel (atau chant) suporter yang terus digaungkan kan mau tidak mau jadi kecintaan berlebihan. Apalagi bagi masyarakat kelas bawah yang tidak punya hiburan lain. Satu-satunya hiburan mereka ya sepak bola, sepak bola jadi segalanya. Dicombo dengan hormon remaja tanggung yang merasa bisa menaklukkan dunia, semua jadi berani dilawan.

Apa yang dilakukan PSSI? Mereka meminta maaf dan berduka tentu saja. Tapi ah, beberapa waktu lalu saja ketua umum PSSI Edy Rahmayadi viral karena videonya menampar suporter menyebar di mana-mana. Melegalkan kekerasan?

Sungguh saya lelah. Untuk apa olahraga kalau ujungnya nyawa orang harus melayang.

Sudahlah sementara, tak usah ada sepak bola dan tetek bengeknya di hidup anak saya. Nanti mungkin, nanti kalau atmosfernya sudah lebih damai, baru kita kenalkan lagi pada dunia sepak bola. Sebelum itu terjadi, kita olahraga yang lain dulu saja. Ada yang setuju?


Post Comment