Kerja Paruh Waktu Saat Punya Bayi, Ternyata Lebih Tricky!

Ditulis oleh: Rachel Kaloh

Kebetulan, saya adalah seorang freelancer new mom. Yuk, ikutan sama saya jalanin tips berikut ini. Lebih tricky memang, tapi kan, namanya juga ibu…. multitasking is in our middle name, right?

Full-time-working-new-mom itu kan kalau dilihat dari segi waktu, mereka bekerja di kantor dengan jam yang jelas, bagaimana dengan part-time-working-new-mom alias freelancer, atau ibu yang bisa dibilang jam kerjanya tidak pasti? Saya mau berbagi tips berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Persiapkan dengan matang

Semenjak jadi ibu, jujur, rasanya otak seperti diajak berlari setiap hari. Bagaimana enggak, sebelum punya anak, meski judulnya paruh waktu, realitanya, saya bisa bekerja seharian di rumah. Jadi, layaknya full-time-working-mom, saya yang ibu freelancer juga perlu mempersiapkan beberapa hal sebelum kembali aktif bekerja, seperti:

1. “Surat Izin Suami”. Pastikan suami memahami niat kita yang tetap ingin bekerja dari rumah. Kalau sudah dapat izin dan dukungan, buktikanlah dengan bertanggung jawab menjalani pekerjaan Anda, termasuk nanti saat harus mengatur waktu ketika meninggalkan si kecil untuk bekerja di luar dan menghadiri meeting.

2. Ngobrol baik-baik sama kedua orangtua, karena saya berniat menitipkan si kecil sama Oma dan Opanya, saat keluar rumah. Nah, bagaimana dengan Anda? Bila memang dirasa perlu bantuan asisten rumah tangga, kejar dan carilah segera, kalau perlu sebelum melahirkan, supaya ada waktu untuk beradaptasi.

3. Day Care juga bisa jadi pilihan. Cari tahu informasi Day Care yang dekat dari rumah, atau setidaknya searah dengan tempat Anda beraktivitas.

Hak cuti tetap sama

Meski bukan pekerja yang resmi berada di bawah sebuah perusahaan, pastikan untuk tetap memberlakukan cuti melahirkan. Bagaimanapun, seorang ibu baru perlu yang namanya penyesuaian diri pasca-melahirkan. Jadi, jangan lupa informasikan perihal cuti kepada klien, vendor, maupun rekan kerja. Lakukan ini dari jauh hari, supaya ada waktu untuk mereka mencarikan pengganti selama Anda cuti.

Kerja Paruh Waktu Saat Punya Bayi, Ternyata Lebih Tricky! - Mommies Daily

Stok ASIP tetap diperlukan

Dari sisi pemberian ASI, saya bersyukur nggak perlu stok sebanyak ibu-ibu kantoran, karena saya tetap mengusahakan untuk direct breastfeeding saat di rumah. Tapi bukan artinya nggak perlu stok ASIP banyak-banyak, karena ada kalanya saya harus keluar rumah seharian. Tricky? Sudah pasti! Kalau bekerja di kantor, kan, pilihannya hanya pompa saat payudara lagi penuh, sedangkan kalau di rumah, juggling antara harus nenenin atau pumping saja buat stok. Rasanya gimanaa…. gitu, pumping di depan anak. Saya juga nggak jarang ajak si kecil ngomong, “Ini Mama pompa dulu ya, buat kamu besok, Nak!”, kadang kasihan sih, karena mau nggak mau si kecil harus menghisap payudara yang udah kosong habis dipompa, tapi toh dia nggak akan kehabisan ASI yang terus berproduksi, so, we don’t need to feel guilty!

Manajemen waktu

Mungkin sama halnya dengan masak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya yang perlu curi-curi waktu, bedanya, ibu-ibu freelancer ini tetap dikejar sama yang namanya DEADLINE! Kalau cucian bisa ditinggal sehari, dua hari, tiga hari, kalau DEADLINE mundur, siap-siap gigit jari, akibat kontrak yang nggak diperpanjang lagi. Jadi, manfaatkanlah waktu yang ada saat si kecil tidur. Kalau saya, sih, sebagai freelance writer, jurusnya supaya nggak harus ngebut mikirin ide saat harus menulis, saya pikirin dulu outline tulisan di kepala sambil nenenin si kecil, begitu dia bobo, saya tinggal buka laptop, lalu ketik ide saya tersebut.

Work with your gadget!

Selain buat menghibur diri scrolling Instagram dan online shopping, jangan lupa kalau gadget kita juga punya manfaat membantu kita bekerja. Nggak hanya sekadar cek email, kita juga bisa melakukan pekerjaan lain seperti menulis, mengedit tulisan, mendesain, keeping up with clients dan lain-lain. Gunakan aplikasi yang mendukung pekerjaan kita, supaya kita nggak 100% bergantung pada laptop. Kalau sambil menyusui saja kita bisa upload foto, kenapa nggak sekalian dimanfaatkan untuk cek kerjaan?

Lebih fleksibel

Saat saya harus menghadiri meeting pagi-pagi, biasanya hari itu langganan ‘grasak-grusuk’, antara harus mandiin si kecil lebih awal, siapin pompa ASI, cuci bersih, steril, masukkin ke dalam tas, siapain ASI yang mau dibawa dari kulkas, pindahin dari kantong plastik ke botol, drop si kecil di rumah Oma-nya, lanjut nebeng suami sampai mendekati tempat meeting, syukur-syukur nggak ada barang yang ketinggalan (fingercrossed). Pastikan kita sudah bicarakan rencana ini dengan suami dari malam sebelumnya. Segala risiko bisa diminimalkan selama kita dan pasangan juga kompak saat mengatur waktu. Toh hal ini nggak terjadi setiap hari. Justru saya kagum sama para full-time-working-mom, yang harus menghadapi ritual ini setiap pagi.

Jadi.. selamat mencoba tips ini. Semangat, ya, Moms, baik full-time-working-mom, part-time-working-mom, karena apapun yang menjadi pilihan kita, we are still the best Mom for our children.


Post Comment